Dalam peringatan Hari Lahir Pancasila, Pater Felix Baghi, SVD, mengajak kita menengok kembali masa pengasingan Sukarno di Ende sebagai ruang permenungan yang melahirkan benih-benih gagasan Pancasila. Melalui surat-surat dan karya tonil Sukarno, refleksi ini menunjukkan bahwa dasar bangsa Indonesia bertumbuh dari dialog, penghargaan terhadap keberagaman, dan pencarian mendalam akan kemanusiaan. Di tengah tantangan kebangsaan saat ini, tulisan ini mengingatkan bahwa Pancasila tetap menjadi kompas moral yang mempersatukan bangsa dalam semangat persaudaraan dan keadilan.
Oleh Pater Felix Baghi SVD*
Setiap tanggal 1 Juni, bangsa Indonesia mengenang sebuah pidato. Namun sesungguhnya, yang kita kenang bukan sekadar pidato. Yang kita kenang adalah lahirnya sebuah kesadaran. Yang kita rayakan bukan sekadar rangkaian kata yang diucapkan Sukarno di hadapan Sidang Badan Penyelidik Usaha-Usaha Persiapan Kemerdekaan (BPUPK) tahun 1945, melainkan lahirnya suatu visi tentang Indonesia; sebuah cita-cita besar tentang bagaimana manusia yang berbeda-beda dapat hidup bersama sebagai satu bangsa yang merdeka.
Pancasila tidak lahir dalam ruang hampa. Ia bukan ilham yang datang seketika. Ia bukan pula rumusan politik yang disusun terburu-buru untuk menjawab kebutuhan sesaat. Pancasila lahir dari pergulatan panjang. Ia ditempa oleh pengalaman sejarah, dimatangkan oleh refleksi intelektual, dan disuburkan oleh perjumpaan-perjumpaan kemanusiaan yang mendalam.
Karena itu, ketika kita memperingati Hari Lahir Pancasila, sesungguhnya kita sedang diajak menelusuri kembali perjalanan batin seorang Sukarno yang berusaha memahami Indonesia jauh sebelum Indonesia menjadi negara. Kita diajak kembali ke sebuah tempat yang tampaknya kecil dalam peta, tetapi sangat besar dalam sejarah bangsa: Ende.
Kesunyian yang mengandung Indonesia
Di sanalah, jauh dari hiruk-pikuk politik kolonial, jauh dari pusat kekuasaan dan sorotan publik, seorang tahanan politik sedang memikirkan masa depan bangsanya. Di sanalah, dalam keterasingan yang dipaksakan oleh kolonialisme, tumbuh benih-benih gagasan yang kelak menjadi dasar bagi Indonesia merdeka.
Buku Tafsir Karya-Karya Sukarno: Telaah Hermeneutis terhadap Surat dan Tonil di Ende mengingatkan kita akan fakta yang sering terlupakan itu. Buku ini bukan sekadar kumpulan tulisan akademik. Ia adalah undangan untuk memasuki ruang kontemplasi Sukarno. Ia mengajak kita menyaksikan bagaimana pengasingan berubah menjadi perenungan, bagaimana kesunyian berubah menjadi kreativitas, dan bagaimana keterbatasan justru melahirkan keluasan visi.
Selama ini kita mengenal Sukarno sebagai proklamator, presiden pertama Republik Indonesia, dan orator yang mampu menggerakkan massa dengan kata-katanya. Namun Ende memperlihatkan wajah Sukarno yang lain: seorang pembaca yang tekun, seorang pencari yang gelisah, seorang pemikir yang tak pernah berhenti bertanya tentang manusia, agama, kebudayaan, keadilan, dan masa depan bangsanya.
Di Ende, Sukarno tidak sedang membangun kekuasaan. Ia sedang membangun gagasan. Ia membaca dengan rakus. Ia menulis surat dengan penuh refleksi. Ia berdiskusi dengan para pastor Serikat Sabda Allah (SVD). Ia mendengarkan pengalaman rakyat kecil. Ia menyelami kehidupan masyarakat Flores yang sederhana namun kaya akan nilai kemanusiaan. Dan melalui tonil-tonil yang dipentaskannya, ia menyalurkan keresahan intelektual sekaligus harapan politiknya.
