Sedikitnya 40 orang meninggal dunia dan ribuan lainnya mengungsi setelah gempa bumi berkekuatan 7,7 SR mengguncang Pulau Flores pada Sabtu (15/8/2026). Menyusul bencana tersebut, Keuskupan Labuan Bajo membatalkan seluruh rangkaian penutupan Festival Golo Koe Maria Assumpta Nusantara 2026 sebagai bentuk solidaritas terhadap para korban.
LABUAN BAJO, Veritas Indonesia – Jumlah korban meninggal akibat gempa bumi berkekuatan 7,7 skala Richter yang mengguncang Pulau Flores pada Sabtu dini hari terus bertambah. Hingga Sabtu malam, sedikitnya 40 orang dilaporkan meninggal dunia, sementara ribuan warga terpaksa mengungsi.
Gempa yang terjadi pada pukul 05.58 WITA itu menyebabkan kerusakan di berbagai wilayah di Flores. Sejumlah bangunan roboh, tanah longsor terjadi di beberapa lokasi, dan akses menuju sejumlah daerah terdampak terputus.
Menurut Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), pusat gempa berada sekitar 30 kilometer di timur laut Mbay, Kabupaten Nagekeo, Nusa Tenggara Timur. Gempa tersebut dipicu oleh aktivitas Sesar Flores Back-Arc Thrust.
Peringatan dini tsunami sempat dikeluarkan setelah gempa terjadi. Warga di kawasan pesisir segera mengungsi ke tempat yang lebih tinggi sebelum peringatan tersebut akhirnya dicabut.
BMKG juga mencatat puluhan gempa susulan yang terjadi sepanjang hari.
Bencana ini terjadi ketika umat Katolik di seluruh Flores sedang mempersiapkan diri untuk merayakan Hari Raya Santa Perawan Maria Diangkat ke Surga.
Beberapa jam setelah gempa, Keuskupan Labuan Bajo mengumumkan pembatalan seluruh rangkaian acara penutupan Festival Golo Koe Maria Assumpta Nusantara 2026.
Misa penutupan, konser, dan berbagai pertunjukan budaya yang sebelumnya dijadwalkan berlangsung pada Sabtu malam dibatalkan.
Uskup Labuan Bajo, Mgr. Maksimus Regus, mengatakan bahwa keputusan tersebut diambil demi keselamatan bersama dan sebagai bentuk solidaritas terhadap masyarakat yang terdampak.
“Kita memilih untuk tidak melanjutkan perayaan, tetapi berdiri bersama dalam solidaritas dan mendampingi mereka yang sedang menghadapi situasi sulit,” ujarnya.
Ia juga mengajak umat Katolik untuk tetap tenang, mengikuti arahan pemerintah, dan mengubah semangat festival menjadi tindakan nyata bagi sesama.
“Festival ini boleh berhenti, tetapi semangat persaudaraan, solidaritas, dan kepedulian harus terus berlanjut,” tegasnya.
Festival Golo Koe yang tahun ini memasuki penyelenggaraan kelima merupakan salah satu perayaan keagamaan dan budaya terbesar di Flores.
Tema tahun ini, “Berjalan Bersama, Memulihkan Bumi,” memperoleh makna yang lebih mendalam ketika perayaan yang telah dipersiapkan selama berbulan-bulan berubah menjadi panggilan untuk berdoa dan menunjukkan solidaritas kepada para korban.
Gempa ini juga membangkitkan kembali ingatan masyarakat akan tragedi gempa dan tsunami Flores pada 1992 yang menewaskan sekitar 2.500 orang.
Di seluruh Flores, Gereja mengajak umat untuk mengutamakan keselamatan, memperkuat doa, dan mendampingi mereka yang terdampak bencana.
Bagi umat Katolik di Flores, Hari Raya Assumpta tahun ini tidak dirayakan melalui kemeriahan festival, melainkan melalui kesaksian nyata tentang iman, harapan, dan solidaritas di tengah penderitaan.







