Mengaku Kristen Saja Tidak Cukup, Ini “Rumus” Pembuktiannya

Menyandang status sebagai pengikut Kristus menuntut lebih dari sekadar pengakuan di bibir, melainkan membutuhkan sebuah pembuktian nyata melalui ketaatan yang radikal; sebagaimana firman-Nya kepada orang-orang Yahudi yang percaya kepada-Nya: “Jikalau kamu tetap dalam firman-Ku, kamu benar-benar adalah murid-Ku” (Yohanes 8:31).

Penulis: Albert Santoso

Seorang rekan saya mengelola sebuah bimbingan belajar (bimbel) Matematika yang menyasar siswa SD dan SMP. Ia bukan sekadar pemilik usaha; selain mengelola operasional dan staf, ia meracik sendiri kurikulum dan metode pengajaran khusus. Tujuannya satu: menciptakan sebuah “rumus” agar para muridnya dapat menaklukkan ketakutan mereka dan menguasai Matematika dengan lebih mudah.

Suatu ketika, reputasi lembaga tersebut diuji. Seorang oknum tak bertanggung jawab berusaha mencemarkan nama baik tempat kursus itu dengan menyebarkan narasi di media massa dan jejaring sosial. Ia mengklaim bahwa ada seorang anak yang tidak naik kelas, padahal anak tersebut adalah peserta didik di bimbel milik rekan saya. Meski bantahan resmi telah dikeluarkan, pepatah bahwa “kabar buruk menyebar lebih cepat” terbukti benar; berita miring itu telanjur menjadi konsumsi publik.

Baca Juga Artikel:  Refleksi Seruan KWI pada 118 Tahun Kebangkitan Nasional: Menggugat Nurani dan Membumikan Pengharapan Bangsa

Alih-alih sekadar berdebat di ranah publik, rekan saya mengambil langkah pembuktian yang cerdas. Ia memanggil anak yang fotonya beredar di media tersebut dan memberikannya sejumlah soal Matematika. Tujuannya bukan untuk menguji kecerdasan sang anak, melainkan untuk melihat cara ia menyelesaikan masalah. Terbuktilah kebenarannya: anak tersebut mengerjakan soal-soal itu menggunakan metode yang sama sekali berbeda dengan kurikulum khusus yang diajarkan di bimbel. Fakta ini menjadi bukti tak terbantahkan bahwa anak itu sejatinya bukanlah murid dari lembaga milik rekan saya.

Kisah ini adalah cerminan akurat dari kehidupan spiritual kita. Sama seperti bimbel tersebut memiliki metode penyelesaian soal yang khas, inti dari ajaran Yesus Kristus juga memiliki sebuah metode mutlak: Hukum Kasih.

Banyak orang bisa dengan mudah mengklaim diri mereka sebagai pengikut Kristus, layaknya anak yang diklaim sebagai murid bimbel tersebut. Namun, identitas sejati kita tidak diukur dari seberapa keras kita mengaku, melainkan dari cara kita “menyelesaikan” berbagai persoalan hidup. Jika kita benar-benar murid Sang Guru, maka tindakan, tutur kata, dan respons kita haruslah mencerminkan metode-Nya. Kita dipanggil untuk mengamalkan kasih kepada semua orang tanpa pandang bulu. Sebaliknya, keengganan untuk menghidupi Hukum Kasih adalah bukti paling nyata bahwa kita belumlah menjadi murid-Nya yang sejati.

Baca Juga Artikel:  DI ANTARA RERUNTUHAN BENCANA: SAAT KITA LUPA BERDIRI DAN MENATAP

Mari terus berjuang agar kehidupan kita senantiasa selaras dengan ajaran Sang Guru Agung.

Doa: Ya Tuhan, terima kasih karena Engkau telah memberikan perintah dan ketetapan sebagai penuntun langkah kami. Ampunilah kami, Bapa, jika karena kelemahan daging ini, kami kerap mengabaikan dan melanggar perintah-Mu. Penuhilah kami dengan Roh Kudus-Mu, agar kami senantiasa dimampukan untuk taat, hidup di dalam kasih, dan melangkah sesuai dengan kehendak-Mu. Dalam nama Yesus kami berdoa. Amin.


Veritas Indonesia berkomitmen untuk terus menghadirkan tulisan-tulisan yang meneguhkan iman dan menyuarakan kebenaran. Kami mengundang Anda, para pembaca setia, untuk turut mendukung operasional pelayanan ini melalui donasi ke rekening BCA 6440054739 a.n. Lucia Margaretha Audrey Niron (Bendahara Veritas Indonesia). Agar donasi Anda dapat kami terima dan catat dengan baik, mohon kirimkan bukti transfer kepada Editor Konten kami, Maria Frani Ayu, di nomor 081230038196. Sedikit dari Anda adalah wujud nyata kebersamaan dalam pelayanan ini.

Maria Frani Ayu Andari Dias
Maria Frani Ayu Andari Diashttps://www.veritasindonesia.id/
Editor Content di Veritas Indonesia, Penulis dan Pengajar Ilmu Keperawatan Jiwa di Institut Kesehatan Suaka Insan.

Related Articles

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

spot_img

Terbaru

Populer