Uskup Maksimus Regus: “Festival boleh berhenti, tetapi semangat persaudaraan, solidaritas, dan kepedulian harus tetap menyala”
LABUAN BAJO, Veritas Indonesia — Keuskupan Labuan Bajo menghentikan seluruh rangkaian acara penutupan Festival Golo Koe Maria Assumpta Nusantara 2026 yang sedianya digelar Sabtu sore, 15 Agustus 2026, di Waterfront City Labuan Bajo. Keputusan tersebut diambil beberapa jam setelah gempa bumi kuat mengguncang Pulau Flores dan menimbulkan korban jiwa serta kerusakan di sejumlah wilayah.
Dalam Pernyataan Resmi Nomor 201/11.1-KLB/VIII/2026, Uskup Labuan Bajo Mgr. Maksimus Regus mengatakan keputusan itu diambil bersama Panitia Festival Golo Koe 2026 dan pihak-pihak terkait dengan mempertimbangkan situasi pascagempa, keselamatan masyarakat, serta kemungkinan terjadinya gempa susulan.
Seluruh acara penutupan dihentikan
Rangkaian penutupan yang dijadwalkan mulai pukul 17.00 WITA di Waterfront City Labuan Bajo itu mencakup Misa Penutupan Festival, konser musik dan pentas seni, pameran UMKM, serta berbagai kegiatan pendukung lainnya.
Seluruh kegiatan dihentikan demi keselamatan umat, peserta festival, pelaku UMKM, tamu undangan, panitia, relawan, petugas, dan masyarakat yang berada di sekitar lokasi.
Gempa yang mengguncang Flores pada Sabtu pagi terjadi di wilayah laut utara Flores. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) sempat mengeluarkan peringatan dini tsunami bagi sejumlah wilayah, sebelum kemudian peringatan tersebut dicabut.
Sejumlah wilayah di Flores dilaporkan mengalami kerusakan bangunan dan fasilitas umum. Proses evakuasi dan penanganan korban terus dilakukan oleh pemerintah, aparat, tim penyelamat, serta masyarakat setempat.
Data mengenai jumlah korban jiwa, korban luka, kerusakan, dan warga yang mengungsi masih terus diperbarui oleh otoritas terkait.
“Bukan keputusan yang mudah”
Mgr. Regus mengakui bahwa penghentian seluruh rangkaian penutupan Festival Golo Koe bukanlah keputusan yang mudah. Persiapan festival telah dilakukan selama berbulan-bulan dengan melibatkan banyak pihak, mulai dari umat dan paroki, pemerintah daerah, panitia, relawan, pelaku UMKM hingga berbagai mitra lainnya.
Namun, keselamatan manusia, menurut Uskup Regus, harus ditempatkan di atas seluruh agenda dan kemeriahan festival.
Lebih dari sekadar pertimbangan teknis terkait kemungkinan gempa susulan, keputusan tersebut juga merupakan bentuk empati dan solidaritas Gereja terhadap masyarakat di berbagai wilayah Flores yang terdampak bencana.
“Dalam situasi seperti ini, kita memilih untuk tidak melanjutkan kemeriahan, tetapi mengambil sikap bersama untuk menunjukkan kepedulian dan kehadiran bagi mereka yang sedang menghadapi situasi sulit,” demikian pernyataan Uskup Regus.
Ia menegaskan bahwa Festival Golo Koe tidak pernah dimaksudkan hanya sebagai perayaan iman dan budaya. Festival tersebut juga menjadi ruang untuk membangun persaudaraan, solidaritas, kebersamaan, dan kepedulian terhadap sesama.
Karena itu, dalam situasi bencana seperti sekarang, nilai-nilai tersebut justru harus diwujudkan dengan hadir bersama mereka yang sedang mengalami penderitaan.
Umat diajak tenang dan waspada
Keuskupan Labuan Bajo mengimbau seluruh umat, masyarakat, peserta festival, pelaku UMKM, tamu undangan, dan semua pihak yang telah mendukung penyelenggaraan Festival Golo Koe 2026 untuk menerima keputusan tersebut dengan penuh pengertian.
