Bentengjawa, Manggarai Raya | Veritas Indonesia, 14 Juni 2026
Di bawah langit musim kemarau Flores yang cerah membentang, suara umat Paroki Santo Yoseph Bentengjawa pecah serentak dalam satu jawaban yang menggetarkan: “Amin! Setuju!”
Sederhana. Spontan. Namun di balik tiga kata itu tersimpan sebuah komitmen pastoral yang jauh melampaui dinding gereja.
Pagi itu, sekitar tiga puluh frater SVD asal Manggarai Raya — calon-calon misionaris yang sedang menempuh pendidikan di Institut Filsafat dan Teknologi Kreatif (IFTK) Ledalero — merayakan Misa bersama seluruh umat paroki.
Para frater menangani koor. Bacaan Injil hari itu berbicara tentang panggilan dan perutusan murid-murid pertama Yesus: Simon Petrus dan kawan-kawan, manusia-manusia biasa yang dipanggil bukan dari istana, bukan dari menara gading, melainkan dari tengah-tengah kehidupan umat yang nyata.
Pilihan bacaan itu terasa bukan kebetulan belaka.
Kunjungan yang Lahir dari Kesadaran
Momen ini adalah bagian dari tradisi tahunan yang sudah mengakar: sebuah live-in yang digagas Paguyuban Frater SVD Ledalero asal Manggarai Raya. Di antara sekitar 380 frater SVD Ledalero, mereka tergabung dalam paguyuban-paguyuban kedaerahan — ada yang berasal dari Flores Timur, Ngada, Sikka, Lamaholot, dan Timor — masing-masing dengan kegiatan khasnya.
Setiap tahun, dalam liburan musim panas Juni–Juli, para frater asal Manggarai Raya turun ke lapangan. Mereka tinggal bersama umat di sebuah paroki selama beberapa hari — bukan sekadar berkunjung, tetapi sungguh melebur: membawa katekese tematik, animasi misi, kerasulan Kitab Suci, promosi panggilan SVD, dan merespons isu-isu pastoral yang hidup di tengah umat.
Tahun ini, paroki yang dipilih adalah Santo Yoseph Bentengjawa. Dan tema yang mereka usung: “Partisipasi Aktif Umat dalam Hidup Gereja.”
Katekese tematik telah berlangsung Kamis dan Jumat malam. Misa Minggu 14 Juni adalah klimaksnya. Dan Minggu malam, seluruh rangkaian akan ditutup dengan malam seni-budaya bersama umat — terutama anak-anak dan Orang Muda Katolik (OMK).
Flores, Ibu Kandung Para Misionaris Dunia
Sebelum homilinya sampai pada pesan yang paling menggetarkan, Pater Dr. Alexander Jebadu SVD — dosen IFTK Ledalero yang memimpin rombongan — meletakkan sebuah fakta yang jarang disadari umat awam, bahkan oleh orang Flores sendiri.
IFTK Ledalero dan Seminari Tinggi St. Petrus Ritapiret, bersama kongregasi-kongregasi lain di Flores, saat ini menampung sekitar 1.500 calon imam. Angka ini bukan sekadar statistik kebanggan. Ini menjadikan kedua lembaga formasi tersebut — secara gabungan — sebagai seminari dengan jumlah frater terbesar di dunia.
Di saat Eropa bergulat dengan semakin sedikitnya panggilan imam dan suster karena berbagai sebab yang kompleks, Flores justru terus-menerus melahirkan generasi demi generasi pelayan Gereja. Sebuah kontras yang layak untuk direnungkan lebih dalam.
Dan dari 1.500 frater di IFTK Ledalero itu, seperempat — sekitar 375 orang — berasal dari Manggarai Raya.
Sensus Pastoral: Siapa Paling Subur?
Dengan semangat yang nyaris seperti seorang peneliti lapangan, Pater Jebadu memetakan wilayah-wilayah di Manggarai Raya berdasarkan produktivitas panggilan imamnya. Hasilnya mengejutkan sekaligus membanggakan.
Hamente Kolang berada di puncak. Pada 2023, Pastor Paroki Ranggu, Rm. Laurens, mengonfirmasi bahwa jumlah imam dari Kolang telah melampaui 70 orang — terhitung sejak Uskup Donatus Jagom SVD menjadi imam pertama dari sana — dan pendataan suster bahkan belum selesai.
