Di tengah hiruk-pikuk dunia yang berlomba-lomba memamerkan kebaikan demi sebuah validasi, sebuah pesan kuno dari dua ribu tahun lalu justru menantang ego kita: “Tetapi Ia dengan keras melarang mereka memberitahukan siapa Dia” (Markus 3:12).
Penulis: Albert Santoso
Belum lama ini, sebuah inisiatif kecil lahir dari obrolan ringan bersama beberapa rekan. Kami sepakat mengadakan kegiatan sosial dengan mengumpulkan dan membagikan barang-barang bekas layak pakai kepada warga yang kurang mampu. Rencana tersebut kami sebarkan melalui pesan singkat dan media sosial. Puji syukur, inisiatif ini berhasil mengetuk pintu hati banyak kenalan kami untuk turut menyumbang.
Salah satu respons datang dari seorang kawan lama yang kini telah sukses menjadi pengusaha. Alih-alih mengirimkan barang bekas, ia justru berinisiatif membelikan barang-barang baru dan bermerek. Namun, beberapa jam sebelum barang-barang itu tiba di lokasi, sebuah pesan singkat masuk ke ponsel saya. Ia memberitahukan perihal donasinya, namun dengan sebuah syarat yang mengejutkan: ia meminta identitasnya dirahasiakan dan donasinya digabungkan saja dengan barang-barang dari penyumbang lain.
Ketika saya bertanya alasan di balik permintaannya untuk tetap anonim, jawabannya sungguh menohok: “Bukan kebaikanku yang harus ditonjolkan, melainkan kebaikan Tuhan!”
Sikap kawan saya ini sejalan dengan narasi Injil hari ini, di mana Tuhan Yesus berulang kali meminta murid-murid-Nya—bahkan roh-roh jahat yang diusir-Nya untuk merahasiakan identitas-Nya dari kerumunan orang banyak. Selain karena waktunya belum tiba, Yesus menghindari munculnya kultus individu yang keliru. Ia tidak ingin orang-orang hanya mencari dan memuliakan-Nya sebatas sebagai “orang sakti” pemberi mukjizat, yang pada akhirnya justru mengaburkan esensi sejati dari misi penyelamatan-Nya.
Secara psikologis, setiap manusia memang membutuhkan apresiasi. Penghargaan dari diri sendiri maupun orang lain adalah bahan bakar agar kita lebih bersemangat dan percaya diri dalam menjalani hidup. Namun, ketika haus akan penghargaan itu menjadi tidak terkendali, ia akan menjelma menjadi panggung kesombongan dan keangkuhan ego pribadi.
Bagi kita para pengikut Kristus, pujian dari sesama manusia semestinya bukan lagi menjadi tujuan utama. Kita telah menerima anugerah penghargaan yang nilainya tak terhingga dari Tuhan, yakni diangkat sebagai anak-anak Allah. Justru dengan identitas baru ini, tugas kita di dunia bergeser menjadi seorang “duta besar” Kerajaan Allah. Segala perilaku, tindakan, dan karya kita haruslah menjadi cermin dari kasih-Nya.
Menjadi pengikut Kristus berarti kita bersedia “menyalibkan” hasrat keduniawian kita, termasuk obsesi terhadap prestasi dan pengakuan publik. Hal ini tentu bukan berarti kita harus meninggalkan dunia dan berhenti berkarya. Sebaliknya, yang diubahkan adalah titik fokus kita. Pada akhirnya, dalam setiap hal baik yang kita lakukan, panggung utamanya diserahkan untuk kemuliaan Tuhan, bukan lagi untuk membesarkan nama kita sendiri.
Doa:
Ya Tuhan, kami berterima kasih dan mengucap syukur sedalam-dalamnya karena Engkau telah sudi mengangkat kami dari lumpur dosa dan menganugerahi kami sebagai anak-anak Allah. Ampunilah kami jika kami sering melakukan segala sesuatu dengan mengharapkan pamrih untuk diri kami sendiri. Ajarilah kami agar dapat selalu menjadi orang-orang yang rendah hati dan selalu dapat mencerminkan Kerajaan Allah pada orang-orang di sekitar kami. Amin.
Veritas Indonesia berkomitmen untuk terus menghadirkan tulisan-tulisan yang meneguhkan iman dan menyuarakan kebenaran. Kami mengundang Anda, para pembaca setia, untuk turut mendukung operasional pelayanan ini melalui donasi ke rekening BCA 6440054739 a.n. Lucia Margaretha Audrey Niron (Bendahara Veritas Indonesia). Agar donasi Anda dapat kami terima dan catat dengan baik, mohon kirimkan bukti transfer kepada Editor Konten kami, Maria Frani Ayu, di nomor 081230038196. Sedikit dari Anda adalah wujud nyata kebersamaan dalam pelayanan ini.








