Jakarta, Veritas Indonesia — Jakarta menjadi pusat perjumpaan Gereja Katolik Asia ketika lebih dari 120 kardinal dan uskup dari berbagai negara berkumpul untuk mengikuti Sidang Pleno XII Federasi Konferensi-Konferensi Waligereja Asia (Federation of Asian Bishops’ Conferences/FABC) yang berlangsung pada 20–26 Juli 2026.
Mengusung tema “Panggilan Konversi Sinodal dan Misi Menjadi Jembatan dan Pembangun Jembatan di Asia,” sidang ini menjadi momentum penting bagi Gereja-Gereja di Asia untuk memperdalam semangat sinodalitas sekaligus meneguhkan komitmen membangun persaudaraan, dialog, dan harapan di tengah keberagaman budaya, agama, serta berbagai tantangan yang dihadapi benua ini.
Perayaan Ekaristi pembukaan pada 21 Juli dipimpin oleh Kardinal Oswald Gracias, Uskup Agung Emeritus Bombay, India, yang ditunjuk oleh Paus Leo XIV sebagai Utusan Khusus untuk sidang tersebut. Diselenggarakan oleh Keuskupan Agung Jakarta di Hotel Mulia Senayan, Sidang Pleno XII mempertemukan para pemimpin Gereja dari seluruh Asia untuk bersama-sama berdoa, berdiskresi, dan merumuskan arah perjalanan misi Gereja di kawasan ini.
Lebih dari 120 kardinal dan uskup hadir mewakili 22 konferensi waligereja dan yurisdiksi gerejawi anggota FABC. Delegasi datang dari Bangladesh, India, Pakistan, Sri Lanka, Jepang, Korea Selatan, Taiwan, Myanmar, Malaysia, Singapura, Brunei Darussalam, Filipina, Thailand, Vietnam, Timor-Leste, Indonesia, Laos, Kamboja, Hong Kong, Makau, Nepal, Asia Tengah, serta Gereja-Gereja Katolik Timur, yakni Syro-Malabar dan Syro-Malankara. Turut hadir pula perwakilan Takhta Suci, para teolog, pakar, fasilitator, moderator, pengamat, dan anggota Sekretariat FABC.
Menjawab Tantangan Asia dengan Semangat Sinodal
Tema Sidang Pleno XII terinspirasi dari sabda Yesus dalam Injil Yohanes 1:50, “Engkau akan melihat hal-hal yang lebih besar daripada itu.” Tema ini mengajak Gereja di Asia untuk menjalani pertobatan yang terus-menerus sekaligus menjadi pembangun jembatan di tengah masyarakat yang majemuk.
Juru Bicara Sidang, Uskup Marcelino Antonio “Junie” Maralit Jr. dari Keuskupan San Pablo, Filipina, menjelaskan bahwa tema tersebut memiliki dua dimensi yang tidak dapat dipisahkan.
Dimensi pertama adalah konversi sinodal, yakni proses pertobatan pribadi maupun bersama yang membentuk Gereja semakin partisipatif, misioner, transparan, dan semakin terbuka terhadap bimbingan Roh Kudus.
Dimensi kedua adalah panggilan Gereja untuk menjadi jembatan dan pembangun jembatan di tengah realitas Asia yang kaya akan budaya, agama, bahasa, dan etnis, tetapi juga menghadapi kemiskinan, konflik, migrasi, krisis lingkungan, serta perubahan sosial yang berlangsung sangat cepat.
Sidang ini juga berlangsung dalam momentum penting perjalanan Gereja universal, setelah Konferensi Umum FABC 50 Tahun dan Dokumen Bangkok (2023), Dokumen Akhir Sinode tentang Sinodalitas (2024), Tahun Yubileum Harapan (2025), serta awal masa kepausan Paus Leo XIV. Keseluruhan peristiwa tersebut semakin meneguhkan komitmen Gereja untuk menghidupi sinodalitas sebagai cara hidup dan bermisi.
Sebuah Pengalaman Sinodal
Menurut P. John Mi Shen, Sekretaris Eksekutif Kantor Komunikasi Sosial FABC, Sidang Pleno XII bukan sekadar forum pertemuan para uskup.
“Sidang ini merupakan kesempatan bagi Gereja-Gereja di Asia untuk saling mendengarkan, berdiskresi bersama, memperbarui komitmen misioner, dan berbagi buah-buah refleksi dengan umat Katolik di seluruh Asia,” ujarnya.
