Salib Merah dan Paru-Paru yang Terkoyak di Ujung Timur

Pernahkah kita menghentikan waktu sejenak, menatap lekat-lekat putaran gula yang perlahan larut dalam secangkir kopi pagi kita? Atau pernahkah kita merenung di tengah kemacetan, memikirkan dari rahim bumi mana tetes-tetes bahan bakar yang menggerakkan roda kendaraan kita berasal? Di balik selimut kenyamanan modernitas yang banal dan sering kita anggap sebagai hal yang lumrah, ternyata ada sebuah elegi panjang yang sedang ditulis di ufuk timur sana.


Harga dari apa yang kita sebut sebagai “kemajuan” nyatanya sedang dibayar dengan koin air mata, ketakutan yang mencekik dada, dan lebih jauh lagi dengan ancaman kepunahan sebuah peradaban yang usianya jauh lebih tua dari republik ini.


Narasi dari rimba Papua yang perlahan terkoyak bukanlah sekadar berita tentang hamparan konsesi, angka-angka investasi, triliunan rupiah, atau ambisi lumbung pangan. Ini adalah cerita tentang napas manusia. Ini adalah jeritan tertahan dari saudara-saudara kita yang sedang berdiri dengan lutut bergetar, menyaksikan rumah suci mereka diratakan dengan tanah.

Ketika Yasinta melihat hamparan hutan dan rawa yang telah menghidupi leluhurnya selama ribuan purnama berubah menjadi debu di bawah roda rantai dan deru ribuan mesin raksasa, ia tidak sekadar kehilangan sebuah ladang ekonomi. Ia sedang dipaksa menyaksikan kematian rumah, ruang tamu, tempat keluarganya bercengkerama dengan semesta.

Ketika Franky dan orang-orang suku Auyu menancapkan ribuan Salib Merah di tapal batas tanah adat mereka, itu bukanlah sebuah deklarasi pemberontakan yang menantang moncong senjata. Itu adalah doa yang paling putus asa, sebuah ketukan berdarah di pintu langit, sekaligus gugatan yang paling senyap ke muka nurani kita. Mereka memohon keadilan dengan cara yang paling spiritual dan tak berdaya, karena suara parau mereka di meja-meja kekuasaan dunia manusia selalu membentur tembok tuli.

Cobalah untuk benar-benar meresapinya. Bayangkan rumah tempat kita dilahirkan, halaman tempat kita menanam ari-ari anak-anak kita, dan dinding tempat kita mengukir sejarah keluarga, tiba-tiba dirampas oleh orang-orang asing yang datang membawa selembar kertas peta yang dibuat dari balik meja di Jakarta. Mereka merampasnya atas nama “pembangunan”, sebuah frasa magis yang kemanfaatannya tidak pernah menyentuh kulit orang-orang asli Papua.

Sebab, ketika hamparan tanah itu dikoyak, yang dirampas bukan sekadar aset fisik, melainkan jangkar identitas dan ikatan spiritual mereka dengan alam. Keterasingan yang menggigit akibat tercerabut dari akar inilah yang kini mendekap dada Vincen, Natalis, dan Willem. Bagi mereka, sebatang pohon, seperti pohon Sagu bukanlah sekadar gumpalan karbohidrat untuk mengganjal lapar. Pohon sagu adalah darah dan daging leluhur; ia adalah manifestasi dari roh nenek moyang yang mengorbankan tubuhnya agar anak cucunya dapat terus bernapas. Maka, menebang dan menghancurkan pohon sagu, bagi mereka, sama menyakitkannya dengan memaksa mereka membunuh ibu kandung mereka sendiri.

Rentetan kepedihan ini dibeberkan bukan untuk menyulut api amarah yang membabi buta. Kemarahan yang reaktif, caci maki yang bising, seringkali hanya menguap menjadi asap yang memperkeruh udara di negeri yang sudah terlalu lelah bertikai. Sebaliknya, tulisan ini adalah sebuah panggilan hening untuk pulang. Pulang ke dalam diri kita sendiri. Mari kita izinkan hati kita retak sejenak, membiarkan jiwa kita ikut tersayat oleh ketidakberdayaan mereka. Sebab, hanya dari rahim empati yang sejatilah, kebijaksanaan untuk mengambil tindakan dapat terlahir.

Lalu, apa yang tersisa untuk kita lakukan? Di tengah jarak geografis yang membentang ribuan kilometer, bagaimana kita, orang-orang biasa ini, bisa menjelma menjadi embun solusi, dan bukan sekadar kerumunan penonton yang meramaikan panggung duka? Aksi yang berdampak tajam tidak selalu mensyaratkan kepalan tangan di jalanan. Perubahan yang mengakar justru sering kali dimulai dari revolusi kecil di meja makan dan ruang-ruang keseharian kita.

