Pagal, Manggarai, Veritas Indonesia — Solidaritas dan tanggap darurat terhadap penyintas gempa bumi di Flores yang dilakukan oleh Posko JPIC OFM Indonesia Pagal, Cibal, Manggarai, memasuki fase baru. Setelah beberapa waktu bergerak dalam pelayanan tanggap darurat, posko kemanusiaan ini kini diperkuat oleh kehadiran sejumlah utusan JPIC dari berbagai kongregasi religius serta para relawan medis yang tergabung dalam INFO JPIC (International Franciscan for Justice, Peace and Integrity of Creation).
Kehadiran para saudari dan saudara Fransiskan tersebut memperluas jangkauan pelayanan kemanusiaan yang sebelumnya telah dilakukan oleh Posko JPIC OFM Indonesia. Sembari terus mendistribusikan bantuan kebutuhan dasar (pembagian sembako, dan lain-lain), kegiatan pelayanan kemanusiaan terus berkembang menjadi pelayanan kesehatan, trauma healing bagi anak-anak, serta pendampingan psikologis dan psikososial bagi para penyintas yang masih bertahan di tenda-tenda pengungsian.
Para utusan yang bergabung dalam pelayanan ini adalah Sr. Ephivania KSFL, Sr. Verena FCJM, Sr. Emma SFD, Sr. Christa FCh, Sr. Petrik FCh, Sdri. Angel dan Enya sebagai utusan SFS, serta Br. Leo, OFM Cap Sibolga. Kehadiran mereka menjadi bagian penting dalam memperkuat pelayanan kemanusiaan lintas kongregasi di tengah situasi pascabencana yang masih membutuhkan perhatian dan pendampingan.

Pelayanan Medis dan Trauma Healing di Luwuk dan Serise
Rangkaian pelayanan bersama ini dimulai pada 4 September 2026 di Luwuk dan Serise, Manggarai Timur. Di dua lokasi tersebut, tim Fransiskan membuka pelayanan medis bagi masyarakat yang terdampak gempa.
Menurut Sr. Christa, FCh, yang menjadi koordinator tim medis, sebanyak 97 penyintas mengikuti pelayanan kesehatan yang diberikan. Pelayanan medis dilakukan bersama para tenaga kesehatan, termasuk dr. Novi, yang membantu menangani berbagai keluhan kesehatan masyarakat di lokasi pengungsian.
Namun, pelayanan kemanusiaan tersebut tidak berhenti pada aspek kesehatan fisik. Tim juga memberikan perhatian khusus kepada kondisi psikologis anak-anak yang mengalami pengalaman traumatis akibat gempa.
Kegiatan trauma healing bagi anak-anak dilakukan oleh Sr. Verena, FCJM, dan Sr. Ephivania, KSFL. Melalui berbagai kegiatan sederhana dan menyenangkan, anak-anak diajak untuk kembali membangun rasa aman, berinteraksi dengan teman sebaya, serta mengekspresikan pengalaman dan perasaan mereka setelah mengalami bencana.
Pendekatan ini menjadi penting karena anak-anak merupakan salah satu kelompok yang rentan mengalami dampak psikologis berkepanjangan setelah bencana. Karena itu, kegiatan bermain, bernyanyi, menggambar, dan aktivitas kreatif lainnya menjadi bagian dari pelayanan kemanusiaan yang dilakukan oleh tim.

