Sidang Pleno FABC XII Jakarta Resmi Ditutup Hari Ini

Jakarta, Veritas Indonesia. Di bawah teriknya matahari Jakarta, ada sebuah lorong sunyi yang menyimpan kekuatan luar biasa. Terowongan Silaturahmi yang menghubungkan Gereja Katedral Santa Perawan Maria Diangkat ke Surga dan Masjid Istiqlal kini tidak sekadar berdiri sebagai lorong beton bawah tanah. Bagi para gembala Gereja Asia, lorong ini menjadi simbol nyata bahwa iman memanggil kita untuk membangun jembatan persaudaraan, bukan penghalang pemisah. Momen inilah yang merangkum ruh perjalanan Sidang Paripurna Federasi Konferensi Uskup-Uskup Asia (FABC) ke-12 yang digelar di Jakarta pada 20 hingga 26 Juli 2026.

Berjalan Bersama dalam Kerentanan

Seperti sosok Natanael dalam Kitab Suci, para uskup, delegasi, dan mitra dari berbagai belahan dunia datang ke Jakarta dengan membawa beban kekhawatiran, keterbatasan, sekaligus harapan. Kepada mereka, Tuhan seolah menggemakan kembali janji-Nya: “Engkau akan melihat hal-hal yang lebih besar”. Janji ini menjadi undangan lembut agar umat beriman mengangkat pandangan, melampaui ketakutan dan prasangka, menuju cakrawala Kerajaan Allah yang lebih luas.

Dalam hari-hari yang diisi dengan doa dan Percakapan dalam Roh, disadari kembali bahwa sinodalitas bukanlah sekadar metode kerja kelembagaan. Sinodalitas adalah jalan pertobatan; sebuah proses yang mengubah hati dan membarui relasi sebelum menyentuh struktur institusi. Gereja pun diajak berani menatap ke dalam, mengakui bahwa tantangan klerikalisme masih membayangi dan kerap menghambat persekutuan seluruh umat yang telah dibaptis. Menghadapi hal ini, Gereja ditantang untuk terus menumbuhkan budaya mendengarkan dan menghidupi kepemimpinan yang melayani.

Baca Juga Artikel:  Paus Leo XIV Umumkan Tema Hari Komunikasi Sosial Sedunia ke-60: “Menjaga Suara dan Wajah Manusia”

Menjadi Jembatan di Dunia yang Terluka

Dunia saat ini sedang diuji oleh polarisasi yang tajam, krisis ekologi, hingga ketimpangan sosial dan ekonomi yang terus melebar. Namun, alih-alih melihat krisis ini sekadar sebagai rintangan, Gereja di Asia diajak memandangnya sebagai peluang emas untuk kesaksian misioner. Nilai-nilai Injil dapat diwujudkan secara otentik melalui dialog lintas agama, pendidikan, serta kepedulian yang tulus pada martabat manusia dan rumah susun bersama.

Paus Leo XIV dalam sidang ini turut menegaskan bahwa persekutuan yang lebih kuat di antara Gereja-Gereja lokal adalah kunci esensial. Tanpa persekutuan tersebut, Gereja di Asia akan kesulitan menjalankan perannya sebagai pembangun jembatan di tengah masyarakat luas. Kristus sendiri adalah Jembatan yang hidup antara surga dan bumi, sehingga mengikuti-Nya berarti kita harus siap menjadi jembatan di masa kini.

Panggilan ini sangat relevan bagi umat di Asia yang dianugerahi keragaman agama dan budaya. Kita diutus menjadi jembatan kepercayaan ketika orang lain membangun tembok kecurigaan, serta jembatan kedamaian di tengah konflik yang membelah masyarakat. Lebih dari itu, Gereja harus hadir sebagai jembatan belas kasih bagi kaum miskin, dan jembatan harapan bagi kaum muda yang mencari makna di pusaran perubahan sosial yang cepat.

Baca Juga Artikel:  Paus Leo XIV di Turki: Dari Keheningan di Masjid Biru hingga Sentuhan Kasih bagi Lansia

Menyongsong Peziarahan Masa Depan

Menjadi Gereja yang sinodal berarti siap berjalan berdampingan bersama umat agama lain, mengenali mereka sebagai sesama peziarah yang mencari kebenaran, keadilan, dan kedamaian. Kita dipanggil untuk mengiringi kaum rentan, mendengarkan kearifan budaya Asia, serta merangkul pertobatan ekologis agar kelak generasi mendatang dapat mewarisi dunia yang memancarkan kebaikan Sang Pencipta. Peziarahan ini senantiasa diiringi doa agar Bunda Maria, Bunda Asia, terus mendampingi langkah umat-Nya.

Pada akhirnya, panggilan untuk “melihat hal-hal yang lebih besar” tidak boleh hanya bergema di ruang sidang, demikian kata Filipe Neri Cardinal Ferrão, Archbishop of Goa and Daman, President of FABC. Janji itu harus hidup di meja makan keluarga kita, di lorong-lorong kantor, dan di tengah denyut kehidupan bertetangga.

Setelah merenungkan pesan harapan dari Sidang FABC ini, di bagian manakah dalam kehidupan sehari-hari Anda merasa paling dipanggil untuk menjadi sebuah “jembatan”? Mari bagikan pengalaman, refleksi, atau pergumulan Anda di kolom komentar di bawah ini. Mari saling mendengarkan dan meneguhkan dalam peziarahan iman ini.


Veritas Indonesia berkomitmen untuk terus menghadirkan tulisan-tulisan yang meneguhkan iman dan menyuarakan kebenaran. Kami mengundang Anda, para pembaca setia, untuk turut mendukung operasional pelayanan ini melalui donasi ke rekening BCA 6440054739 a.n. Lucia Margaretha Audrey Niron (Bendahara Veritas Indonesia). Agar donasi Anda dapat kami terima dan catat dengan baik, mohon kirimkan bukti transfer kepada Editor Konten kami, Maria Frani Ayu, di nomor 081230038196. Sedikit dari Anda adalah wujud nyata kebersamaan dalam pelayanan ini.

Baca Juga Artikel:  Natal Penuh Harapan: Migran Filipina di Roma Temukan 'Rumah' Lewat Rekoleksi
Maria Frani Ayu Andari Dias
Maria Frani Ayu Andari Diashttps://www.veritasindonesia.id/
Editor Content di Veritas Indonesia, Penulis dan Pengajar Ilmu Keperawatan Jiwa di Institut Kesehatan Suaka Insan.

Related Articles

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

spot_img

Terbaru

Populer