Di balik keistimewaan akal budi yang membedakan kita dari makhluk hidup lainnya, tersimpan sebuah ironi besar: menjadi manusia sering kali berarti terjebak dalam rentetan kebingungan dan perasaan serba salah yang tiada akhir.
Penulis: Albert Santoso
Ingatan saya terlempar pada sebuah iklan rokok di masa remaja yang memicu kebingungan sekaligus kekaguman yang membekas hingga kini. Iklan tersebut menampilkan seekor simpanse yang didandani menyerupai bayi manusia, lengkap dengan topi, pakaian, dan sebotol susu di genggamannya. Namun, bukan atribut itu yang mengunci perhatian saya, melainkan raut wajah sang simpanse yang memancarkan kebingungan luar biasa. Mengusung tagline “Serba Salah Menjadi Manusia”, iklan tersebut tampil sebagai karya kreatif yang secara brilian menelanjangi betapa kompleksnya absurditas kehidupan manusia. Seiring bertambahnya usia dan pengalaman, saya kini memaknai pesan tersebut dengan kacamata yang jauh lebih reflektif.
Kompleksitas pertama berakar pada paradoks entitas manusia itu sendiri. Di satu sisi, kita dikodratkan sebagai makhluk sosial yang mutlak membutuhkan kehadiran orang lain untuk bertahan hidup. Di sisi lain, kita mewarisi ego pribadi yang menuntut untuk dipenuhi. Menyatukan kedua entitas ini bukanlah perkara mudah. Interaksi antarmanusia sering kali berujung pada benturan ego, yang pada titik nadirnya justru mendorong banyak individu untuk menarik diri dan memilih jalur hidup yang terasing atau individualis.
Bahkan, niat baik pun tidak kebal dari ironi ini. Kepedulian yang kita tawarkan sering kali terdistorsi dan disalahartikan sebagai kerugian oleh pihak penerima. Sebuah contoh kasual namun relevan: ketika kita bermaksud membahagiakan seorang kawan dengan mentraktir makanan kesukaannya, niat baik itu bisa berbalik menjadi bumerang saat makanan tersebut memicu lonjakan kolesterolnya. Alih-alih terima kasih, yang kita tuai justru penghakiman, menyisakan kita dalam posisi yang lagi-lagi serba salah.
Kesulitan beradaptasi sebagai manusia juga diperparah oleh jaring-jaring norma dan aturan yang mengekang kebebasan. Kesadaran dan peradaban memaksa manusia untuk menciptakan tatanan. Jika hewan hanya tunduk pada insting dan batas teritorial tak tertulis, manusia harus berhadapan dengan berlapis-lapis konstruksi sosial, dogma, hingga hukum positif. Konstruksi inilah yang mengamputasi kebebasan absolut, membuat kita tidak akan pernah bisa hidup sebebas satwa di alam liar.
Lebih jauh lagi, manusia memikul beban yang tak pernah dirasakan oleh flora dan fauna: beban kebebasan memilih. Akal dan budi menghamparkan ribuan persimpangan pilihan di setiap fase kehidupan kita. Konsekuensi logisnya, setiap keputusan yang diambil menuntut pertanggungjawaban. Satu langkah yang keliru hari ini dapat merombak total lanskap masa depan kita. Kehidupan kita berevolusi menjadi rentetan kalkulasi yang melelahkan.
Pada akhirnya, menavigasi kehidupan sebagai manusia memang bukan tugas yang sederhana. Ada kebenaran universal dalam kutipan ikonis Paman Ben dari film Spider-Man (2002): “Semakin besar kekuatan, semakin besar pula tanggung jawab yang menyertainya.” Akal budi adalah supremasi yang membuat manusia mampu menundukkan alam dan makhluk hidup lainnya. Namun, supremasi itu datang dengan kewajiban etis untuk menjaga kelestarian semesta yang kita tempati. Di tengah segala kerumitan dan perasaan serba salah ini, kemampuan untuk terus bersyukur adalah satu-satunya jangkar kewarasan. Sebab, berbekal akal budi dan kedalaman hati nurani yang dianugerahkan Tuhan itulah, kita akan selalu menemukan jalan pulang dari setiap labirin masalah yang kita ciptakan sendiri.
Veritas Indonesia berkomitmen untuk terus menghadirkan tulisan-tulisan yang meneguhkan iman dan menyuarakan kebenaran. Kami mengundang Anda, para pembaca setia, untuk turut mendukung operasional pelayanan ini melalui donasi ke rekening BCA 6440054739 a.n. Lucia Margaretha Audrey Niron (Bendahara Veritas Indonesia). Agar donasi Anda dapat kami terima dan catat dengan baik, mohon kirimkan bukti transfer kepada Editor Konten kami, Maria Frani Ayu, di nomor 081230038196. Sedikit dari Anda adalah wujud nyata kebersamaan dalam pelayanan ini.








