Mekanisme Koping Manusia Modern: Menjadikan Realita Sebagai Lelucon

Jika air mata dan kemarahan tak lagi mampu mengubah realita yang absurd, mungkin Hidup di Dalam Dunia Penuh Komedi adalah satu-satunya cara kita merayakan ketidaksempurnaan sambil tetap menjaga kewarasan.


Penulis: Albert Santoso

Sadarkah Anda bahwa kita mungkin sedang bermain di dalam sebuah panggung komedi raksasa? Saat mendengar pertanyaan ini, dahi Anda mungkin berkerut. Namun, mari kita telaah sejenak. Komedi, pada hakikatnya, adalah seni menertawakan hal-hal yang meleset dari kelaziman, sebuah pertunjukan ringan yang mengeksploitasi kelucuan di balik sebuah kekeliruan.

Dalam sebuah sketsa komedi, tawa justru lahir dari rentetan kesalahan dan ekspektasi yang dipatahkan. Bayangkan seseorang yang tiba-tiba menangis tersedu-sedu di tengah obrolan serius. Lawan bicaranya tentu kebingungan dan melontarkan rentetan simpati. Namun, alih-alih menjawab, orang tersebut hanya menunjuk ke bawah—ternyata kakinya sedang terinjak oleh sang lawan bicara. Kejutan dari ekspektasi yang dipatahkan oleh realita konyol inilah yang memicu gelak tawa penonton.

Jika kacamata itu kita pakai untuk melihat dunia nyata, realita kita pun tak kalah “konyolnya”. Bukankah sebuah ironi besar—atau mungkin komedi gelap—ketika seorang ibu tunggal banting tulang membesarkan anak-anaknya hingga sukses, namun di masa tuanya ia justru diserahkan ke panti jompo dengan dalih kesibukan? Atau, betapa absurdnya melihat seseorang yang sangat kompeten di bidangnya harus tersingkir oleh kandidat nirpengalaman yang kebetulan memiliki privilese koneksi “orang dalam” di sebuah perusahaan?

Baca Juga Artikel:  Napas Kemanusiaan: Merawat Solidaritas di Bangsal Kesembuhan dan Kehidupan

Di tengah hiruk pikuk dunia yang menuntut keseriusan agar kita bisa mencapai tujuan, kenyataan sering kali menyajikan plot yang tak terduga. Entah karena kelalaian manusia (human error) atau faktor lain di luar kendali kita, harapan idealis kerap bertabrakan dengan realita. Kita menaruh ekspektasi yang terlampau besar pada ambisi kita. Akibatnya, ketika harapan itu kandas, yang dituai hanyalah rasa kecewa, tak percaya, dan amarah.

Namun, mari kita coba mengubah sudut pandang. Bagaimana jika ironi dan kepahitan tersebut kita posisikan layaknya situasi komedi yang sedang disajikan kepada kita sebagai penonton?

Ketika kita berhadapan dengan peristiwa yang tidak sejalan dengan logika akal sehat, insting pertama kita tentu menyalahkannya dan berusaha memperbaikinya. Namun, ada kalanya situasi dan kondisi sama sekali tidak memungkinkan kita untuk mengubah keadaan. Pada titik tak berdaya inilah, merespons rentetan ironi tersebut sebagai bahan lelucon menjadi pilihan yang rasional.

Dalam disiplin psikologi, hal ini dikenal sebagai teknik mekanisme koping (coping mechanism). Menjadikan kepahitan sebagai lelucon adalah cara manusia mengelola stres, mengatasi kekecewaan, dan beradaptasi dengan kondisi yang bertentangan dengan idealisme mereka. Maka, tidaklah mengherankan jika banyak acara komedi, satire, atau stand-up comedy saat ini yang menjadikan keanehan-keanehan sosial masyarakat sebagai materi utama. Tayangan tersebut sukses besar karena ia menyuarakan dan menertawakan rasa frustrasi kita bersama.

Baca Juga Artikel:  Menjadi Manusia Prapaskah: Menemukan Diri yang Autentik di Tengah Kebisingan Digital

Pada akhirnya, kita berhak untuk terus terhibur dan tertawa meskipun hidup di dunia yang penuh dengan kecacatan. Ketika kita ingin mengubah sesuatu yang mustahil untuk diubah, marilah kita ubah rasa kecewa tersebut menjadi lelucon yang melegakan. Sebab, selama kita masih bisa menertawakan tragedi dan kejadian yang membuat kita kecewa, itu berarti kita masih menggenggam erat kewarasan kita.


Veritas Indonesia berkomitmen untuk terus menghadirkan tulisan-tulisan yang meneguhkan iman dan menyuarakan kebenaran. Kami mengundang Anda, para pembaca setia, untuk turut mendukung operasional pelayanan ini melalui donasi ke rekening BCA 6440054739 a.n. Lucia Margaretha Audrey Niron (Bendahara Veritas Indonesia). Agar donasi Anda dapat kami terima dan catat dengan baik, mohon kirimkan bukti transfer kepada Editor Konten kami, Maria Frani Ayu, di nomor 081230038196. Sedikit dari Anda adalah wujud nyata kebersamaan dalam pelayanan ini.

Maria Frani Ayu Andari Dias
Maria Frani Ayu Andari Diashttps://www.veritasindonesia.id/
Editor Content di Veritas Indonesia, Penulis dan Pengajar Ilmu Keperawatan Jiwa di Institut Kesehatan Suaka Insan.

Related Articles

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

spot_img

Terbaru

Populer