Pada Mulanya adalah Komunikasi, Ketika Hidup Menjadi Pesan Misi                                                                         

Di tengah perkembangan media digital dan teknologi komunikasi, refleksi ini mengingatkan bahwa komunikasi Kristiani berakar pada kehidupan, kehadiran, dan kesaksian. Dalam perayaan Hari Berdirinya SVD, para misionaris diajak untuk tidak hanya bertanya tentang apa yang mereka komunikasikan, tetapi juga apa yang dikomunikasikan melalui kehidupan mereka. Teknologi dapat memperluas pesan misi, tetapi kesaksian hidup yang berakar pada Injil tetap menjadi komunikasi yang paling kuat.


Oleh Paskalis Semaun, SVD*

Kita sering berbicara tentang komunikasi seolah-olah komunikasi dimulai dari media: kamera, radio, televisi, website, Facebook, Instagram, YouTube, atau berbagai teknologi digital lainnya. Padahal, komunikasi jauh lebih tua daripada semua itu.

Pada Mulanya adalah Firman

Yohanes membuka Injilnya dengan sebuah kalimat yang sangat kuat: “Pada mulanya adalah Firman; Firman itu bersama-sama dengan Allah dan Firman itu adalah Allah” (Yoh 1:1).

Kalimat ini membawa kita kembali kepada dasar komunikasi. Komunikasi bukan pertama-tama soal alat, teknologi, atau media. Komunikasi berawal dari Allah yang menyatakan diri-Nya, mendekati manusia, dan membangun relasi dengan manusia.

Karena itu, jika kita berbicara tentang komunikasi dalam misi SVD, kita perlu mulai bukan dari media, melainkan dari kehidupan.

Sabda yang Menjadi Manusia

“Firman itu telah menjadi manusia dan diam di antara kita” (Yoh 1:14).

Di sinilah komunikasi Allah mencapai kepenuhannya. Allah tidak sekadar mengirim pesan. Ia sendiri datang dan hadir di tengah kehidupan manusia.

Yesus tidak hanya berbicara tentang kasih. Ia menghidupi kasih. Ia tidak hanya mengajarkan pengampunan. Ia mengampuni. Ia tidak hanya berbicara tentang orang miskin, orang sakit, dan mereka yang tersingkir. Ia mendekati dan menyentuh mereka.

Yesus berkomunikasi melalui seluruh hidup-Nya. Ia berbicara, tetapi juga mendengarkan. Ia mengajar, tetapi juga hadir. Ia menegur, tetapi juga mengampuni. Ia menyentuh mereka yang dijauhi dan makan bersama mereka yang dianggap berdosa.

Dengan demikian, pesan terbesar Yesus bukan hanya apa yang keluar dari mulut-Nya, melainkan kehidupan-Nya sendiri.

Di sini kita menemukan sebuah kebenaran penting bagi misi: orang sering kali melihat bagaimana kita hidup sebelum mereka mendengarkan apa yang kita katakan.

Ketika Sabda Menjadi Komunitas

Sabda yang diterima tidak berhenti sebagai kata-kata. Sabda mengubah kehidupan dan melahirkan komunitas.

Gereja lahir dari orang-orang yang mendengarkan Sabda, percaya kepada-Nya, dan membiarkan diri mereka diubah oleh Sabda itu.

Karena itu, semua kegiatan pastoral, katekese, evangelisasi, perayaan sakramen, kelompok umat, dan berbagai struktur yang kita bangun pada akhirnya harus mengarah pada satu tujuan: membangun kehidupan komunitas.

Di sinilah kita perlu jujur melihat kenyataan. Kita bisa memiliki banyak kegiatan, tetapi belum tentu memiliki komunitas yang hidup. Kita bisa memiliki banyak program, tetapi belum tentu memiliki proses yang mengubah kehidupan. Kita bisa memiliki banyak media, tetapi belum tentu memiliki pesan yang menyentuh hati.

Pertanyaannya sederhana: Apakah semua yang kita lakukan sungguh membawa kehidupan dan perubahan bagi komunitas dan misi kita?

Misi lahir dari kehidupan, tumbuh melalui relasi, dan dihidupkan oleh komunikasi.

Baca Juga Artikel:  Pena di Tangan Kita: Seni Mengambil Keputusan Spiritual

Sejarah yang Berbicara

Sejarah SVD bukan sekadar masa lalu. Sejarah itu masih berbicara kepada kita hari ini.