Karena itu, seluruh rangkaian sidang dirancang sebagai sebuah pengalaman sinodal, bukan sekadar konferensi.
Selama sepekan, para peserta akan mengikuti doa bersama, perayaan Ekaristi, refleksi rohani, discernment, Conversations in the Spirit, sidang pleno, pertemuan regional, hingga percakapan kelompok. Melalui proses tersebut, para peserta diajak untuk saling mendengarkan dan bersama-sama mencari kehendak Roh Kudus bagi Gereja di Asia.
Sidang ini diharapkan menghasilkan dua dokumen penting, yakni Vademecum tentang Sinodalitas di Asia sebagai pedoman pastoral bagi Gereja-Gereja lokal, serta Pesan kepada Gereja di Asia yang merangkum refleksi, harapan, dan arah bersama Gereja Asia di masa depan.
Agenda Penting Sidang
Selain kehadiran Kardinal Oswald Gracias sebagai Utusan Khusus Paus, Kardinal Luis Antonio Tagle, Pro-Prefek Dikasteri Evangelisasi, dijadwalkan memimpin hari rekoleksi pembuka. Sementara itu, Kardinal Mario Grech, Sekretaris Jenderal Sekretariat Umum Sinode, akan menyampaikan pidato utama bertajuk “Jalan-Jalan Penerapan Sinode.”
Para peserta juga akan menyaksikan pesan video dari Paus Leo XIV yang akan diputar selama sidang berlangsung.
Sidang Pleno XII akan ditutup pada 26 Juli dengan Perayaan Ekaristi di Katedral Santa Perawan Maria Diangkat ke Surga, Jakarta. Setelah itu, para delegasi akan mengunjungi Masjid Istiqlal dan berjalan melewati Terowongan Silaturahmi yang menghubungkan katedral dengan masjid. Kunjungan tersebut menjadi simbol nyata komitmen Indonesia dalam membangun dialog, persaudaraan, dan kerukunan antarumat beragama.
Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Agama turut memberikan dukungan penuh terhadap penyelenggaraan sidang ini. Menteri Agama Nasaruddin Umar bahkan memimpin rapat koordinasi lintas lembaga pada 7 Juli untuk memastikan keamanan dan kenyamanan seluruh delegasi selama berada di Indonesia.
Sidang Pleno merupakan forum pengambilan keputusan tertinggi FABC yang biasanya diselenggarakan setiap empat tahun. Sidang pertama berlangsung di Taipei, Taiwan, pada 1974, sedangkan sidang terakhir sebelum Jakarta diselenggarakan di Kolombo, Sri Lanka, pada 2016 dengan tema “Keluarga Katolik di Asia: Gereja Rumah Tangga Kaum Miskin dalam Misi Kerahiman.”
Melalui Sidang Pleno XII ini, Gereja-Gereja di Asia diharapkan semakin memperkuat semangat sinodal, memperdalam kerja sama lintas negara, serta menghadirkan kesaksian sebagai pembangun jembatan dialog, perdamaian, dan harapan di tengah masyarakat Asia yang terus mengalami perubahan. Di tengah berbagai tantangan yang dihadapi kawasan ini, para uskup Asia ingin menegaskan kembali bahwa Gereja dipanggil bukan untuk membangun tembok pemisah, melainkan menjadi jembatan yang menghubungkan manusia dengan Allah dan sesama.
Veritas Indonesia akan terus mengikuti dan melaporkan perkembangan Sidang Pleno XII FABC di Jakarta hingga penutupan pada 26 Juli 2026.
Veritas Indonesia berkomitmen untuk terus menghadirkan tulisan-tulisan yang meneguhkan iman dan menyuarakan kebenaran. Kami mengundang Anda, para pembaca setia, untuk turut mendukung operasional pelayanan ini melalui donasi ke rekening BCA 6440054739 a.n. Lucia Margaretha Audrey Niron (Bendahara Veritas Indonesia). Agar donasi Anda dapat kami terima dan catat dengan baik, mohon kirimkan bukti transfer kepada Editor Konten kami, Maria Frani Ayu, di nomor 081230038196. Sedikit dari Anda adalah wujud nyata kebersamaan dalam pelayanan








