Di tengah bayang-bayang ketakutan akibat lebih dari tujuh ribu gempa susulan yang terus mengguncang Flores, sebuah gerakan kemanusiaan lintas keuskupan hadir meruntuhkan sekat perbedaan demi merangkul ratusan ribu penyintas yang kehilangan tempat bernaung.
NTT-Veritas Indonesia. Bencana gempa bumi tektonik berkekuatan 7,7 magnitudo yang memporak-porandakan Flores, Nusa Tenggara Timur pada 15 Agustus 2026 lalu telah meninggalkan duka mendalam. Berdasarkan data Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) per 26 Agustus 2026, tragedi ini menelan 105 korban jiwa, melukai 1.603 orang, dan memaksa 180.327 warga mengungsi. Kerusakan infrastruktur pun teramat masif, mencakup puluhan ribu rumah warga serta ratusan fasilitas pendidikan, rumah ibadah, dan layanan kesehatan. Rentetan 7.692 gempa susulan yang diprediksi masih akan berlanjut semakin memperburuk krisis, memicu urgensi pemenuhan kebutuhan dasar.
Merespons krisis tersebut, Gereja Katolik Indonesia bergerak cepat sejak 24 jam pertama. Melalui payung Jaringan Caritas Indonesia, pelayanan darurat diintegrasikan di empat wilayah terdampak, yakni Keuskupan Agung Ende, Keuskupan Ruteng, Keuskupan Maumere, dan Keuskupan Labuan Bajo. Mengusung semangat “One Church, One Response”, gerakan ini berupaya memastikan penyaluran bantuan yang terukur dan inklusif.

Direktur Caritas Indonesia, Romo Fredy Rante Taruk, yang turun langsung memantau lokasi bencana menegaskan bahwa kehadiran posko pelayanan ini merupakan wujud nyata persaudaraan kemanusiaan tanpa sekat. Posko Pengungsian Terpadu Aeramo di Keuskupan Agung Ende, misalnya, didirikan secara inklusif dan terbuka bagi siapa saja yang membutuhkan pertolongan, tanpa memandang latar belakang. Kehadiran posko ini pun mendapat apresiasi dan dukungan penuh dari BNPB serta pemerintah daerah setempat.

Distribusi Bantuan Masif dan Terukur
Untuk memastikan ketahanan hidup para penyintas, Jaringan Caritas Indonesia mengambil langkah strategis dengan membuka Pos Logistik Nasional di Surabaya. Dari pusat koordinasi ini, bantuan berskala besar dikerahkan secara masif menjangkau seluruh titik pengungsian di Flores. Hingga 24 Agustus 2026, gelombang bantuan untuk pemenuhan kebutuhan pangan pokok terus mengalir, mencakup penyaluran 16.425 kilogram beras, 80.910 butir telur, 62.560 bungkus mi instan, serta 2.584 liter minyak goreng demi menjamin ketersediaan makanan bagi para korban.
Di luar urusan logistik pangan, aspek kesehatan dan medis turut menjadi fokus utama pelayanan. Tim kesehatan Caritas telah berekspansi ke 13 titik pelayanan yang tersebar di lima kabupaten. Di tenda-tenda darurat tersebut, mereka bekerja keras menangani 1.407 pasien dengan berbagai keluhan, mulai dari Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA), perawatan luka, hingga pemeriksaan kehamilan bagi ibu mengandung. Pelayanan medis ini ditopang kuat oleh ketersediaan obat-obatan; di mana pengiriman awal sebesar 180 kilogram pasokan medis segera disusul dengan pengiriman lanjutan masif berskala 1,1 ton.
Sementara itu, untuk menjaga standar higienitas dan kelayakan hidup di tenda-tenda pengungsian, penyediaan fasilitas sanitasi, kebersihan, dan perlengkapan darurat tidak luput dari perhatian. Jaringan Caritas mendistribusikan 16.350 paket perlengkapan kebersihan dan martabat diri (hygiene & dignity kit), 1.038 pembalut wanita, 261 popok bayi, serta ribuan produk pendukung seperti sabun, deterjen, dan obat antinyamuk. Kehidupan para penyintas di tempat pengungsian pun dibuat lebih layak lewat penyediaan hunian sementara berupa 290 lembar terpal, 332 selimut, 200 matras atau tikar, serta 1.288 kantong plastik logistik untuk menata barang-barang darurat mereka.

Di samping pemenuhan kebutuhan fisik dan logistik yang masif tersebut, Caritas Indonesia juga menaruh perhatian besar pada kelompok rentan dan pemulihan trauma. Di berbagai paroki, para pastor, relawan Serikat Anak Misioner (SEKAMI), Orang Muda Katolik (OMK), hingga tim medis dikerahkan untuk memberikan pendampingan psikososial. Melalui aktivitas permainan interaktif bagi anak-anak dan konseling psikospiritual bagi orang dewasa, Caritas berusaha menyembuhkan luka mental akibat trauma gempa yang berkepanjangan.
Dengan komitmen yang transparan dan akuntabel dalam mengelola amanah donatur, pelayanan terpadu ini diharapkan dapat terus mendampingi warga terdampak gempa Flores melewati masa kritis tanggap darurat hingga fase pemulihan kelak.








