Di balik megahnya dekorasi Kapela Agung Ritapiret, tersimpan sebuah pesan mendalam bahwa cahaya Paskah yang sesungguhnya justru berpijar dalam kesediaan hati untuk tetap melayani meski raga didera lelah.
Oleh: Fr. Te’suan Kerau
MAUMERE-Veritas Indonesia. Minggu pagi (5/4/2026), suasana Kapela Agung Seminari Tinggi Interdiosesan St. Petrus Ritapiret tampak berbeda. Ratusan umat, suster-suster OSF, hingga para calon imam (frater) memenuhi bangku-bangku kapela sejak fajar menyingsing. Di balkon, para frater Tahun Orientasi Rohani (TOR) bersiap dengan harmoni koor dan musik, menambah sakralitas atmosfer Hari Raya Paskah.
Kemeriahan Paskah tahun ini tidak hanya tampak pada kehadiran fisik umat, tetapi juga pada tata ruang yang estetis. Altar, mimbar, hingga salib dihiasi rangkaian bunga yang asri. Di pintu masuk, sebuah replika gua yang melambangkan kubur Yesus yang kosong menjadi pusat perhatian, simbol kemenangan atas maut yang ditata apik oleh kerja sama solid panitia liturgi, dokumentasi, hingga tim IT.
Rangkaian ibadat dimulai pukul 06:00 WITA dengan ibadat pagi bersama, disusul Perayaan Ekaristi tepat pukul 06:30 WITA. Mengusung tema “Bangkit Bersama Kristus: Menjadi Saksi Pengharapan yang Misioner”, misa dipimpin oleh RD. Cesar sebagai selebran utama, didampingi petugas liturgi dari para frater Keuskupan Larantuka.

Dalam homilinya, RD. Cesar menekankan dua pilar penting Paskah: kebangkitan dan evangelisasi. Ia menegaskan bahwa Paskah adalah warta kemenangan bagi mereka yang sedang terpuruk.
“Paskah adalah warta kebangkitan; bangkit dari rasa hampa harapan, bangkit dari keterpurukan, dan melangkah dari kegelapan menuju terang,” ujar RD. Cesar.
Mengutip Injil Matius, ia juga mengingatkan umat untuk meneladani keberanian Maria Magdalena dan para rasul dalam mewartakan sukacita. “Jangan takut! Pergilah dan katakanlah kepada saudara-saudara-Ku… di sanalah mereka akan melihat Aku,” tambahnya, menekankan bahwa warta Paskah harus disebarkan.
Makna Paskah sebagai aksi nyata juga dipertegas oleh Ketua Panitia Paskah, Fr. Andro, dalam sambutannya sebelum berkat penutup. Baginya, Paskah adalah sebuah transformasi perilaku.
“Hari ini kita belajar bahwa kebangkitan Kristus bukan hanya peristiwa iman, tetapi sebuah cara hidup. Kebangkitan terjadi ketika kita memilih untuk mengampuni dan tetap melayani meski sedang lelah,” ungkap Fr. Andro dengan penuh refleksi. Ia berharap semangat ini tidak berhenti di dalam gereja, tetapi terbawa hingga ke ruang makan, ruang belajar, dan dalam setiap pelayanan kecil sehari-hari.
Senada dengan itu, RD. Cesar menutup perayaan dengan apresiasi kepada seluruh pihak yang telah bergotong-royong menyukseskan perayaan ini. Ia berpesan agar setiap pribadi yang merayakan Paskah dapat bertumbuh menjadi “manusia baru” yang membawa dampak positif di lingkungan mereka masing-masing.
Perayaan yang berakhir tepat pukul 08:22 WITA ini meninggalkan pesan kuat bagi seluruh komunitas Ritapiret: bahwa Paskah tidak berakhir saat lilin-lilin dipadamkan, melainkan baru dimulai saat kita melangkah keluar untuk melayani sesama.
Veritas Indonesia berkomitmen untuk terus menghadirkan tulisan-tulisan yang meneguhkan iman dan menyuarakan kebenaran. Kami mengundang Anda, para pembaca setia, untuk turut mendukung operasional pelayanan ini melalui donasi ke rekening BCA 6440054739 a.n. Lucia Margaretha Audrey Niron (Bendahara Veritas Indonesia). Agar donasi Anda dapat kami terima dan catat dengan baik, mohon kirimkan bukti transfer kepada Editor Konten kami, Maria Frani Ayu, di nomor 081230038196. Sedikit dari Anda adalah wujud nyata kebersamaan dalam pelayanan ini.








