Gempa bumi berkekuatan 7,7 SR yang mengguncang Pulau Flores pada Sabtu (15/8/2026) mengubah jalannya perayaan kaul kekal 27 frater Serikat Sabda Allah (SVD) di Seminari Tinggi Santo Paulus Ledalero, Maumere. Misa yang biasanya berlangsung di dalam kapel terpaksa dipindahkan ke luar ruangan setelah bangunan mengalami kerusakan akibat gempa.
LEDALERO, Veritas Indonesia – Perayaan kaul kekal 27 frater Serikat Sabda Allah (SVD) di Seminari Tinggi Santo Paulus Ledalero, Maumere, Flores, berlangsung dalam suasana yang berbeda pada Sabtu, 15 Agustus 2026.
Gempa bumi berkekuatan 7,7 skala Richter yang mengguncang Pulau Flores pada pukul 05.58 WITA memaksa panitia mengubah seluruh rangkaian perayaan yang telah dipersiapkan jauh-jauh hari.
Tidak seperti tahun-tahun sebelumnya, Misa kaul kekal yang bertepatan dengan Hari Raya Santa Perawan Maria Diangkat ke Surga tidak dapat dilaksanakan di dalam kapel seminari.
Sebagian plafon kapel runtuh akibat gempa sehingga bangunan dinilai tidak aman untuk digunakan. Aula yang telah dipersiapkan sebagai tempat resepsi setelah perayaan juga mengalami kerusakan.
Akibatnya, panitia memutuskan untuk memindahkan perayaan ke area terbuka di depan aula seminari dengan menggunakan tenda darurat.
Misa yang semula dijadwalkan berlangsung pada pukul 08.30 WITA ditunda selama satu jam untuk memberikan waktu kepada panitia dan pihak seminari melakukan pemeriksaan terhadap kondisi bangunan serta menyiapkan lokasi yang lebih aman.
Meski gempa susulan masih terjadi sebelum dan sesudah perayaan, seluruh rangkaian Misa berlangsung dengan lancar.
Di tengah situasi yang penuh ketidakpastian, 27 frater tetap melanjutkan pengikraran kaul kekal mereka sebagai tanda kesediaan untuk mengabdikan diri seumur hidup dalam pelayanan misioner.
Perayaan ini menjadi simbol iman dan keteguhan di tengah duka yang sedang menyelimuti Pulau Flores.
Pada saat masyarakat menghadapi dampak gempa yang menyebabkan puluhan korban jiwa dan ribuan warga mengungsi, para frater justru menegaskan kembali komitmen mereka untuk mengikuti Kristus melalui hidup membiara dan pelayanan misioner.
Perayaan kaul kekal tahun ini juga menjadi pengingat bahwa panggilan untuk melayani tidak berhenti di tengah kesulitan. Sebaliknya, situasi krisis justru menegaskan makna terdalam dari komitmen seorang misionaris, yakni hadir dan berjalan bersama mereka yang menderita.
Perayaan sederhana di tengah reruntuhan bangunan itu menjadi kesaksian bahwa harapan dapat tetap tumbuh di tengah bencana.
Gereja juga menyampaikan ucapan selamat kepada 27 frater yang telah mengikrarkan kaul kekal, seraya mendoakan agar mereka tetap setia pada panggilan dan semangat misioner mereka.
Di saat yang sama, doa juga dipanjatkan bagi seluruh korban gempa di Flores, khususnya mereka yang kehilangan anggota keluarga, rumah, dan mata pencaharian akibat bencana tersebut.






