Kita menghabiskan hampir seluruh napas kehidupan untuk berlari mengejar fatamorgana kebahagiaan, tanpa menyadari bahwa dahaga terbesar jiwa kita sebenarnya adalah kedamaian saat euforia itu memudar.
Penulis: Albert Santoso
Pernahkah Anda merenungkan mengapa bayi selalu menangis pada tarikan napas pertamanya? Dalam tradisi filosofi Hindu dan Buddha, tangisan bayi saat dilahirkan dimaknai sebagai bentuk kesedihan mendalam; sebuah ketidakrelaannya turun ke dunia fana untuk menghadapi rentetan penderitaan. Membawa kecemasan eksistensial ini, manusia pada akhirnya mendedikasikan hidup mereka untuk satu misi utama, yakni mencari penawar berupa kebahagiaan.
Kita memburu materi, mengejar puncak karier, membangun relasi, dan merangkai piala kesuksesan. Kebahagiaan pun menjelma menjadi tujuan hidup yang paling absolut. Sentimen ini tergambar sempurna lewat sebuah pepatah urban bernada satire yang lazim kita temui di budaya pop atau sekadar sablonan kaus: “Masih muda pesta pora, sudah tua kaya raya, mati masuk surga.” Sebuah ungkapan jenaka yang secara harfiah menyiratkan tingginya kehausan manusia akan kebahagiaan abadi tanpa jeda.
Paradoksnya, kebahagiaan yang kita dambakan untuk selamanya itu tidak pernah benar-benar kekal. Bahkan, sumber yang memicu rasa bahagia pun bersifat fluktuatif. Seseorang yang pada masa kecilnya memuja makanan manis, perlahan akan mengubah preferensinya saat menyadari ancaman kesehatan di baliknya. Begitu pula seseorang yang tadinya mendewakan kekayaan sebagai sumber kesenangan mutlak, seiring berjalannya waktu dan kedewasaan, bisa saja menemukan kepuasan yang lebih masif dari sekadar tindakan memberi atau menolong sesama.
Untuk membedah siklus ini, mari meminjam prinsip ekonomi dari Hukum Gossen Pertama. Hukum tersebut menggarisbawahi bahwa jika pemenuhan atas suatu barang dilakukan secara terus-menerus, tingkat kepuasan yang didapat akan perlahan menurun hingga menyentuh titik jenuh atau nol. Secara filosofis, hukum ini menggambarkan siklus kebahagiaan manusia dengan sangat akurat: menginginkan, mendapatkan, merasa bahagia, terbiasa, menjadi bosan, lalu kembali menginginkan hal yang baru.
Lebih jauh lagi, kebahagiaan yang kita kejar sering kali tersandera oleh variabel eksternal. Kita bersorak saat menerima kabar baik, lalu seketika hancur saat kehilangan sesuatu yang kita cintai. Rasa bahagia yang sepenuhnya bersandar pada situasi dan kondisi ini membuatnya menjadi emosi yang sangat rentan, rapuh, dan mudah menguap.
Di sisi lain spektrum, kedamaian menawarkan karakter yang jauh lebih kokoh. Kedamaian adalah seni mempertahankan ketenangan batin, justru ketika kita tidak berhasil menggenggam apa yang kita inginkan. Di sinilah letak garis demarkasi yang tegas antara keduanya. Jika kebahagiaan adalah produk emosional dari keberhasilan meraih ambisi, kedamaian adalah jangkar rasa aman yang tidak goyah oleh badai kegagalan.
Kedamaian juga membawa satu kurikulum kehidupan yang esensial, yakni penerimaan. Masih banyak orang yang salah kaprah dan mengartikan “menerima” sebagai bentuk menyerah pada nasib. Padahal, penerimaan adalah wujud kesadaran tertinggi bahwa tidak semua hal di semesta ini berada di bawah kendali kita. Kita tetap berjuang keras pada hal-hal yang bisa kita kontrol, sembari belajar berdamai secara elegan dengan hal-hal yang di luar kuasa kita. Singkatnya, kebahagiaan berorientasi pada obsesi “mendapatkan sesuatu”, sedangkan kedamaian bertumpu pada keikhlasan “menerima kehidupan sebagaimana adanya”.
Lantas, apakah mereka yang merawat kedamaian otomatis kehilangan ambisi, impian, dan cinta? Tentu tidak. Mereka tetap memiliki seluruh gairah manusiawi tersebut. Pembedanya hanya satu: mereka tidak menjadikan pencapaian atas impian-impian itu sebagai harga mati untuk mengukur nilai diri.
Setelah membedah kedua arah ini, sudah saatnya kita melakukan evaluasi diri. Apa yang sebenarnya kita cari di tengah riuhnya dunia ini? Mungkinkah uang, status, ketenaran, dan validasi yang selama ini kita kejar mati-matian hanyalah kedok dari kerinduan kita akan rasa aman, rasa cukup, dan ketenangan batin? Jika dicermati, semua itu adalah manifestasi dari kedamaian. Di balik lapisan terluar dari setiap hasrat manusia, tersimpan kerinduan yang sunyi akan hidup yang damai.
Faktanya, ada jenis kepuasan batin yang mekar bukan karena kita berhasil menggenggam dunia, melainkan karena kita merasa cukup. Menikmati hidangan sederhana di meja makan, bertukar tawa dengan orang terkasih, atau sekadar menghirup udara pagi yang hening sering kali menghadirkan kepenuhan jiwa yang jauh lebih dalam daripada euforia pencapaian besar.
Sebagai ruang perenungan, ada beberapa pertanyaan yang menuntut kejujuran radikal dari diri kita sendiri. Apakah kita benar-benar membutuhkan lebih banyak hal agar bisa tersenyum? Ataukah kita hanya perlu menekan volume keinginan kita? Apakah hidup harus selalu berjalan mulus agar layak untuk dirayakan? Jika kebahagiaan diibaratkan sebagai sekuntum bunga yang mekar dan layu pada masanya, mungkinkah kedamaian adalah tanah subur tempat bunga itu akan selalu memiliki ruang untuk kembali tumbuh?
Kini, pertanyaan pamungkasnya berbunyi: mana yang harus kita kejar, kebahagiaan atau kedamaian?
Kabar baiknya, hidup bukanlah pilihan ganda yang mewajibkan kita mencoret salah satunya. Kita berhak dan mampu merengkuh keduanya. Kita bisa berlari mengejar kebahagiaan setinggi mungkin sebagai bagian dari perayaan kehidupan yang indah. Namun di saat yang bersamaan, bangunlah kedamaian sebagai fondasinya. Dengan begitu, saat euforia bahagia itu memudar dan berlalu, kita tidak akan pernah kehilangan arah atau kehilangan diri kita sendiri.
Jangan pernah berhenti menyemai kebahagiaan, tetapi jangan pernah pula menggantungkan kedamaian Anda kepadanya. Kejar impian Anda, nikmati kebahagiaan saat ia datang memeluk, tetapi belajarlah untuk tetap berdiri tenang dan damai saat ia melangkah pergi.