Hamente Lelak menyusul di posisi kedua dengan perjalanan yang tak kalah membanggakan. Pada 2024, Pater Jebadu sendiri berkotbah dalam Misa Perdana Pater Rion Nanto SVD di Lelak — pada saat itu, Pater Rion adalah imam ke-49 dari Lelak. Kemudian pada 2025, lima imam lagi dari berbagai kongregasi ditahbiskan dari wilayah yang sama. Dan pada 2026 ini, beberapa lagi menyusul. Diperkirakan, Lelak kini telah melahirkan sekitar 60 imam.
Cibal dan Lambaleda mengikuti di urutan berikutnya. Sementara Rego masih berada di angka belasan. Adapun Hamente Sita — kampung halaman Mgr. Vitalis Jebarus SVD — ketika Pater Jebadu terakhir kali merayakan Misa di sana, jumlah imamnya bahkan belum mencapai sepuluh orang.
Peta yang tidak merata ini sendiri menjadi bahan refleksi tersendiri: apa yang membuat satu wilayah jauh lebih subur dalam melahirkan panggilan dibanding wilayah lain? Soal budaya, soal iman, soal ekonomi keluarga, atau semuanya sekaligus?
Ketika Bangku SD Mulai Kosong
Namun di balik angka-angka yang membanggakan itu, Pater Jebadu menyentuh sebuah kenyataan yang semakin mengkhawatirkan: tren penurunan jumlah anak dalam keluarga-keluarga muda Flores.
Ia memulai dari akar teologis yang sederhana: para misionaris tidak dikirim dari surga. Mereka lahir dari rahim keluarga-keluarga kristiani — keluarga yang sehat, harmonis, saleh, dan cukup kuat secara ekonomi. Artinya, jika sumber itu mengering, pelayanan Gereja pun akan ikut kekurangan.
Dan tanda-tanda pengering itu, ia nilai, sudah mulai terlihat.
“Keluarga-keluarga muda di Flores, termasuk di kampung-kampung, kini cenderung hanya melahirkan satu atau dua anak,” ujarnya. Bukan berdasarkan data survei besar, melainkan dari pengamatan pastoral yang ia kumpulkan selama bertahun-tahun melayani dari paroki ke paroki.
Buktinya sudah terasa di lembaga paling dasar: di pegunungan Maumere, di kampung-kampung Manggarai, banyak Sekolah Dasar kini kekurangan siswa hingga tidak bisa memenuhi syarat rombongan belajar (ROMBEL) minimum untuk menerima dana BOS. Ini bukan sekadar masalah pendidikan — ini adalah cermin demografis dari sebuah perubahan yang sedang terjadi diam-diam di dalam keluarga-keluarga kristiani.
Persalinan, Trauma, dan Kekhawatiran Pastoral
Pater Jebadu kemudian menyentuh sebuah kegelisahan pastoral yang ia amati di lapangan — sebuah fenomena yang sering luput dari perhatian.
Ia mencatat bahwa ibu-ibu di desa kini semakin banyak yang memilih bersalin di rumah sakit besar di kota, didorong oleh pertimbangan keamanan yang tentu saja sangat dapat dipahami. Namun dalam prosesnya, sebagian mengalami persalinan melalui operasi sesar (sectio caesarea). Bagi sebagian ibu, pengalaman ini — baik secara fisik maupun psikologis — terasa berat dan kadang meninggalkan trauma yang kemudian memengaruhi keputusan mereka tentang kehamilan berikutnya.
Secara medis, setiap persalinan sesar memang meninggalkan bekas yang perlu dipertimbangkan dalam kehamilan selanjutnya. Pater Jebadu mengungkapkan kekhawatirannya bahwa rangkaian pengalaman ini — bila tidak dikelola dengan baik dan didampingi secara pastoral maupun medis — dapat menjadi salah satu faktor yang mendorong keluarga muda untuk membatasi jumlah anak mereka.
“Kita perlu lebih bijak dan berhati-hati dalam membuat keputusan seputar persalinan,” pesannya kepada umat, seraya mendorong para ibu dan keluarga muda untuk mencari informasi yang memadai, mendapat pendampingan yang baik, dan berkonsultasi secara terbuka dengan tenaga medis yang mereka percaya.
Undangan, Bukan Beban
Dari kegelisahan itu, Pater Jebadu tidak berhenti pada keluhan. Ia bergerak menuju sebuah undangan — hangat, tulus, dan penuh pengharapan.