Umat juga diminta tetap tenang dan waspada, mengikuti informasi serta arahan resmi dari pemerintah dan pihak berwenang, serta mengutamakan keselamatan diri dan keluarga.
Mgr. Regus menyampaikan terima kasih dan penghargaan kepada seluruh pihak yang telah bekerja keras mempersiapkan Festival Golo Koe 2026.
Secara khusus, ia menyampaikan doa dan solidaritas bagi masyarakat yang menjadi korban gempa di berbagai wilayah Flores.
Uskup Labuan Bajo juga mengajak umat memohon kekuatan dan ketabahan bagi para korban dan keluarga mereka, serta perlindungan Tuhan melalui perantaraan Maria Assumpta.
“Festival boleh berhenti,” tulis Mgr. Regus dalam penutup pernyataannya, “tetapi semangat persaudaraan, solidaritas, dan kepedulian harus tetap menyala di dalam diri kita.”
Festival yang menyatukan iman, budaya, dan kepedulian terhadap ciptaan
Festival Golo Koe Maria Assumpta Nusantara 2026 merupakan penyelenggaraan tahun kelima dan telah berkembang menjadi salah satu perayaan keagamaan dan budaya utama di wilayah Indonesia Timur.
Festival ini diselenggarakan oleh Keuskupan Labuan Bajo bersama Pemerintah Kabupaten Manggarai Barat dan berbagai pihak lainnya. Tahun ini, Golo Koe juga masuk dalam jajaran Top 10 Karisma Event Nusantara, program nasional yang mempromosikan berbagai kegiatan budaya dan pariwisata unggulan Indonesia.
Festival 2026 berlangsung sejak 10 Agustus dengan tema “Communal Pilgrimage in Synergistic Communion to Care for the Integrity of Creation” dan tagline “Walking Together, Healing the Earth.”
Tema tersebut menghubungkan devosi kepada Maria dengan panggilan untuk merawat ciptaan, sekaligus menghadirkan berbagai kegiatan keagamaan, budaya Manggarai, kepedulian lingkungan, kegiatan sosial, serta perjumpaan lintas iman dan budaya.
Salah satu kegiatan utama adalah Prosesi Maria Assumpta Nusantara, yakni perjalanan patung Maria Assumpta melalui 26 paroki di wilayah Keuskupan Labuan Bajo sebelum tiba di Labuan Bajo untuk rangkaian acara puncak festival.
Prosesi tersebut bukan hanya menjadi ungkapan devosi kepada Bunda Maria, tetapi juga dimaksudkan sebagai perjalanan iman dan persaudaraan yang mempertemukan umat dari berbagai komunitas sekaligus menghidupkan semangat solidaritas dan kepedulian terhadap lingkungan.
Dari kemeriahan menuju solidaritas
Gempa Flores memberikan makna baru yang mendalam terhadap pesan Festival Golo Koe tahun ini.
Di tengah situasi ketika sejumlah masyarakat kehilangan anggota keluarga, mengalami kerusakan rumah dan fasilitas umum, serta harus mengungsi ke tempat yang lebih aman, Gereja di Flores kini dipanggil untuk menghadirkan wajah solidaritas dan pendampingan.
Rangkaian perayaan yang semula menjadi puncak festival kini dihentikan. Sebagai gantinya, umat diajak mengarahkan perhatian kepada saudara-saudari yang sedang menghadapi penderitaan akibat gempa.
Bagi Keuskupan Labuan Bajo, keputusan tersebut menjadi bentuk nyata dari semangat berjalan bersama yang menjadi pesan Festival Golo Koe 2026.
Pada Hari Raya Maria Diangkat ke Surga, umat yang sedianya berkumpul dalam perayaan besar di Waterfront City kini diajak untuk hadir dengan cara yang berbeda: melalui doa, kepedulian, solidaritas, dan pendampingan bagi mereka yang terdampak bencana.
Festival boleh berhenti. Namun, persaudaraan tidak boleh berhenti. Solidaritas harus terus menyala.