Ketika kita mengunjungi tempat-tempat misi, membaca kisah para misionaris, atau bahkan berdiri di depan makam mereka, kita sebenarnya sedang mendengarkan sebuah pesan.

Mereka pernah datang ke tempat yang asing. Mereka belajar bahasa. Mereka mengenal budaya. Mereka membangun relasi. Mereka menghadapi kesulitan. Mereka melayani dan akhirnya memberikan hidup mereka bagi misi.

Makam mereka diam, tetapi hidup mereka berbicara.

Karena itu, mengenang sejarah bukan sekadar mengingat masa lalu. Sejarah menjadi berarti ketika warisannya diteruskan.

Pertanyaannya bukan hanya, “Apa yang telah dilakukan oleh para pendahulu kita?” Pertanyaan yang lebih penting adalah: “Apa yang sedang kita lakukan dengan warisan yang mereka tinggalkan?”

Santo Arnold Janssen: Dari Keyakinan Menjadi Gerakan

Santo Arnold Janssen tidak memulai SVD dengan teknologi komunikasi modern. Ia tidak memiliki media sosial, kamera digital, atau jaringan internet.

Yang ia miliki adalah iman, keyakinan, kepekaan terhadap kebutuhan zaman, dan keberanian untuk bertindak.

Dari sanalah lahir sebuah gerakan misioner.

Arnold Janssen bukan sekadar seorang pendiri yang membangun institusi. Ia adalah seorang yang membiarkan hidupnya digerakkan oleh Sabda dan kepercayaannya kepada Allah.

Karena itu, warisan terbesar Santo Arnold Janssen bukan hanya gedung, lembaga, atau struktur. Warisan itu adalah semangat misioner: semangat untuk pergi, belajar, bertemu dengan yang berbeda, membangun relasi, mewartakan Sabda, dan melayani manusia.

Warisan itu sekarang berada di tangan kita.

8 September: Mengingat Kembali Mengapa SVD Lahir

Setiap 8 September, kita memperingati kelahiran Serikat Sabda Allah, SVD. Namun, peringatan ini jangan berhenti sebagai perayaan tahunan: mengucapkan selamat, mengadakan kegiatan, membuat publikasi, lalu kembali kepada rutinitas.

8 September seharusnya membawa kita kembali kepada satu pertanyaan mendasar:

Mengapa SVD lahir?

SVD lahir dari keyakinan bahwa Sabda Allah harus hadir di tengah kehidupan manusia. Karena itu, kita dipanggil untuk pergi, bertemu, mendengarkan, belajar, melayani, dan mewartakan.

Maka, ulang tahun SVD bukan hanya kesempatan untuk mengenang sejarah. Ini juga kesempatan untuk melihat kembali kehidupan dan panggilan kita sebagai misionaris.

Apakah semangat misioner itu masih kuat dalam diri kita?

Apakah kita masih berani keluar dari kenyamanan?

Apakah kita masih mau mendengarkan manusia dan membaca tanda-tanda zaman?

Apakah kita masih dekat dengan mereka yang miskin, tersingkir, dan tidak memiliki suara?

Dan yang paling penting: apakah hidup kita masih menjadi kesaksian tentang Sabda yang kita wartakan?

Kita bukan hanya pewaris sejarah SVD. Kita sedang menulis sejarah SVD hari ini.

Sebelum Media, Ada Kita

Di zaman digital, kita mudah berpikir bahwa komunikasi adalah tugas mereka yang bekerja dengan media.

Padahal, jauh sebelum kita memiliki Facebook, Instagram, YouTube, radio, atau website, kita sudah menjadi media komunikasi.

Cara kita berbicara adalah komunikasi. Cara kita mendengarkan adalah komunikasi. Cara kita memperlakukan umat adalah komunikasi. Cara kita memperlakukan orang miskin, orang muda, orang tua, orang yang berbeda budaya, dan mereka yang tidak memiliki suara adalah komunikasi.

Baca Juga Artikel:  "Hentikan Senjatamu!" – Tangisan Hati Paus Leo XIV untuk Kemanusiaan yang Terluka

Bahkan cara kita hidup bersama sebagai komunitas SVD adalah komunikasi.