Telinga yang Sudi Menampung Duka dan Suara yang Menolak Bungkam

Langkah pertama dari penyembuhan adalah kesediaan untuk mendengar. Sudah terlalu lama kita mengidap sindrom “sang penyelamat”, mendiktekan dengan kacamata orang luar tentang apa yang paling baik untuk tanah Papua. Kini, saatnya kita membunuh ego tersebut. Dengarkan rintihan masyarakat adat. Pinjamkan ruang-ruang kosong di media sosial kita, di meja makan keluarga, dan di sela-sela obrolan kedai kopi, untuk menceritakan kisah Yasinta, Franky, dan Willem. Jadilah pelantang suara bagi pita suara mereka yang sedang digilas oleh raungan ekskavator. Pastikan mereka di ufuk timur sana tahu, bahwa di seberang lautan, ada saudara-saudara yang menolak membiarkan mereka berjuang dalam sunyi.

Menghitung Harga Nyawa dalam Secangkir Manis dan Tangki Mesin

Ketajaman sebuah bangsa juga diukur dari seberapa kritis rakyatnya mengonsumsi. Setiap liter biodiesel di dalam tangki kita dan setiap sendok gula yang menyentuh lidah kita memiliki jejak sejarah yang merangkak dari tanah yang dibabat. Kita harus mulai menanamkan kebiasaan untuk melacak asal usul kenyamanan kita. Saat kita memilih untuk menjadi konsumen yang gelisah dan berkesadaran, kita sedang mengirimkan pesan paling mematikan bagi keserakahan korporasi: bahwa kita menolak membeli produk yang ditanam di atas kuburan massal ekologi dan dirawat oleh air mata perampasan hak. Kita menuntut pembangunan yang menghidupkan, bukan yang menghisap kehidupan orang-orang yang rentan.

Menjadi Perisai di Meja Keadilan

Empati yang matang akan bermuara pada dukungan yang nyata. Di luar sana, ada banyak lembaga bantuan hukum, organisasi akar rumput, dan pejuang kemanusiaan yang sedang pasang badan mendampingi masyarakat adat di pengadilan dan ruang negosiasi. Mereka berdiri menghadapi raksasa. Salurkanlah apa yang kita miliki, baik itu kelebihan rezeki, sumbangsih pemikiran, keahlian hukum, atau sekadar dukungan moral untuk menjadi amunisi damai bagi mereka. Bantulah mereka membangun benteng konstitusional agar hak-hak masyarakat adat tak lagi bisa disapu bersih hanya dengan stempel kekuasaan.

Mewariskan Kompas Nurani pada Generasi Baru

Pada akhirnya, pertempuran melawan kolonialisme gaya baru ini adalah maraton panjang, bukan lari cepat. Tugas terbesar kita adalah menanamkan benih kemanusiaan ini ke dalam dada anak-anak kita. Duduklah bersama mereka, tatap matanya, dan ajarkan bahwa peradaban yang sejati pantang dibangun di atas tulang belulang dan perampasan hak sesama manusia. Beri tahu mereka bahwa sebuah bangsa, sehebat apa pun infrastrukturnya, hanya pantas disebut maju jika manusia yang paling lemah dan tersingkir di dalamnya bisa tidur dengan aman tanpa takut tanahnya dirampas keesokan pagi.

Di pedalaman rimba yang jauh itu, ada “Pesta Babi” yang dirawat dengan kesabaran luar biasa selama sepuluh tahun oleh suku Muyu. Itu bukanlah sekadar tradisi usang; itu adalah manifesto cinta pada kehidupan, pada persaudaraan, dan pada alam. Di tengah ancaman mesin-mesin penghancur, mereka masih bersikeras menjaga hutan yang tanpanya kita sadari, adalah paru-paru yang menghembuskan udara ke dalam dada kita sendiri.

Kini, saatnya kita membalas cinta yang gigih itu. Mari kita berhenti melihat hamparan tanah di ujung timur sana sebagai kanvas kosong yang siap dieksploitasi demi angka-angka di bursa saham. Lihatlah itu sebagai kuil suci bagi jutaan manusia berjiwa yang sedang menengadah, meminta tolong agar peradabannya diizinkan untuk melihat matahari terbit esok hari.

Semoga telinga nurani kita belum terlalu pekak untuk mendengar gemanya, dan semoga hati kita belum terlalu beku untuk memilih peduli.


Veritas Indonesia berkomitmen untuk terus menghadirkan tulisan-tulisan yang meneguhkan iman dan menyuarakan kebenaran. Kami mengundang Anda, para pembaca setia, untuk turut mendukung operasional pelayanan ini melalui donasi ke rekening BCA 6440054739 a.n. Lucia Margaretha Audrey Niron (Bendahara Veritas Indonesia). Agar donasi Anda dapat kami terima dan catat dengan baik, mohon kirimkan bukti transfer kepada Editor Konten kami, Maria Frani Ayu, di nomor 081230038196. Sedikit dari Anda adalah wujud nyata kebersamaan dalam pelayanan ini.

Maria Frani Ayu Andari Dias
Maria Frani Ayu Andari Diashttps://www.veritasindonesia.id/
Editor Content di Veritas Indonesia, Penulis dan Pengajar Ilmu Keperawatan Jiwa di Institut Kesehatan Suaka Insan.

Related Articles

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

spot_img

Terbaru

Populer