Oleh. Albert Santoso
Pernahkah Anda merasa seluruh potensi dan kerja keras Anda seolah menguap begitu saja, hanya karena Anda berada di tempat yang salah? Dan kata-Nya lagi: “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya tidak ada nabi yang dihargai di tempat asalnya.” (Luk 4:24).
Kisah klasik tentang pencarian tempat bernaung ini bisa kita lihat dalam perjalanan karier Haruka Nakagawa. Semasa di AKB48, sebuah grup idola raksasa di Jepang, kehadiran Haruka bisa dibilang kurang menonjol. Di tengah persaingan ketat, kemampuannya menyanyi dan menarinya dinilai rata-rata, begitu pula dengan parasnya menurut standar industri di sana. Tak heran, dalam berbagai video musik AKB48, sulit menemukan wajahnya di sorotan utama kamera. Ia seolah tenggelam dalam lautan bakat lainnya.
Namun, narasi hidupnya berputar 180 derajat saat ia mengambil keputusan berani: pindah ke Jakarta dan bergabung dengan sister group, JKT48. Di tanah yang baru, Haruka menjelma menjadi bintang yang bersinar terang. Bukan karena ia tiba-tiba mendapatkan kemampuan vokal atau tari yang magis, melainkan karena ia menemukan keunikannya. Sebagai satu-satunya anggota asal Jepang saat itu, keluguan dan usahanya beradaptasi dengan budaya Indonesia justru menjadi daya tarik yang tak terbantahkan. Ia menemukan “panggung” yang tepat untuk bersinar.
Menariknya, fenomena ini tidak hanya eksklusif di dunia hiburan modern. Lebih dari dua ribu tahun yang lalu, sebuah peristiwa serupa tercatat dalam sejarah spiritual manusia. Yesus dari Nazaret, ketika mengajar di sekitar wilayah asalnya, kerap kali hanya dipandang sebelah mata oleh masyarakat setempat. Bagi mereka, Ia hanyalah “anak tukang kayu”, sebuah status sosial yang mereduksi bobot ajaran-Nya. Kedekatan dan keakraban justru memunculkan sikap meremehkan.
Namun, sejarah mencatat bahwa setelah peristiwa penyaliban dan kebangkitan-Nya, pesan yang dibawa Yesus justru mekar di luar batas wilayah asalnya. Ketika para murid mulai mewartakan ajaran-Nya ke berbagai penjuru dunia yang lebih luas, banyak dari kalangan non-Yahudi yang menerimanya dengan tangan terbuka. Ajaran yang sempat ditolak di “rumah” sendiri, justru menjadi pijakan iman bagi jutaan orang di tanah yang baru.
Lantas, apa benang merah yang bisa kita tarik dari kisah seorang idola pop dan tokoh sentral agama samawi ini? Bagi Anda yang saat ini merasa eksistensi, karya, atau prestasinya tidak diakui, atau bahkan diremehkan oleh lingkungan sekitar, pesan utamanya adalah: jangan terburu-buru menyerah.
Bisa jadi, Anda tidak kurang suatu apa pun. Anda mungkin hanya sedang berada di panggung yang salah atau di hadapan penonton yang kurang tepat. Teruslah asah kemampuan Anda, tetaplah berkarya, dan lakukan hal-hal positif tanpa membiarkan kritik yang tidak membangun memadamkan semangat Anda. Yakinlah, akan tiba masanya Anda menemukan lingkungan yang menghargai setiap tetes keringat dan karya Anda. Terkadang, untuk diakui, kita hanya perlu memberanikan diri mencari “panggung” kita sendiri.
Doa:Â
Ya Tuhan kami sungguh mengucap syukur dan berterima kasih karena Engkau telah menciptakan kami serupa dan segambar denganMu. Ampunilah kami jika kami masih sering merasa putus asa, minder, kesal, serta hilang harapan ketika apa yang kami lakukan tidak dihargai oleh orang lain. Kobarkanlah semangat di dalam hati kami untuk terus berkarya dan melakukan hal-hal positif dalam hidup kami. Selalu ingatkan kami bahwa kami melakukan semuanya ini hanya untuk kemuliaan namaMu dan bukan untuk mendapatkan pujian dari manusia. Amin.
Veritas Indonesia berkomitmen untuk terus menghadirkan tulisan-tulisan yang meneguhkan iman dan menyuarakan kebenaran. Kami mengundang Anda, para pembaca setia, untuk turut mendukung operasional pelayanan ini melalui donasi ke rekening BCA 6440054739 a.n. Lucia Margaretha Audrey Niron (Bendahara Veritas Indonesia). Agar donasi Anda dapat kami terima dan catat dengan baik, mohon kirimkan bukti transfer kepada Editor Konten kami, Maria Frani Ayu, di nomor 081230038196. Sedikit dari Anda adalah wujud nyata kebersamaan dalam pelayanan ini.