Karena itu, sebelum kita memproduksi konten untuk media, kita perlu bertanya:

Apa yang sedang dikomunikasikan oleh hidup kita?

Media dapat memperbesar suara kita, tetapi media tidak dapat menggantikan kesaksian hidup.

Sebuah video dapat dibuat dalam beberapa menit. Sebuah postingan dapat dibagikan kepada ribuan orang. Tetapi kesaksian hidup dibangun selama bertahun-tahun.

Komunikasi Bukan Tambahan bagi Misi

Komunikasi sering kali ditempatkan sebagai bagian tambahan dari pekerjaan pastoral. Seolah-olah setelah kegiatan selesai, barulah kita memikirkan bagaimana kegiatan itu dipublikasikan.

Cara pandang seperti ini perlu diubah.

Komunikasi adalah bagian dari misi.

Ketika kita mendengarkan seseorang, kita sedang berkomunikasi. Ketika kita membangun persaudaraan, kita sedang berkomunikasi. Ketika kita menemani orang yang menderita, kita sedang berkomunikasi. Ketika kita menggunakan media digital untuk membagikan pengalaman misioner, kita juga sedang berkomunikasi.

Karena itu, setiap misionaris adalah komunikator.

Bukan hanya karena kita berbicara, tetapi karena kehidupan kita selalu menyampaikan sesuatu kepada orang lain.

Empat Dimensi, Satu Misi

Dalam SVD, kita mengenal empat dimensi misi: Animasi Kitab Suci, Animasi Misioner, JPIC, dan Komunikasi. Keempatnya bukan empat jalan yang berjalan sendiri-sendiri.

Sabda Allah menggerakkan misi. Misi membawa kita kepada manusia. JPIC membuat kita peka terhadap keadilan, perdamaian, dan keutuhan ciptaan. Komunikasi membantu semua pengalaman itu dibagikan, didengarkan, dan diwartakan.

Karena itu, komunikasi tidak dapat dipisahkan dari kehidupan misioner.

Kalau komunikasi kita hanya berisi pengumuman kegiatan, foto acara, dan laporan program, kita memang sedang menggunakan media. Tetapi, apakah itu sudah menjadi komunikasi misioner?

Komunikasi misioner bukan hanya soal memberitakan apa yang kita lakukan. Lebih dari itu, komunikasi harus mampu menunjukkan kehidupan, kesaksian, dan pengalaman misi yang kita jalani bersama.

Apa yang kita komunikasikan seharusnya membuat orang melihat bahwa misi itu benar-benar hidup.

Komunikasi menjadi misioner ketika ia lahir dari kehidupan, relasi, dan pengalaman nyata di tengah masyarakat.

Dari Banyak Kegiatan kepada Misi yang Menghidupkan

Tantangan kita bukan kekurangan kegiatan. Justru, kita sering terlalu sibuk dengan berbagai kegiatan.

Persoalannya bukan berapa banyak yang kita lakukan, tetapi apa dampaknya bagi kehidupan.

Apakah kegiatan kita menghidupkan komunitas, memperkuat relasi, menumbuhkan iman, dan menggerakkan misi? Atau kita hanya sibuk tanpa menghasilkan perubahan yang nyata?

Kita bisa mengadakan banyak pertemuan tanpa membangun persaudaraan.

Kita bisa membuat banyak program tanpa menghasilkan perubahan.

Kita bisa memproduksi banyak konten tanpa menyampaikan sesuatu yang berarti.

Kita bisa hadir di banyak platform digital, tetapi tetap jauh dari manusia.

Karena itu, kita perlu bergerak dari sekadar melakukan kegiatan menuju misi yang benar-benar menghidupkan.

Ukuran keberhasilan misi bukan hanya berapa banyak kegiatan yang kita lakukan atau berapa banyak orang yang melihat publikasi kita.

Baca Juga Artikel:  Paus Leo XIV Ajak Website Katolik Pasang Widget Video Resmi Vatican News

Ukuran yang lebih penting adalah:

Apakah orang merasa ditemani?
Apakah komunitas menjadi semakin hidup?
Apakah relasi menjadi semakin manusiawi?
Apakah Sabda Allah semakin dekat dengan kehidupan manusia?

Allah Seperti Apa yang Kita Komunikasikan?

Ada satu pertanyaan yang mungkin lebih penting daripada semua pertanyaan tentang media:

Allah seperti apa yang kita komunikasikan melalui kehidupan kita?