Apa yang tampak sebagai pengasingan ternyata menjadi sekolah kebangsaan. Apa yang tampak sebagai keterpisahan ternyata menjadi ruang perjumpaan. Apa yang tampak sebagai kesunyian ternyata menjadi rahim yang melahirkan gagasan-gagasan besar.
Perenungan Iman dan Kemanusiaan di Ende
Dalam perspektif religius, pengalaman Sukarno di Ende juga dapat dibaca sebagai ruang perjumpaan yang melampaui sekat-sekat ideologis dan politik. Di tengah keterasingan, ia justru mengalami kedalaman permenungan yang membuka dirinya pada pertanyaan-pertanyaan fundamental tentang Tuhan, manusia, dan makna hidup bersama dalam keberagaman.
Kehadiran para imam Serikat Sabda Allah (SVD) di Ende, termasuk dalam dialog dan percakapan sehari-hari, memperlihatkan adanya ruang pertukaran gagasan yang tidak hanya intelektual, tetapi juga spiritual. Di sana, iman tidak berdiri sebagai tembok pemisah, melainkan sebagai jembatan dialog tentang kemanusiaan dan keadilan.
Dari perspektif ini, Pancasila dapat dipahami bukan hanya sebagai hasil perumusan politik, tetapi juga sebagai buah dari perjumpaan nilai-nilai etis dan religius yang hidup dalam masyarakat. Penghargaan terhadap martabat manusia, solidaritas, dan keadilan sosial yang kemudian menjadi inti Pancasila sejatinya berakar pada kesadaran moral yang juga memiliki resonansi religius.
Dengan demikian, Ende tidak hanya menjadi ruang sejarah politik, tetapi juga ruang kontemplasi yang mempertemukan iman, budaya, dan cita-cita kebangsaan dalam satu horizon kemanusiaan yang lebih luas.
Dari Pengasingan Menuju Pancasila
Surat-surat Sukarno dari Ende menunjukkan seorang pemikir yang terbuka terhadap dialog. Ia berbicara tentang Islam, pembaruan keagamaan, modernitas, dan masa depan masyarakat yang plural. Dalam surat-surat itu, kita menemukan bahwa nasionalisme Indonesia tidak lahir dari fanatisme agama, tidak pula dari superioritas etnis tertentu. Nasionalisme Indonesia lahir dari kesadaran bahwa keberagaman bukan ancaman yang harus ditaklukkan, melainkan anugerah yang harus dirawat.
Sementara itu, tonil-tonil yang ditulis dan dipentaskannya memperlihatkan daya imajinasi seorang Sukarno. Melalui panggung teater, ia berbicara tentang ketidakadilan, kemerdekaan, martabat manusia, dan cita-cita kebangsaan. Di dalam karya-karya itu, kita dapat menemukan embrio Pancasila sebelum Pancasila memperoleh namanya.
Karena itu, pidato 1 Juni 1945 tidak boleh dipahami sebagai sebuah peristiwa yang berdiri sendiri. Pidato itu adalah puncak gunung es dari pergulatan yang panjang. Apa yang diucapkan Sukarno di Jakarta pada tahun 1945 sesungguhnya telah lama direnungkan di Ende. Apa yang bergema di ruang sidang BPUPK sebelumnya telah bertumbuh dalam ruang sunyi pengasingan.
Di sinilah Ende memperoleh makna simboliknya yang mendalam. Ende mengajarkan kepada kita bahwa gagasan besar tidak selalu lahir di pusat kekuasaan. Kadang-kadang sejarah justru bergerak dari pinggiran. Kadang-kadang masa depan sebuah bangsa dirancang oleh seseorang yang sedang diasingkan. Kadang-kadang suara yang paling menentukan justru lahir dari kesunyian.
Di bawah pohon sukun yang kini menjadi situs sejarah, Sukarno tidak sedang memikirkan dirinya sendiri. Ia sedang memikirkan Indonesia yang belum lahir. Ia sedang membayangkan sebuah bangsa yang mampu melampaui sekat agama, suku, ras, dan golongan. Ia sedang mencari dasar filosofis yang cukup luas untuk menaungi seluruh anak bangsa.
