Bukan Sekadar Strategi, Gereja Butuh Hati yang Diubahkan: Pesan Menyentuh dari FABC Jakarta

Bayangkan Anda sedang mendengarkan sebuah cerita. Cerita yang begitu membekas, lebih dari sekadar deretan fakta atau analisis rumit. Itulah kekuatan sebuah perumpamaan, cara yang dipilih Yesus untuk menyentuh hati banyak orang, ribuan tahun lalu. Dan pesan inilah yang kembali bergema kuat di jantung Jakarta, dalam pertemuan para pemimpin Gereja se-Asia.


Jakarta, Veritas Indonesia. Dalam Perayaan Ekaristi pembuka hari keempat Sidang Pleno ke-12 Federasi Konferensi Uskup-uskup Asia (FABC) pada 23 Juli 2026, Uskup Agung Marco Tin Win dari Myanmar menyampaikan pesan yang menggugah hati. Di hadapan para kardinal, uskup, dan imam dari seluruh penjuru Asia yang berkumpul di Hotel Mulia, beliau mengingatkan kita akan satu hal krusial: pentingnya memiliki hati yang terbuka pada rahmat Tuhan.

Sebagai selebran utama, didampingi Uskup Agung Khalid Rehmat dari Pakistan dan Uskup John Baptist Lee Keh-Mien dari Taiwan, Uskup Agung Marco Tin Win mengajak kita merenungkan Injil Matius bab 13. Pertanyaan para murid, “Mengapa Engkau berkata-kata kepada mereka dalam perumpamaan?” menjadi titik tolak refleksinya. Beliau menjelaskan bahwa perumpamaan bukanlah sekadar metode mengajar, melainkan jalan setapak untuk menuntun kita masuk ke dalam misteri Kerajaan Allah yang tak terselami.

Baca Juga Artikel:  Menavigasi Ketidakpastian: Sintesis Iman dan Logika yang Menggembirakan

“Perumpamaan mengomunikasikan kebenaran ilahi dengan menyentuh hati manusia. Sebuah cerita seringkali berbicara lebih kuat daripada analisis dan akan terus membekas dalam ingatan orang jauh setelah cerita itu didengar,” ungkapnya dengan penuh makna.

Lebih dalam lagi, Sang Uskup Agung menekankan bahwa panggilan Injil untuk melihat dan mendengar bukan hanya urusan indra fisik. Yang paling utama adalah kesiapan hati kita untuk menerima rahmat-Nya. “Melihat, mendengarkan, dan memahami menuntut hati yang mau menerima, hati yang selaras dengan rahmat. Ketika hati selaras dengan rahmat, pikiran menjadi mampu memandang kehidupan dari perspektif Tuhan,” tambahnya. Di sinilah letak peran kebijaksanaan, anugerah terbesar Roh Kudus, yang memampukan kita bukan hanya untuk tahu, tapi untuk mengerti dan membiarkan Sabda Tuhan sungguh-sungguh mengubah hidup kita.

Menariknya, Uskup Agung Marco Tin Win menyebut perumpamaan Yesus sebagai “selubung suci.” Di satu sisi, perumpamaan itu menyembunyikan, namun di sisi lain, menyingkapkan rahasia Tuhan. Bagi mereka yang rendah hati mencari kebenaran, perumpamaan adalah jendela menuju hati Tuhan. Namun bagi yang hatinya tertutup, ini adalah undangan penuh kasih untuk berbalik dan bertobat.

Baca Juga Artikel:  "Hentikan Senjatamu!" – Tangisan Hati Paus Leo XIV untuk Kemanusiaan yang Terluka

Mengutip Nabi Yesaya, beliau menyadari betapa mudahnya hati manusia menjadi tumpul dan tidak peka secara spiritual. Namun, kabar baiknya adalah Kristus tak pernah lelah menaburkan benih Sabda-Nya. “Yesus tidak sedang menghakimi; Ia sedang meratap. Meskipun begitu, Ia tidak pernah menyerah. Ia terus mengajar dan terus menaburkan benih Sabda-Nya ke dalam setiap hati, sekeras apa pun tanah itu,” pesannya memberikan pengharapan.

Refleksi mendalam ini seolah menjadi napas bagi tema sentral Sidang Pleno FABC kali ini: pertobatan sinodal dan misi Gereja untuk membangun jembatan di seluruh Asia. Uskup Agung mengingatkan kita bahwa misi sebesar ini tidak dimulai dari strategi yang muluk atau struktur yang rumit, melainkan dari hati yang telah diubahkan oleh rahmat Tuhan dan peka terhadap Sabda-Nya.

Pesannya menjadi pijakan yang kokoh untuk sesi pleno hari itu, yang menghadirkan pembicara berkelas seperti Msgr. Tomáš Halík, profesor sosiologi dari Universitas Charles Praha, yang mengupas pergeseran geopolitik global, serta Dr. Choong Pui Yee dari Universitas Malaya, yang menyoroti realitas Asia yang terus berubah dan panggilan Gereja untuk menjadi komunitas sinodal yang misioner, berkomitmen pada dialog, rekonsiliasi, dan persatuan.

Baca Juga Artikel:  Napas Kemanusiaan: Merawat Solidaritas di Bangsal Kesembuhan dan Kehidupan

Bagaimana dengan kita? Sudahkah hati kita siap menjadi ‘tanah yang subur’ bagi benih Sabda-Nya hari ini? Mari kita renungkan dan bagikan cerita ini, agar rahmat Tuhan semakin menyentuh banyak hati!


Veritas Indonesia berkomitmen untuk terus menghadirkan tulisan-tulisan yang meneguhkan iman dan menyuarakan kebenaran. Kami mengundang Anda, para pembaca setia, untuk turut mendukung operasional pelayanan ini melalui donasi ke rekening BCA 6440054739 a.n. Lucia Margaretha Audrey Niron (Bendahara Veritas Indonesia). Agar donasi Anda dapat kami terima dan catat dengan baik, mohon kirimkan bukti transfer kepada Editor Konten kami, Maria Frani Ayu, di nomor 081230038196. Sedikit dari Anda adalah wujud nyata kebersamaan dalam pelayanan ini.

Maria Frani Ayu Andari Dias
Maria Frani Ayu Andari Diashttps://www.veritasindonesia.id/
Editor Content di Veritas Indonesia, Penulis dan Pengajar Ilmu Keperawatan Jiwa di Institut Kesehatan Suaka Insan.

Related Articles

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

spot_img

Terbaru

[td_block_7 sort="random_7_day" custom_title="Populer" block_template_id="td_block_template_18" header_text_color_a="#f2da00" header_text_color_b="#dd9933" ajax_pagination="load_more"]