Kita sering meratapi perpisahan dan berharap momen bahagia berlangsung selamanya, tanpa menyadari bahwa justru kefanaanlah yang memberi makna pada setiap detik kehidupan kita.
Penulis: Albert Santoso
Banyak orang menyayangkan realitas bahwa tidak ada yang abadi di dunia ini, terutama mereka yang tengah menikmati hangatnya zona nyaman. Di masa keemasan, puncak karier, atau masa kejayaan, manusia cenderung ingin menahan waktu; mereka enggan melepaskan momen-momen tersebut, apalagi jika waktu terasa berlalu begitu cepat.
Padahal, hukum alam menegaskan bahwa segala sesuatu ada waktunya, dan itu sering kali berada di luar kendali kita.
Mari sejenak membayangkan jika keabadian itu nyata dan segala sesuatunya berlaku selamanya. Sesenang apa pun kondisi kita saat ini, keabadian perlahan akan melahirkan kebosanan absolut. Tanpa adanya kesedihan atau penderitaan sebagai pembanding, kebahagiaan akan kehilangan maknanya sehingga semua hal akan terasa hambar dan sama saja.
Lebih jauh lagi, bayangkan jika manusia secara fisik hidup abadi. Bumi akan kelebihan beban, dipenuhi lautan manusia yang putus asa berebut sumber daya alam untuk bertahan hidup. Alih-alih menciptakan utopia, keabadian justru berpotensi memicu kekacauan dan konflik tiada akhir, merampas kedamaian yang selama ini kita cari.
Menyadari kenyataan ini, pertanyaannya kini bergeser: bagaimana caranya agar kita tidak hancur saat kehilangan hal atau sosok yang kita cintai?
Pertama, tanamkan kesadaran penuh bahwa kefanaan adalah sebuah keniscayaan. Semaksimal apa pun kita merawat atau menggenggam sesuatu, akan tiba saatnya perpisahan itu datang. Ini adalah hukum semesta mutlak. Dengan mempersiapkan hati dan pikiran sejak awal, kita tidak akan mudah terpuruk ketika badai kehilangan itu tiba.
Kedua, rayakan kehadiran mereka selagi ada. Berikan apresiasi dan lakukan yang terbaik untuk hal maupun orang yang kita sayangi di waktu yang tersisa. Jangan sampai penyesalan datang di kemudian hari hanya karena kita menyia-nyiakan momen yang tak akan pernah terulang kembali.
Ketiga, pelihara keyakinan bahwa akan selalu ada babak baru. Ketika kita kehilangan sesuatu, percayalah bahwa seiring berjalannya waktu, akan ada hal baru yang mengisi ruang kosong tersebut. Meski yang baru tidak akan pernah sama persis dengan yang telah pergi, kehadirannya kelak akan membawa warna baru dan mengobati kerinduan kita.
Kesimpulannya, segala yang ada di bawah langit ini hanyalah titipan yang fana. Dibutuhkan kebesaran hati dan kebijaksanaan kita untuk menyikapi setiap kehilangan bukan sebagai akhir, melainkan sebagai proses pendewasaan jiwa.
Veritas Indonesia berkomitmen untuk terus menghadirkan tulisan-tulisan yang meneguhkan iman dan menyuarakan kebenaran. Kami mengundang Anda, para pembaca setia, untuk turut mendukung operasional pelayanan ini melalui donasi ke rekening BCA 6440054739 a.n. Lucia Margaretha Audrey Niron (Bendahara Veritas Indonesia). Agar donasi Anda dapat kami terima dan catat dengan baik, mohon kirimkan bukti transfer kepada Editor Konten kami, Maria Frani Ayu, di nomor 081230038196. Sedikit dari Anda adalah wujud nyata kebersamaan dalam pelayanan ini.






