Di balik gemerlap dan hiruk-pikuk kota Napoli pada abad ke-19, tersimpan sebuah kisah transformasi luar biasa dari seorang gadis dari keluarga terpandang yang menanggalkan segala kemewahan duniawi demi mengabdi seutuhnya kepada kaum papa dan mendirikan sebuah kongregasi besar berskala global.
Veritas Indonesia. Maria Carmela Ascione lahir di kota Barra, Provinsi Napoli, Italia, pada tanggal 28 Februari 1799. Ia adalah anak sulung dari sepuluh bersaudara buah hati pasangan dr. Giuseppe Ascione dan Fortunata Carrese, sebuah keluarga Katolik yang saleh dan terpandang. Pada masa remajanya, Maria Carmela tumbuh sebagaimana gadis-gadis dari kelas sosialnya; ia sempat terbuai oleh gemerlap kehidupan duniawi. Ia dikenal gemar bersolek dan kehilangan minat pada sekolah, hingga sang ayah harus mendatangkan guru privat ke rumah. Namun, di balik penampilannya yang modis, ia memiliki jiwa kepemimpinan. Maria sering mengoordinasi teman-teman sebayanya untuk berdoa dan berbagi pengalaman rohani. Secara perlahan, kepribadiannya mulai bertransformasi dan benih panggilan untuk menjalani hidup membiara pun mulai bersemi di dalam hatinya.

Perjalanan spiritual Maria Carmela tidaklah instan. Pada usia 17 tahun, setelah berhasil meyakinkan sang ayah, ia bergabung dengan Kongregasi Benediktin Donaromita di Napoli. Sayangnya, ia hanya bertahan selama enam bulan karena penyakit yang menderanya, yang memaksanya kembali pulang ke rumah. Setelah dua tahun berjuang melawan rasa sakit dan penderitaan fisik, Maria Carmela kembali mencoba menempuh jalan suci. Ia masuk ke rumah retret Addolorata all’Olivella di Napoli. Setelah tujuh bulan menjalani masa novisiat, tepat pada usia 21 tahun, ia mengikrarkan kaul pertamanya, mengenakan jubah kebiaraan, dan mengambil nama biara: Maria Luisa dari Yesus (Madre Maria Luisa di Gesù).
Cobaan kembali datang ketika ia terserang demam yang sangat parah. Dokter bahkan memperkirakan usianya hanya tersisa delapan hari. Ia pun terpaksa dipulangkan kembali ke rumah ayahnya. Namun, mukjizat terjadi. Ia sembuh total dari penyakit mematikan tersebut. Begitu pulih, ia segera kembali ke biara. Karena dedikasi dan ketaatannya yang teguh, ia kemudian ditunjuk sebagai pimpinan biara. Selama 14 tahun menjalankan tugas tersebut, kepemimpinannya berhasil menarik simpati banyak donatur yang turut mendukung karya pelayanannya.
Memasuki tahun 1830, Madre Maria Luisa mulai tergerak untuk mendirikan sebuah kongregasi baru. Meski menyadari segala keterbatasannya, ia memercayakan setiap rencananya pada penyelenggaraan Ilahi. Berkat pengalaman spiritualnya yang mendalam dan kebijaksanaan hidupnya, ia berhasil menolong banyak orang baik yang menderita secara fisik maupun moral. Banyak orang menemukan penghiburan, kekuatan, dan ketenangan batin saat bersamanya. Namanya pun semakin masyhur di Napoli dan sekitarnya. Ia selalu menyambut siapa saja dengan sukacita. Kesaksian hidupnya yang luar biasa membuat masyarakat menjulukinya sebagai “orang kudus yang hidup” (a living saint).
Tahun 1835 menandai babak baru ketika ia bertemu dengan Monsinyur Luigi Navarro, yang kelak menjadi bapa rohani, penasihat utama, sekaligus penderma bagi lembaga yang ia dirikan. Ketika wabah kolera melanda Napoli pada tahun 1836, Madre Maria Luisa turut turun tangan hingga ia sendiri ikut terjangkit, yang menyebabkan kesehatannya terus menurun dari hari ke hari.
Meskipun kesehatannya rapuh, semangatnya tidak pernah padam. Tepat pada 8 Mei 1840, setelah melalui perjuangan panjang, rumah pertama kongregasinya resmi dibuka di wilayah S. Lucia, Napoli, salah satu kawasan paling padat dan miskin di daerah tersebut. Ia mendirikan komunitas ini bersama saudari kandungnya, seorang suster dan seorang novis dari kongregasi sebelumnya, serta tiga aspiran muda. Pada tahun 1843, mereka mengikrarkan kaul pertama, yang secara resmi menandai lahirnya kelompok pertama Suster-suster Santa Maria Berdukacita (Kongregasi Suore dell’Addolorata).