Bergerak ke Sambi dan Sonot
Pelayanan kemudian berlanjut pada Sabtu, 5 September 2026, dengan menyasar dua titik posko mandiri, yakni Sambi dan Sonot, Satar Padut, Kecamatan Lambaleda Utara, Kabupaten Manggarai Timur. Di dua lokasi tersebut, tim kembali membuka pelayanan medis bagi para penyintas. Tidak kurang dari 107 orang mendapatkan pelayanan kesehatan dari tim medis Fransiskan, serta dibantu oleh dr. Hotland Sitorus.
Selain pengobatan, anak-anak di lokasi pengungsian juga mendapatkan pendampingan trauma healing. Mereka diajak mengikuti berbagai kegiatan seperti menyanyi, menggambar, bermain, serta aktivitas kreatif lainnya yang dirancang untuk menciptakan suasana yang lebih rileks dan menyenangkan di tengah kehidupan pengungsian.
Pada saat yang sama, Sdri. Enya, psikiater utusan kongregasi SFS, memberikan pelayanan psikologis kepada para penyintas yang berada di tenda-tenda pengungsian. Kehadiran tenaga pendamping psikologis menjadi bagian penting dalam memastikan bahwa pelayanan tanggap darurat tidak hanya memperhatikan kebutuhan fisik, tetapi juga kondisi mental dan emosional masyarakat terdampak.
Tidak Mengenal Hari Libur
Semangat pelayanan kemanusiaan para Fransiskan bagi para penyintas gempa di Flores tidak mengenal hari libur. Setelah menyelesaikan perayaan Misa Minggu di Paroki Pagal, para relawan dan relawati kembali bergerak menuju lokasi pengungsian untuk memberikan pelayanan kesehatan dan pendampingan.
Kali ini, pelayanan diarahkan ke Kampung Mbawar dan Mondo, Kecamatan Reo, Kabupaten Manggarai.
Untuk memberikan pelayanan medis di dua lokasi tersebut, tim diperkuat oleh lima orang dokter, yakni dr. Ovand, dr. Novi, serta tiga dokter relawan yang bertugas di Panti Nirmala Karot.
Kehadiran para tenaga medis tersebut memungkinkan tim memberikan pelayanan pengobatan gratis secara lebih luas kepada masyarakat terdampak. Di dua titik pengungsian itu, tidak kurang dari 210 pasien mendapatkan pelayanan kesehatan, tutur Sr. Christa, koordinator tim medis.
Jumlah tersebut menunjukkan bahwa kebutuhan pelayanan kesehatan di tengah masyarakat terdampak masih cukup besar. Adapun jenis pelayanan medis yakni kegiatan tensi, pemeriksaan gula darah, asam urat, kolesterol, konsultasi dokter dan pemberian obat. Pengobatan gratis ini menjadi salah satu bentuk kehadiran nyata solidaritas kemanusiaan bagi masyarakat yang masih menghadapi dampak gempa dan kondisi kehidupan di pengungsian.

Hadir Bersama Mereka yang Sakit dan Lansia
Pelayanan kemanusiaan tersebut juga dilakukan dengan mengunjungi para penyintas yang memiliki keterbatasan untuk datang langsung ke tempat pelayanan medis.
P. Alsis Goa, OFM, turut terlibat dengan mengunjungi para penyintas, khususnya mereka yang sakit dan lanjut usia, di tenda-tenda pengungsian. Selain memberikan perhatian dan mendengarkan kondisi mereka, P. Alsis juga mendoakan mereka yang sedang sakit dan tua serta memberikan penguatan rohani di tengah situasi sulit yang sedang mereka hadapi.
Kehadiran tersebut menjadi bentuk pelayanan yang tidak hanya menyentuh kebutuhan jasmani, tetapi juga memberikan penguatan batin kepada para penyintas. Di tengah ketidakpastian kehidupan pascabencana, doa, sapaan, dan kehadiran menjadi bagian dari solidaritas yang sangat berarti.
Sementara itu, pelayanan trauma healing dan psikososial juga terus dilakukan di lokasi-lokasi pengungsian. Anak-anak mendapatkan ruang untuk bermain dan berekspresi, sementara para penyintas lainnya memperoleh kesempatan untuk mendapatkan pendampingan serta dukungan psikososial.
Solidaritas yang Terus Bergerak
Rangkaian pelayanan di Luwuk, Serise, Sambi, Sonot, Mbawar, dan Mondo memperlihatkan bahwa tanggap darurat gempa di Flores bukan hanya persoalan menyalurkan bantuan, tetapi juga menghadirkan kebutuhan medis, psikososial, psikologis dan spiritual bagi para penyintas.
Melalui kolaborasi lintas kongregasi, tenaga medis, rohaniwan, relawan dan relawati yang dikoordinir posko JPIC OFM Indonesia, pelayanan kemanusiaan dikembangkan secara lebih menyeluruh: mengobati yang sakit, mendampingi yang terluka secara psikologis, menemani anak-anak yang mengalami trauma, menguatkan para lansia dan mereka yang rentan, serta menghadirkan doa dan penghiburan bagi para penyintas.
Gerakan solidaritas ini menjadi tanda bahwa masyarakat terdampak tidak berjalan sendirian dalam menghadapi masa-masa sulit pascabencana. Kehadiran para Fransiskan dan para relawan/i di tengah tenda-tenda pengungsian merupakan bentuk nyata keberpihakan kepada mereka yang membutuhkan.
Pelayanan pun terus bergerak dari satu titik ke titik lainnya. Sebab, bagi para relawan kemanusiaan, solidaritas tidak mengenal batas wilayah, tidak mengenal hari libur, dan tidak berhenti hanya pada pemberian bantuan material. Solidaritas berarti hadir, mendengarkan, merawat, menguatkan, dan berjalan bersama para penyintas sampai mereka mampu bangkit kembali. (P. Alsis, OFM)






