MAUMERE, Veritas Indonesia — Tujuh hari setelah gempa bumi berkekuatan 7,7 magnitudo mengguncang Flores pada Sabtu, 15 Agustus, masyarakat Nusa Tenggara Timur (NTT) masih hidup dalam ketakutan, sambil perlahan mulai menata kembali kehidupan di tengah kehancuran.
Data terbaru Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menunjukkan bahwa hingga Kamis (20/8) pukul 17.00 WIB, 78 orang meninggal dunia dan 907 orang mengalami luka-luka. Jumlah warga yang mengungsi telah mencapai 92.735 orang, sementara 36.163 rumah mengalami kerusakan.
Bencana ini belum sepenuhnya berakhir. Hingga Jumat (21/8) pukul 05.00 WIB, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mencatat 4.256 gempa susulan dengan magnitudo antara 1,1 hingga 6,2. Sebanyak 31 gempa susulan berkekuatan di atas magnitudo 5, sementara 118 gempa dirasakan oleh masyarakat.
Karena gempa susulan masih terus terjadi, banyak warga memilih tetap berada di tenda-tenda pengungsian dan menghindari masuk kembali ke rumah, terutama bangunan yang belum dipastikan aman.
Skala kerusakan juga semakin terlihat. Selain puluhan ribu rumah yang terdampak, sektor pendidikan mengalami kerusakan serius. Sebanyak 1.378 satuan pendidikan di tujuh kabupaten terdampak, dengan 502 sekolah dilaporkan rusak berat. Kerusakan tersebut turut mengganggu proses belajar puluhan ribu siswa.
Gempa utama berpusat di laut, sekitar 30 kilometer timur laut Mbay, Kabupaten Nagekeo, dan memicu peringatan dini tsunami yang kemudian diakhiri BMKG.
Di tengah situasi yang masih penuh ketidakpastian itu, Gereja Katolik di Flores tidak hanya hadir untuk membantu memenuhi kebutuhan darurat, tetapi juga mulai memikirkan jalan panjang pemulihan.
Bagi Mgr. Erwaldus Martinus Sedu, Uskup Maumere, yang dibutuhkan masyarakat bukan hanya bantuan untuk membangun kembali rumah dan fasilitas yang hancur, tetapi juga kekuatan untuk membangun kembali kehidupan dan harapan.
Dalam wawancara dengan Vatican News, Uskup Sedu mengatakan bahwa masyarakat masih mengalami trauma.
“Masyarakat masih trauma,” ujarnya. “Setiap kali merasakan guncangan, banyak orang masih langsung berlari keluar rumah.”
Namun, di tengah ketakutan itu, ia melihat kekuatan yang tidak ikut runtuh: solidaritas masyarakat.
“Orang-orang saling membantu tanpa memandang agama,” katanya. “Keluarga-keluarga berbagi apa yang mereka miliki, dan masyarakat bahu-membahu.”
Bagi Uskup Sedu, masyarakat memang telah kehilangan banyak hal akibat bencana ini—orang-orang tercinta, rumah, lahan, pekerjaan, dan sumber penghasilan. Tetapi ada sesuatu yang masih tetap utuh.
“Kita telah kehilangan banyak hal,” katanya. “Tetapi kita belum kehilangan satu sama lain.”






