Di tengah khusyuknya prosesi ziarah Arca Bunda Maria Assumpta Nusantara di Labuan Bajo, seutas selendang yang disematkan dengan takzim oleh seorang gadis Muslim sukses meruntuhkan sekat identitas, mengubah sebuah ritual keagamaan menjadi panggung persaudaraan universal yang menggetarkan hati.
Labuan Bajo-Veritas Indonesia. Pemandangan menyejukkan itu terjadi saat perarakan arca melintasi wilayah Paroki Sok Rutung pada awal Agustus 2026, yang merupakan bagian dari rangkaian menyambut Festival Golo Koe. Bagi masyarakat yang menyaksikan, momen tersebut menyimpan pesan yang melampaui batas-batas prosesi seremonial. Tidak ada jarak yang canggung, tidak pula sekat mayoritas-minoritas. Yang tersaji adalah potret hidup seorang anak bangsa yang menghormati iman berbeda, disambut oleh komunitas Katolik yang dengan tangan terbuka memberikan ruang partisipasi bagi saudara sebangsanya.
Perjalanan ziarah Arca Bunda Maria Assumpta Nusantara telah dimulai sejak 10 Juli 2026. Bergerak melintasi paroki-paroki di Keuskupan Labuan Bajo, arca ini tidak hanya singgah di ruang-ruang altar gereja, melainkan langsung menyapa denyut nadi kebudayaan, tradisi, dan kehidupan sosial masyarakat akar rumput.
Memasuki wilayah Kevikepan Labuan Bajo, napas ziarah ini perlahan bertransformasi menjadi ruang perjumpaan lintas batas. Sambutan tidak hanya datang dari umat Katolik. Warga Muslim yang sehari-hari hidup rukun di bumi Manggarai Barat turut berbaur, mengambil bagian, dan memberikan penghormatan.
Selendang dari tangan sang gadis Muslim di Sok Rutung menjadi bahasa universal. Ia membuktikan bahwa perbedaan iman tidak diciptakan untuk melahirkan jarak, melainkan sebagai pintu masuk untuk saling mengenal, memperkaya batin, dan berjalan beriringan. Di titik inilah, esensi terdalam dari Festival Golo Koe menemukan bentuk nyatanya.

Merayakan Proeksistensi, Bukan Sekadar Toleransi
Vikep Labuan Bajo, Rm. Yuvens Rugi, menyebut fenomena di Festival Golo Koe ini sebagai sebuah mozaik persaudaraan universal. Menurutnya, festival ini tidak sebatas memperkokoh kebersamaan yang sudah ada, tetapi menjadi model bagi pariwisata yang sangat inklusif.
โKebersamaan lintas iman ini tidak hanya diperlihatkan dalam seremoni budaya yang artifisial, tetapi hidup dan terasa hingga ke dalam perayaan iman itu sendiri,โ ungkap Rm. Yuvens, Senin (3/8/2026).
Lebih dalam, Rm. Yuvens membedah relasi ini bukan lagi pada tahap koeksistensiโsekadar hidup berdampingan secara pasifโmelainkan telah bergerak maju menuju proeksistensi. Proeksistensi adalah wujud keberadaan bersama yang aktif mendorong setiap pihak untuk bertumbuh dan berkarya. Dalam kacamata proeksistensi, toleransi bukan sekadar prinsip “jangan saling mengganggu”, melainkan panggilan agung untuk “saling membantu agar tumbuh bersama.”
Pengalaman spiritual yang melampaui sekat agama ini turut dirasakan oleh Pastor Paroki Sok Rutung, Rm. Ferdy Mayus. Baginya, keterlibatan warga Muslim merupakan bentuk religiositas yang sangat matang. Menghormati iman sesama tidak menuntut seseorang melepaskan akidah keyakinannya sendiri.
โPerbedaan bukan pertentangan, tetapi sarana untuk mengenal semakin dekat dan memperkaya satu sama lain,โ tegas Rm. Ferdy. Pesan ini mengingatkan kita bahwa perdamaian dunia tidak dicapai dengan menyeragamkan semua orang, melainkan saat umat manusia mengakui martabat sesamanya dan sudi bekerja sama demi kebaikan publik (bonum commune).

Dari Labuan Bajo untuk Dunia
Langkah harmoni di Labuan Bajo ini beresonansi kuat dengan “Dokumen Persaudaraan Manusia untuk Perdamaian Dunia dan Hidup Bersama” (Deklarasi Abu Dhabi) yang ditandatangani oleh Paus Fransiskus dan Imam Besar Al-Azhar, Sheikh Ahmed el-Tayeb, pada 2019 silam. Festival Golo Koe berhasil membumikan seruan global tersebut ke dalam praktik konkret: berjumpa, berdialog, dan merayakan kehidupan.
Sebagai acara yang masuk dalam kalender Top Karisma Event Nusantara (KEN) 2026 Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, Festival Golo Koe meredefinisi wajah pariwisata Labuan Bajo. Pariwisata masa depan yang ditawarkan daerah ini ternyata tidak berhenti pada eksotisme komodo atau panorama senja yang magis, melainkan pada kehangatan manusianya.
Kini, Arca Bunda Maria Assumpta Nusantara kian dekat menuju titik akhir perziarahannya di pusat Kota Labuan Bajo untuk puncak Festival Golo Koe pada 10โ15 Agustus 2026. Puncak acara tersebut bukanlah sekadar seremoni penutup, melainkan simpul dari ragam perjumpaan antara manusia, budaya, dan alam yang telah dirajut sebulan penuh.
Di tengah dunia yang kian mudah terbelah oleh politik identitas, Labuan Bajo meniupkan angin sejuk: perbedaan bukanlah tembok pemisah, melainkan jembatan peradaban. Festival ini menggemakan sebuah undangan baru bagi para pelancong yang datang, “Datanglah untuk menikmati keindahan alamnya, dan pulanglah dengan membawa pengalaman persaudaraan.”
Dari sudut bumi Nusantara, pesan itu kini bergaung nyaring: Berbeda dalam iman, bersatu dalam persaudaraan; berbeda dalam budaya, berjalan bersama dalam kemanusiaan.
Veritas Indonesia berkomitmen untuk terus menghadirkan tulisan-tulisan yang meneguhkan iman dan menyuarakan kebenaran. Kami mengundang Anda, para pembaca setia, untuk turut mendukung operasional pelayanan ini melalui donasi ke rekening BCA 6440054739 a.n. Lucia Margaretha Audrey Niron (Bendahara Veritas Indonesia). Agar donasi Anda dapat kami terima dan catat dengan baik, mohon kirimkan bukti transfer kepada Editor Konten kami, Maria Frani Ayu, di nomor 081230038196. Sedikit dari Anda adalah wujud nyata kebersamaan dalam pelayanan ini.