Jika kita berbicara tentang kasih, tetapi hidup kita penuh dengan kekerasan, orang akan melihat bahwa kata-kata kita tidak sesuai dengan kehidupan kita.

Jika kita berbicara tentang persaudaraan, tetapi komunitas kita masih sulit membangun kebersamaan, kesaksian kita kehilangan kekuatannya.

Jika kita berbicara tentang orang miskin, tetapi kita tidak mau mendekati mereka, kata-kata kita menjadi kosong.

Jika kita berbicara tentang misi, tetapi kita takut keluar dari kenyamanan, kesaksian kita menjadi lemah.

Karena itu, komunikasi misioner pertama-tama adalah soal kesesuaian antara pesan dan kehidupan.

Apa yang kita wartakan harus terlihat dalam cara kita hidup.

Dari Niat kepada Komitmen

Kita mungkin sudah memiliki berbagai media. Kita mungkin sudah mengikuti pelatihan komunikasi. Kita mungkin sudah menggunakan teknologi digital dan mulai belajar menggunakan kecerdasan buatan.

Semua itu penting.

Tetapi teknologi tidak akan membuat komunikasi menjadi misioner dengan sendirinya.

Kita tetap membutuhkan manusia yang mampu mendengarkan, memahami, berdialog, dan membangun relasi.

Kita membutuhkan profesionalisme, tetapi profesionalisme harus disertai spiritualitas.

Kita membutuhkan teknologi, tetapi teknologi harus tetap melayani manusia.

Kita membutuhkan media, tetapi media harus tetap berakar pada kehidupan nyata.

Karena itu, yang kita perlukan bukan hanya lebih banyak media, tetapi lebih banyak kehidupan yang layak dikomunikasikan.

Pada Mulanya adalah Komunikasi

Pada akhirnya, kita kembali kepada kalimat Yohanes: “Pada mulanya adalah Firman.”

Sabda itu menjadi manusia. Sabda menjadi kehidupan. Sabda membangun relasi. Sabda melahirkan komunitas. Sabda mengutus. Dan Sabda terus berbicara melalui kehidupan orang-orang yang percaya kepada-Nya.

Karena itu, komunikasi misioner tidak dimulai dari kamera.

Tidak dimulai dari Facebook.

Tidak dimulai dari website.

Tidak dimulai dari teknologi.

Komunikasi dimulai dari kehidupan. Ia tumbuh melalui relasi. Ia menjadi kuat melalui kesaksian. Dan ia menemukan arahnya dalam misi.

Maka, sebelum bertanya, “Apa yang harus kita komunikasikan?”, mungkin kita perlu bertanya:

“Bagaimana kita hidup?”

Sebelum bertanya, “Media apa yang harus kita gunakan?”, kita perlu bertanya:

“Relasi seperti apa yang sedang kita bangun?”

Dan sebelum bertanya, “Bagaimana membuat SVD semakin dikenal?”, kita perlu bertanya:

“Apakah kehidupan kita sungguh memperlihatkan wajah SVD dan wajah Allah yang kita wartakan?”

Sebab dunia tidak hanya membutuhkan orang yang mampu berbicara tentang misi.

Dunia membutuhkan orang yang hidupnya menjadi pesan misi.

Dan mungkin, di situlah komunikasi kita harus selalu kembali:

Pada mulanya adalah kehidupan.
Kehidupan melahirkan relasi.
Relasi melahirkan komunikasi.
Dan komunikasi menghidupkan misi.

*Penulis adalah Misionaris Sabda Allah (SVD), Koordinator Komunikasi SVD-Paraguay.


Veritas Indonesia berkomitmen untuk terus menghadirkan tulisan-tulisan yang meneguhkan iman dan menyuarakan kebenaran. 

Kami mengundang Anda, para pembaca setia, untuk turut mendukung operasional pelayanan ini melalui donasi ke rekening BCA 6440054739 a.n. Lucia Margaretha Audrey Niron (Bendahara Veritas Indonesia).

Agar donasi Anda dapat kami terima dan catat dengan baik, mohon kirimkan bukti transfer kepada Editor Konten kami, Maria Frani Ayu, di nomor 081230038196. Sedikit dari Anda adalah wujud nyata kebersamaan dalam pelayanan ini.

Related Articles

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

spot_img

Terbaru

Populer