Yesus berkata kepadanya: “Bukan! Aku berkata kepadamu: Bukan sampai tujuh kali, melainkan sampai tujuh puluh kali tujuh kali” (Mat 18:22). Ajaran ini bukan sekadar perintah religius tentang batasan pengampunan, melainkan sebuah kunci psikologis yang membebaskan manusia dari beban emosional paling berat: dendam.
Penulis: Albert Santoso
Alkisah, dua orang sahabat mengalami pukulan telak dalam hidup mereka ketika menjadi korban penipuan yang menguras sebagian besar harta benda mereka. Secara logis, kemarahan dan kekecewaan adalah reaksi yang sangat manusiawi. Namun, seiring berjalannya waktu, perbedaan cara pandang mereka terhadap realitas hidup menciptakan dua nasib yang bertolak belakang.
Si A, salah satu dari mereka, terjebak dalam pusaran dendam yang akut. Hari-harinya dihabiskan dengan rasa murung, kesehatan fisik yang merosot, temperamen yang labil, hingga gangguan tidur kronis. Ketika ditanya mengapa ia membiarkan dirinya hancur, dengan getir ia menjawab, “Siang malam saya terus memikirkan cara membalaskan dendam yang setimpal kepada pelaku penipuan itu.” Ia menjadi tawanan dari kebenciannya sendiri.
Sebaliknya, si B menempuh jalan yang berbeda. Meskipun uangnya raib, ia memilih untuk menerima realitas dengan kepala dingin. Ia harus memulai usaha dari nol, namun anehnya, ia justru tampak lebih bugar dan bersemangat. Ketika teman-temannya bertanya bagaimana ia bisa begitu tenang, si B hanya tersenyum tipis. “Saya sudah mengampuni penipu itu,” jawabnya santai. “Mungkin dia memang sedang dalam kesulitan besar saat itu, sehingga ia terpaksa melakukan hal tersebut.”
Perbedaan nasib antara si A dan si B memberikan pelajaran berharga tentang kesehatan mental. Saat kita memelihara dendam, itu ibarat menyimpan duri di dalam daging; setiap gerakan kita akan terasa sakit dan menghambat pertumbuhan. Banyak orang salah kaprah dengan menganggap mengampuni adalah bentuk kelemahan. Padahal, justru sebaliknya, mengampuni adalah tindakan orang yang kuat.
Mengampuni bukan berarti kita melupakan peristiwa yang terjadi atau membenarkan tindakan pelaku. Mengampuni adalah upaya sadar untuk melepaskan belenggu kebencian yang selama ini memenjarakan jiwa kita sendiri. Dengan mengampuni, kita sebenarnya sedang mencabut duri tersebut, memberikan ruang bagi diri kita untuk pulih, serta menjemput kembali kebahagiaan yang sempat hilang. Pada akhirnya, pengampunan tidak hanya memberi kelegaan bagi orang yang kita maafkan, tetapi yang jauh lebih penting, ia memberikan kemerdekaan sejati bagi diri kita sendiri.
Doa:
Ya Tuhan, kami sangat bersyukur dan berterima kasih atas kasihMu yang tak terbatas pada kami manusia sehingga Engkau rela mengutus PuteraMu yang tunggal Yesus Kristus untuk menjadi satu-satunya juruselamat dan penebus bagi kami. Ampunilah kami apabila kami masih sulit sekali untuk memaafkan orang-orang yang telah menyakiti kami. Ajarilah kami untuk dapat terus mengampuni orang lain sampai kami menutup mata. Amin.
Veritas Indonesia berkomitmen untuk terus menghadirkan tulisan-tulisan yang meneguhkan iman dan menyuarakan kebenaran. Kami mengundang Anda, para pembaca setia, untuk turut mendukung operasional pelayanan ini melalui donasi ke rekening BCA 6440054739 a.n. Lucia Margaretha Audrey Niron (Bendahara Veritas Indonesia). Agar donasi Anda dapat kami terima dan catat dengan baik, mohon kirimkan bukti transfer kepada Editor Konten kami, Maria Frani Ayu, di nomor 081230038196. Sedikit dari Anda adalah wujud nyata kebersamaan dalam pelayanan ini.