Surat Ende Untuk Indonesia Hari ini
Hari ini, ketika Indonesia menghadapi polarisasi politik, menguatnya intoleransi, ketimpangan sosial yang kian tajam, krisis ekologis yang mengancam masa depan, dan kecenderungan individualisme yang mengikis solidaritas, suara dari Ende kembali menemukan relevansinya.
Ende seolah berbisik kepada Indonesia: jangan biarkan perbedaan berubah menjadi permusuhan. Ende mengingatkan bahwa Indonesia tidak dibangun oleh kebencian. Indonesia dibangun oleh perjumpaan. Indonesia tidak berdiri di atas keseragaman. Indonesia berdiri di atas penghormatan terhadap perbedaan.Indonesia tidak lahir dari kemenangan satu kelompok atas kelompok lain. Indonesia lahir dari kesediaan semua kelompok untuk hidup bersama dalam satu rumah kebangsaan.
Karena itu, Pancasila tidak boleh diperlakukan hanya sebagai simbol negara yang diperingati setiap tahun. Pancasila adalah energi moral bangsa. Ia adalah kompas yang menunjukkan arah perjalanan Indonesia. Ia adalah janji bersama bahwa kebebasan harus berjalan bersama keadilan, bahwa keberagaman harus berjalan bersama persatuan, dan bahwa kekuasaan harus selalu tunduk pada kemanusiaan.
Mengenang 1 Juni berarti menghidupkan kembali janji tersebut. Kita tidak cukup menghafal lima sila. Kita tidak cukup mengutip pidato Sukarno. Kita tidak cukup mengadakan upacara dan seremoni. Yang lebih penting adalah menghidupi semangat yang melahirkan Pancasila: semangat dialog, semangat keterbukaan, semangat persaudaraan, dan semangat keberanian untuk membayangkan Indonesia yang lebih baik.
Maka, membaca kembali surat-surat dan tonil-tonil Sukarno dari Ende bukanlah sekadar kegiatan akademik. Itu adalah upaya menemukan kembali akar moral bangsa ini. Sebab di dalamnya kita tidak hanya menemukan seorang negarawan besar, tetapi juga seorang filsuf yang dengan tekun berusaha menjawab pertanyaan paling mendasar: Indonesia yang seperti apakah yang ingin kita bangun bersama?
Pada setiap peringatan Hari Lahir Pancasila, Ende seakan kembali memanggil Indonesia untuk bercermin pada asal-usulnya. Dari kota kecil di ujung timur Nusantara itu, kita belajar bahwa bangsa ini lahir dari refleksi yang mendalam, dipelihara oleh dialog yang tulus, dan hanya akan bertahan apabila tetap setia pada cita-cita kemanusiaan yang menjadi jiwa Pancasila.
Dari Ende, Sukarno pernah bermimpi tentang Indonesia.Kini, delapan puluh satu tahun setelah pidato 1 Juni 1945, pertanyaan yang sama kembali diajukan kepada kita semua: apakah kita masih berani memimpikan Indonesia sebagaimana yang dibayangkan Sukarno—Indonesia yang adil, Indonesia yang bersatu, Indonesia yang menghormati martabat setiap manusia, dan Indonesia yang menjadikan Pancasila bukan sekadar warisan sejarah, melainkan napas hidup bersama? Jawaban atas pertanyaan itulah yang akan menentukan masa depan Indonesia.
*Penulis merupakan dosen filsafat pada Institut Filsafat dan Teknologi Kreatif (IFTK) Ledalero, Flores.
Veritas Indonesia berkomitmen untuk terus menghadirkan tulisan-tulisan yang meneguhkan iman dan menyuarakan kebenaran. Kami mengundang Anda, para pembaca setia, untuk turut mendukung operasional pelayanan ini melalui donasi ke rekening BCA 6440054739 a.n. Lucia Margaretha Audrey Niron (Bendahara Veritas Indonesia). Agar donasi Anda dapat kami terima dan catat dengan baik, mohon kirimkan bukti transfer kepada Editor Konten kami, Maria Frani Ayu, di nomor 081230038196. Sedikit dari Anda adalah wujud nyata kebersamaan dalam pelayanan ini.








