Merawat Kebebasan Beribadah Melalui Panggung Seni Lintas Iman

Di tengah rentannya gesekan sosial bermotif agama, sebuah panggung seni di Asilo Hermelink, Bandar Lampung, justru membuktikan bahwa perbedaan keyakinan bukanlah jurang pemisah, melainkan instrumen harmoni untuk menyuarakan penolakan terhadap segala bentuk persekusi beribadah.


Lampung-Veritas Indonesia. Seni dan budaya rupanya menjadi bahasa paling fasih untuk merawat persaudaraan di Bumi Ruwa Jurai. Melalui selebrasi Hari Ulang Tahun ke-81 Republik Indonesia, Komisi Hubungan Antaragama dan Kepercayaan (HAK) Keuskupan Tanjungkarang bersama Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Lampung mengajak warga untuk memaknai kemerdekaan secara lebih esensial. Acara yang digelar pada Sabtu (22/8/2026) ini tidak sekadar merayakan euforia, tetapi menggarisbawahi pentingnya penghormatan terhadap kebebasan beragama.

Ketua FKUB Lampung, Prof. Dr. Moh. Bahruddin, M.A., menyoroti tingginya Indeks Kerukunan Umat Beragama di Lampung yang mencapai angka 80,36, melampaui rata-rata nasional. Meski demikian, ia mengingatkan bahwa kerukunan bukanlah sesuatu yang otomatis abadi. Persoalan sosial, terutama terkait pendirian rumah ibadah, kerap menjadi pemantik ketegangan jika tidak disikapi dengan kedewasaan berwarga negara.

Bahruddin dengan tegas melarang segala bentuk intimidasi terhadap kelompok mana pun yang sedang menjalankan keyakinannya. “Menjalankan ibadah adalah hak asasi yang paling mendasar. Jangan pernah ada tindakan mempersekusi orang yang sedang beribadah,” tegasnya. Ia menyarankan, jika ada regulasi yang dianggap bermasalah, masyarakat harus menempuh jalur hukum dan kelembagaan, bukan dengan aksi sepihak yang mencederai persatuan.

Baca Juga Artikel:  Pemutaran Film di Roma Mengungkap Krisis Moral Negara dan Keheningan Gereja atas Papua

Pesan kebangsaan tersebut berkelindan erat dengan refleksi Uskup Tanjungkarang, Mgr. Vinsensius Setiawan Triatmojo. Ia mengingatkan bahwa cita-cita Pembukaan UUD 1945 untuk membangun Indonesia yang berdaulat, adil, dan makmur harus diuji dari seberapa besar keberpihakan negara terhadap mereka yang paling lemah. Kemerdekaan sejati, menurut Uskup, adalah tersedianya ruang bagi setiap warga untuk hidup bermartabat, bebas menjalankan keyakinannya, dan mendapat perlindungan saat berada dalam kondisi rentan.

Uskup Tanjungkarang, Mgr. Vinsensius Setiawan Triatmojo, menyampaikan pesan refleksi mengenai makna kemerdekaan dan keadilan sosial dalam Selebrasi HUT ke-81 RI dan Keberagaman yang digelar di Asilo Hermelink, Bandar Lampung, Sabtu (22/8/2026).

Keterbukaan dan kepedulian sosial itu mewujud secara nyata di Asilo Hermelink. Tempat milik Keuskupan Tanjungkarang ini tidak eksklusif, melainkan dirancang sebagai rumah perjumpaan lintas suku dan agama. Ketua Harian Asilo Hermelink, Wardoyo, menyebut bahwa kawasan ini telah dimanfaatkan secara luas, mulai dari ruang perkemahan bagi kelompok Kristen hingga mahasiswa UIN.

Bahkan, tempat ini rutin menyelenggarakan program Caritative Center bertajuk “Selasih” (Selasa Kasih), di mana 300 hingga 400 orang lintas latar belakang mendapat akses makan siang gratis setiap minggunya. “Harganya sangat mahal untuk mewujudkan harmoni itu. Karena itu, fasilitas ini dipersembahkan secara gratis untuk merawat keberagaman,” jelas Wardoyo.

Baca Juga Artikel:  Yesus Sang Gembala dan Pintu Keselamatan

Pada puncak acara, seluruh pesan persaudaraan itu diterjemahkan ke dalam harmoni seni. Tidak ada kelompok yang mendominasi; semua hadir membawa identitas budayanya untuk bersatu di panggung yang sama.

Tari Sembah khas Lampung yang dibawakan mahasiswa STIE Gentiaras membuka perayaan dengan membagikan sirih pinang kepada para tokoh agama sebagai simbol penghormatan. Riuh rendah acara berlanjut dengan Tari Cendrawasih dari PHDI, lantunan musik gambus dari Pondok Pesantren Al-Firdaus NU, hingga paduan suara lagu perjuangan oleh PGIW dan MBI Lampung. Puncak kebersamaan tergambar indah saat kelompok Katolik dan PW Muhammadiyah Lampung melebur membawakan Karawitan Gending 45.

Potret kebersamaan lintas iman di atas panggung saat menyajikan pertunjukan Karawitan Gending 45. Kelompok Katolik dan PW Muhammadiyah Lampung tampil bersama membawakan gending perjuangan dan lagu-lagu perdamaian sebagai wujud konkret persaudaraan.

Selebrasi lintas iman di Asilo Hermelink ini akhirnya menjadi lebih dari sekadar pentas seni. Ia menjadi miniatur Indonesia, sebuah bukti sahih bahwa kemerdekaan paling nyata adalah saat kita mampu menyediakan ruang agar perbedaan dapat hadir, saling menghormati, dan bekerja sama demi kemanusiaan.


Veritas Indonesia berkomitmen untuk terus menghadirkan tulisan-tulisan yang meneguhkan iman dan menyuarakan kebenaran. 

Kami mengundang Anda, para pembaca setia, untuk turut mendukung operasional pelayanan ini melalui donasi ke rekening BCA 6440054739 a.n. Lucia Margaretha Audrey Niron (Bendahara Veritas Indonesia).

Agar donasi Anda dapat kami terima dan catat dengan baik, mohon kirimkan bukti transfer kepada Editor Konten kami, Maria Frani Ayu, di nomor 081230038196. Sedikit dari Anda adalah wujud nyata kebersamaan dalam pelayanan ini.

Maria Frani Ayu Andari Dias
Maria Frani Ayu Andari Diashttps://www.veritasindonesia.id/
Editor Content di Veritas Indonesia, Penulis dan Pengajar Ilmu Keperawatan Jiwa di Institut Kesehatan Suaka Insan.

Related Articles

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

spot_img

Terbaru

Populer