Perjalanan Apostolik Paus Leo XIV ke Spanyol pada 6-12 Juni, 2026 tidak dapat dipahami sekadar sebagai kunjungan pastoral biasa.
Di balik perayaan liturgi, sambutan hangat umat, dan peneguhan identitas Katolik Spanyol, tersimpan sebuah pesan yang jauh lebih mendalam dan mendesak: ajakan untuk “mengangkat pandangan” kepada realitas dunia yang terluka dan kepada mereka yang selama ini hidup di pinggiran perhatian global.
Pesan tersebut menjadi semakin jelas ketika Paus memilih mengakhiri kunjungannya di Tenerife, Kepulauan Canary. Bagi sebagian orang, Tenerife mungkin dikenal sebagai destinasi wisata yang indah.
Namun di balik pesona alamnya, pulau ini juga menjadi salah satu gerbang utama kedatangan migran dari Afrika menuju Eropa. Di sinilah ribuan orang mempertaruhkan hidup mereka demi harapan akan masa depan yang lebih baik.
Tidak sedikit yang kehilangan nyawa setelah menempuh salah satu jalur migrasi paling berbahaya di dunia, melintasi Samudra Atlantik dengan perahu-perahu yang rapuh dan tidak layak.
Dalam konteks inilah seruan Paus untuk memandang Kristus yang tersalib memperoleh makna yang sangat konkret. Kristus yang tersalib tidak hanya hadir dalam simbol-simbol iman, tetapi juga dalam wajah para migran, pengungsi, korban perang, kemiskinan, konflik politik, dan krisis iklim.
Mereka adalah wajah-wajah yang sering kali tidak terlihat, atau sengaja diabaikan, oleh dunia yang lebih sibuk menghitung angka daripada mendengarkan kisah manusia di baliknya.
Di sinilah pertanyaan kritis perlu diajukan: sejauh mana dunia, termasuk negara-negara maju dan bahkan komunitas Gereja sendiri, sungguh mau melihat mereka? Sejauh mana kita bersedia keluar dari zona nyaman untuk mengakui bahwa tragedi kemanusiaan yang terjadi di perbatasan bukanlah persoalan orang lain, melainkan luka bersama umat manusia?
Kunjungan ini sekaligus menyingkap paradoks Eropa kontemporer. Di satu sisi, Eropa terus menggaungkan nilai-nilai hak asasi manusia, solidaritas, dan martabat pribadi.
Namun di sisi lain, kebijakan pengamanan perbatasan yang semakin ketat sering kali mendorong para migran memilih jalur yang lebih berbahaya dan mematikan.
Penurunan jumlah migran yang mencapai Kepulauan Canary dalam beberapa tahun terakhir belum tentu berarti berakhirnya krisis. Bisa jadi penderitaan itu hanya bergeser ke tempat-tempat yang lebih jauh dari sorotan media dan perhatian publik.
Dengan memilih Tenerife sebagai salah satu titik penting dalam perjalanan apostoliknya, Paus Leo XIV tampaknya ingin menyampaikan pesan yang jelas: dunia tidak boleh memalingkan wajah dari tragedi kemanusiaan yang terus berlangsung di perbatasan-perbatasan modern.
Pilihan ini sekaligus melanjutkan perhatian Gereja terhadap isu migrasi yang selama bertahun-tahun menjadi salah satu fokus utama mendiang Paus Fransiskus.
Paus Leo XIV mengingatkan bahwa perdamaian sejati tidak dapat dibangun hanya melalui kebijakan keamanan atau kontrol perbatasan. Perdamaian membutuhkan pengampunan, rekonsiliasi, dan pengakuan akan martabat setiap pribadi manusia. Tanpa itu, keamanan hanya akan menjadi tembok yang menyembunyikan luka, bukan menyembuhkannya.
Karena itu, perjalanan ini merupakan panggilan profetis bagi Gereja dan masyarakat internasional untuk tidak menutup mata terhadap mereka yang hidup di pinggiran sejarah. Gereja dipanggil bukan hanya untuk berbicara tentang belas kasih, tetapi juga untuk menghadirkannya secara nyata dalam sikap, kebijakan, dan tindakan.
Bagi Gereja di Indonesia, pesan tersebut tidak kehilangan relevansinya. Meskipun konteks migrasi berbeda, pertanyaan yang sama tetap perlu kita ajukan: siapakah “migran” dan “mereka yang tersingkir” di sekitar kita?
Siapa yang belum mendapat tempat dalam perhatian sosial, ekonomi, dan pastoral kita? Siapa yang suaranya tidak terdengar karena tertutup oleh hiruk-pikuk kepentingan yang lebih besar?
Seruan “angkatlah pandanganmu” pada akhirnya bukan sekadar tema perjalanan apostolik. Ia adalah undangan untuk melihat lebih jauh dari diri sendiri, lebih jauh dari batas-batas bangsa, agama, dan kepentingan kelompok.
Mengangkat pandangan berarti berani melihat dunia sebagaimana Allah melihatnya: sebuah keluarga manusia yang martabatnya tidak boleh dibatasi oleh status, asal-usul, atau dokumen perjalanan.
Perjalanan Paus Leo XIV ke Spanyol, karena itu, bukan hanya tentang Spanyol. Ini adalah seruan bagi Gereja universal untuk memperbarui komitmennya terhadap kemanusiaan, khususnya mereka yang paling rentan.
Sebab iman yang sejati tidak hanya menengadah ke surga, tetapi juga berani menatap luka-luka dunia yang ada di hadapan kita—dan bertindak dengan belas kasih untuk menyembuhkannya.
Veritas Indonesia berkomitmen untuk terus menghadirkan tulisan-tulisan yang meneguhkan iman dan menyuarakan kebenaran. Kami mengundang Anda, para pembaca setia, untuk turut mendukung operasional pelayanan ini melalui donasi ke rekening BCA 6440054739 a.n. Lucia Margaretha Audrey Niron (Bendahara Veritas Indonesia). Agar donasi Anda dapat kami terima dan catat dengan baik, mohon kirimkan bukti transfer kepada Editor Konten kami, Maria Frani Ayu, di nomor 081230038196. Sedikit dari Anda adalah wujud nyata kebersamaan dalam pelayanan ini.






