Ketika trauma gempa Flores masih membayangi setiap tarikan napas para penyintas, pelataran RSUD Komodo mendadak berubah menjadi oase penyembuhan batin yang melampaui sekat-sekat dinding rumah sakit.
MEROMBOK-Veritas Indonesia. Guncangan gempa yang melanda Flores pada pertengahan Agustus lalu menyisakan luka fisik dan trauma mendalam. Merespons duka tersebut, Uskup Labuan Bajo, Mgr. Maksimus Regus, turun langsung menyapa dan menguatkan para pasien korban bencana beserta keluarga mereka melalui Perayaan Ekaristi Minggu Biasa XXI di RSUD Komodo, Minggu (23/8/2026).
Misa yang digelar secara terbuka di pelataran rumah sakit ini bukan sekadar ritual keagamaan biasa. Ia menjelma menjadi ruang penghiburan bagi para pasien, keluarga, hingga tenaga kesehatan dan jajaran manajemen rumah sakit yang tak kenal lelah bertugas di tengah situasi krisis.
Dalam pelayanannya, Mgr. Maksimus tidak hadir sendirian. Ia didampingi oleh Vikaris Jenderal RD. Rikardus Manggu bersama jajaran imam dari berbagai komisi dan paroki di Keuskupan Labuan Bajo. Kehadiran kolektif ini menegaskan komitmen penuh Gereja dalam mendampingi masyarakat yang tengah terpuruk.
Mengambil refleksi dari Injil Matius tentang pertanyaan Yesus, “Menurutmu, siapakah Aku?”, Mgr. Maksimus mengajak umat untuk menemukan wajah Tuhan justru pada titik terendah kehidupan. Baginya, bencana memang menyentak kesadaran tentang betapa rapuhnya manusia. Namun pada saat bersamaan, krisis tersebut membuka mata akan kebesaran kasih Tuhan yang berwujud nyata melalui tangan-tangan manusia yang saling menolong.
“Di tengah bencana ini, Tuhan ada di antara kita. Kita mengenalnya dalam kasih yang saling kita bagikan, dalam semangat kesetiakawanan, dalam keterbukaan, dan pemberian diri,” ungkap Uskup dalam homilinya yang menyentuh hati umat yang hadir.
Mgr. Maksimus kemudian meredefinisi makna “batu karang” dalam ajaran imannya. Ketika gempa meruntuhkan banyak struktur fisik dan menyisakan ketakutan akan ruang tertutup, ia menegaskan bahwa gereja yang sesungguhnya bukanlah sekadar bangunan beton, melainkan komunitas yang saling menopang.
Pesan tersebut terasa sangat relevan bagi komunitas RSUD Komodo. Para dokter, perawat, dan staf medis terus berjibaku memberikan pelayanan terbaik meski mereka sendiri berada dalam bayang-bayang kelelahan dan kecemasan. Dedikasi tanpa pamrih inilah yang disebut Uskup sebagai cara Tuhan berbicara dan merawat penderitaan umat-Nya.
Untuk bertahan di tengah masa sulit ini, Mgr. Maksimus menitipkan tiga kunci utama: belas kasih, solidaritas, dan harapan. Belas kasih tercermin dari pengabdian di ruang-ruang medis dan posko pengungsian. Solidaritas terus hidup lewat langkah cepat para relawan. Sementara harapan adalah suluh yang membuat masyarakat tetap berani melangkah maju.
“Bencana datang, tetapi mudah-mudahan iman dan kasih sayang kita tetap kuat untuk mengalirkan perhatian, dukungan, dan kemurahan hati,” tegasnya seraya mendoakan kekuatan bagi seluruh pelayan kemanusiaan.
Sentuhan empatik dari keuskupan ini disambut hangat oleh pihak rumah sakit. Pelaksana Tugas Direktur RSUD Komodo, Paulus Ndarung, menyampaikan apresiasi mendalam atas kehadiran Uskup dan para imam. Ia meyakini bahwa refleksi tentang menjadi “batu karang” akan menjadi bahan bakar moral bagi para tenaga medis.
“Mudah-mudahan spirit ini bisa menjiwai kita semua dalam memberikan pelayanan yang optimal,” ujar Paulus.
Perayaan yang turut dihadiri oleh Dirjen Bimas Katolik Albertus Magnus Adiyanto Sumardjono, Asisten Perekonomian dan Pembangunan Salvador Pinto, serta Kepala Kantor Kemenag Manggarai Barat Fransiskus Xaverius Adi ini ditutup dengan suasana haru.
Bagi mereka yang masih terbaring lemah atau duduk di kursi roda dengan balutan luka akibat gempa, kehadiran para tokoh ini mengirimkan satu pesan paripurna: di tengah kerapuhan yang mencekam, mereka tidak pernah berjalan sendirian.