Dalam bahasa Manggarai ia membangkitkan kenangan yang indah tentang keluarga masa lampau: maram kon anak alo ko cempulu neho danong — dulu orang bisa dikaruniai anak banyak seperti bilangan jari. Kini ia tidak meminta hal yang sama. Tetapi ia mengajak umat untuk berani membuka hati lebih lebar.
“Kalau keluarga bisa dikaruniai empat atau lima anak, betapa indahnya,” ujarnya penuh sukacita. “Mungkin satu dipanggil jadi romo, satu jadi suster, dan yang lain menjadi bibit lami — penerus kampung dan marga yang baik dan kuat.”
Tentu, ia menyadari sepenuhnya bahwa setiap keluarga memiliki situasi dan pergumulannya sendiri. Ini bukan tuntutan yang menekan, bukan angka yang harus dipenuhi. Ini adalah undangan untuk merenungkan kembali makna kesuburan dalam terang iman kristiani — bahwa menyambut kehidupan baru adalah berkat, bagi keluarga itu sendiri, bagi Gereja, dan bagi masyarakat.
Lalu Pater Jebadu mengajukan pertanyaan kepada seluruh umat yang hadir:
“Amin, Bapa Ibu sekalian? Semua setuju?”
Dan umat Bentengjawa — anak-anak, orang muda, bapak-bapak dan ibu-ibu — menjawab dengan satu suara yang memenuhi seluruh ruang gereja.
“Amin! Setuju!”
Live-In yang Saling Menguatkan
Kunjungan ini, kata Pater Jebadu dalam sambutannya kepada umat, sesungguhnya memiliki dua wajah yang saling menghidupi.
Di satu sisi, para frater mendapatkan pengalaman pastoral yang otentik dan membumi: mereka menyentuh langsung kehidupan umat, merasakan kebutuhan nyata di lapangan, dan disadarkan secara mendalam bahwa pelayanan mereka sungguh dibutuhkan. Ini bukan kunjungan seremonial — ini adalah pemupukan panggilan dari dalam, dari sumber yang paling asli: umat itu sendiri.
Di sisi lain, umat pun mendapatkan peneguhan yang tak ternilai: bahwa calon-calon imam yang selama ini mereka doakan, mereka dukung dari kejauhan, adalah manusia nyata yang sedang dalam perjalanan menuju perutusan. Kehadiran fisik para frater di tengah-tengah umat membuat ikatan itu terasa nyata dan hidup.
“Terima kasih kepada seluruh umat Paroki Santo Yoseph Bentengjawa yang telah menerima kunjungan ini dengan tangan terbuka,” ujar Pater Jebadu menutup sambutannya. “Dan terima kasih untuk dukungan kalian bagi panggilan para frater. Kalian adalah bagian dari perjalanan mereka.”
Panggilan Tidak Datang dari Langit
Di depan salib dan tabernakel Tuhan Yesus, di hadapan umat Bentengjawa pagi itu, sebuah janji sederhana diucapkan — dan didengar.
Gereja Katolik di Flores, dan Manggarai Raya pada khususnya, selama ini telah menjadi salah satu lahan panggilan paling subur di seluruh dunia. Namun kesuburan itu tidak datang dengan sendirinya dan tidak terjadi begitu saja. Ia lahir dari keluarga-keluarga yang sehat, harmonis, saleh, dan cukup kuat secara ekonomi. Ia lahir dari komunitas yang merawat benih-benih panggilan dengan doa, teladan, dan dukungan nyata.
Dan hari ini di Bentengjawa, kesuburan itu kembali menegaskan dirinya — dalam satu jawaban umat yang sederhana, serentak, dan penuh keyakinan.
“Amin! Setuju!”
*Diolah dari catatan pastoral Pater Dr. Alexander Jebadu SVD, Dosen IFTK Ledalero. Bentengjawa, 14 Juni 2026.
Veritas Indonesia berkomitmen untuk terus menghadirkan tulisan-tulisan yang meneguhkan iman dan menyuarakan kebenaran. Kami mengundang Anda, para pembaca setia, untuk turut mendukung operasional pelayanan ini melalui donasi ke rekening BCA 6440054739 a.n. Lucia Margaretha Audrey Niron (Bendahara Veritas Indonesia). Agar donasi Anda dapat kami terima dan catat dengan baik, mohon kirimkan bukti transfer kepada Editor Konten kami, Maria Frani Ayu, di nomor 081230038196. Sedikit dari Anda adalah wujud nyata kebersamaan dalam pelayanan ini.











