Dalam penerbangan kembali ke Roma usai perjalanan apostolik di Afrika, Paus Leo XIV menyampaikan refleksi dan pandangannya mengenai isu-isu global seperti perang, migrasi, diplomasi, dan martabat manusia.
Ia menegaskan bahwa kunjungan tersebut adalah misi pastoral. “Sebagai Paus dan Uskup Roma, saya datang untuk bertemu, mendampingi, dan mengenal umat Allah,” ujarnya, menekankan bahwa pewartaan Injil tetap menjadi tujuan utama, bukan kepentingan politik.
Damai dan Martabat Manusia
Menanggapi konflik global, khususnya di Iran dan Timur Tengah, Paus dengan tegas menyatakan bahwa Gereja tidak dapat mendukung perang. Ia menyoroti banyaknya korban sipil, terutama anak-anak.
“Ini bukan soal perubahan rezim, tetapi bagaimana mempromosikan nilai tanpa mengorbankan nyawa tak bersalah,” katanya. Ia juga mengenang seorang anak di Lebanon yang pernah menyambutnya, namun kemudian menjadi korban perang.
Paus mengajak semua pihak untuk mengedepankan dialog, menghormati hukum internasional, dan membangun budaya damai. Ia juga menegaskan penolakannya terhadap hukuman mati: “Kehidupan manusia harus dihormati dari awal hingga akhir alami.”
Migrasi dan Keadilan Global
Mengenai migrasi, Paus menyebutnya sebagai tantangan global yang berkaitan erat dengan ketimpangan ekonomi. Ia mempertanyakan peran negara-negara kaya dalam membantu negara miskin.
“Mengapa kita tidak menciptakan peluang di negara asal mereka?” ujarnya. Ia menegaskan bahwa negara berhak mengatur perbatasan, tetapi para migran tetap harus diperlakukan dengan martabat sebagai manusia.
Diplomasi dan Persatuan Gereja
Menanggapi kritik atas kunjungannya ke negara dengan rezim otoriter, Paus menjelaskan bahwa diplomasi Gereja bertujuan membangun dialog dan membawa perubahan nyata, meski sering dilakukan tanpa sorotan publik.
Terkait isu moral, termasuk pemberkatan pasangan sesama jenis, Paus menekankan bahwa persatuan Gereja tidak boleh hanya berfokus pada isu seksual. “Yang utama adalah keadilan, kebebasan, dan martabat manusia,” tegasnya.
Di akhir, Paus mengungkapkan harapannya untuk terus mengunjungi berbagai negara, khususnya di Amerika Latin, sebagai bagian dari misinya membawa pesan Injil, damai, dan harapan bagi semua.