Karya utama para suster ini berfokus pada pelayanan pastoral, mengajarkan katekismus, dan memberikan pendidikan dasar bagi anak-anak dan remaja di S. Lucia yang tidak memiliki akses ke pendidikan formal. Mereka merangkul anak-anak jalanan, mengajarkan para gadis remaja keterampilan menata rumah, dan memberikan kegiatan positif demi masa depan mereka. Dalam pelayanannya, Madre Maria Luisa juga bersahabat dengan Putri Zenaida Volkonskaya dari Rusia. Sang Putri, yang saat itu tengah berduka atas wafatnya sang suami, menemukan ketenangan batin berkat nasihat Madre Maria Luisa dan kelak menjadi salah satu donatur utama kongregasi ini.
Di usianya yang ke-36, atas ketaatan pada nasihat bapa rohaninya, Madre Maria Luisa mulai menulis. Ia menyusun komentar Injil dan bacaan Alkitab. Karya perdananya dicetak pada tahun 1839 di Imola atas permintaan Uskup Mastai Ferretti (yang kelak menjadi Paus Pius IX). Pertemuan dengan sang Uskup menumbuhkan persahabatan yang terus terjalin lewat surat-menyurat, bahkan ketika Mastai Ferretti telah menduduki Tahta Suci. Karya tulis lainnya, termasuk renungan, buku devosi, dan komentar atas Kitab Wahyu, terus diterbitkan hingga ia berusia 80 tahun dan bahkan diterjemahkan ke dalam bahasa Prancis.
Memasuki bulan Desember 1874, kesehatannya mencapai titik kritis akibat penyakit hati kronis yang membuatnya tak lagi bisa beranjak dari tempat tidur. Tubuhnya kian melemah, dan pada tanggal 10 Januari 1875, Madre Maria Luisa mengembuskan napas terakhirnya. Selama tiga hari tiga malam, peti jenazahnya dibiarkan terbuka agar masyarakat dari berbagai penjuru dapat memberikan penghormatan terakhir.
Jenazahnya awalnya dimakamkan di pekuburan umum Santa Maria del Pianto. Namun, pada 22 April 1947, kerangkanya dipindahkan ke Gereja Stella Mattutina milik Kongregasi Suster-suster Santa Maria Berdukacita.

Meski raganya telah tiada, Madre Maria Luisa mewariskan teladan hidup yang luar biasa. Ia mengajarkan kita untuk selalu percaya pada pertolongan dan kemurahan hati Tuhan, serta memiliki iman yang tangguh menghadapi masa depan. Warisan cintanya tidak hanya mengubah Napoli, tetapi juga dunia. Setelah kepergiannya, kongregasi yang ia dirikan terus berkembang dan mendirikan yayasan-yayasan baru untuk menampung anak-anak terlantar. Kini, karya pelayanan Kongregasi Suster Santa Maria Berdukacita telah tersebar menembus batas benua, dari Italia, Kanada, Meksiko, Madagaskar, Filipina, Vietnam, hingga ke Indonesia.
Veritas Indonesia berkomitmen untuk terus menghadirkan tulisan-tulisan yang meneguhkan iman dan menyuarakan kebenaran. Kami mengundang Anda, para pembaca setia, untuk turut mendukung operasional pelayanan ini melalui donasi ke rekening BCA 6440054739 a.n. Lucia Margaretha Audrey Niron (Bendahara Veritas Indonesia). Agar donasi Anda dapat kami terima dan catat dengan baik, mohon kirimkan bukti transfer kepada Editor Konten kami, Maria Frani Ayu, di nomor 081230038196. Sedikit dari Anda adalah wujud nyata kebersamaan dalam pelayanan ini.










