FLORES, Veritas Indonesia – Gempa bumi kuat yang mengguncang wilayah Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT), pada Sabtu, 15 Agustus 2026, menimbulkan dampak kemanusiaan yang cukup besar. Menyikapi bencana tersebut, JPIC OFM Indonesia bergerak cepat melakukan respons kemanusiaan dan pendampingan bagi masyarakat yang terdampak.
Dalam laporan cepat bertajuk “Respons Kemanusiaan Gempa Bumi Flores”, JPIC OFM Indonesia mencatat bahwa hingga 16 Agustus 2026 pukul 19.00 WIB, gempa telah menyebabkan sedikitnya 51 orang meninggal dunia, 182 orang terluka, dan sekitar 5.000 orang mengungsi. Data tersebut masih dapat berkembang seiring proses pendataan dan asesmen di lapangan.
Respons JPIC OFM Indonesia dilakukan dengan semangat “Bersama Fransiskan, Hadir untuk Flores”, dengan fokus tidak hanya pada bantuan darurat, tetapi juga pendampingan masyarakat dalam proses pemulihan.
Gempa M7,7 Mengguncang Laut Flores
Gempa terjadi pada 15 Agustus 2026 pukul 05.58.24 WITA. Dalam laporan JPIC OFM Indonesia, gempa tersebut tercatat memiliki magnitudo 7,7 dan merupakan gempa tektonik dangkal yang terjadi di Laut Flores.
Episentrum gempa berada pada koordinat 8,41° LS – 121,39° BT, dengan kedalaman sekitar 15 kilometer. Lokasi episentrum disebut berada sekitar 30 kilometer timur laut Mbay, Kabupaten Nagekeo.
Gempa tersebut juga sempat memunculkan peringatan dini tsunami dari BMKG. Sejumlah wilayah NTT sempat berada dalam status SIAGA dan WASPADA, sementara gelombang tsunami terdeteksi di sejumlah titik pesisir NTT.
Wilayah yang masuk dalam peta terdampak antara lain Nagekeo, Manggarai Timur, Manggarai, Manggarai Barat, Ende dan Sikka.

Korban Jiwa Mencapai 51 Orang
Dampak paling serius terlihat dari jumlah korban meninggal dunia. Hingga waktu laporan dibuat, tercatat 51 orang meninggal dunia.
Rinciannya adalah:
- Manggarai: 23 orang
- Manggarai Timur: 20 orang
- Sikka: 4 orang
- Ende: 2 orang
- Manggarai Barat: 1 orang
- Nagekeo: 1 orang
Selain korban meninggal, sebanyak 182 orang dilaporkan mengalami luka-luka.
Rinciannya:
- Manggarai: 119 orang
- Manggarai Timur: 24 orang
- Sikka: 17 orang
- Ende: 14 orang
- Manggarai Barat: 6 orang
- Nagekeo: 2 orang
Jumlah warga yang terpaksa mengungsi diperkirakan mencapai ±5.000 orang. Kondisi ini membuat kebutuhan terhadap tempat pengungsian, makanan, air bersih, pelayanan kesehatan dan perlengkapan keluarga menjadi sangat mendesak.
Ribuan Rumah dan Fasilitas Umum Rusak
Gempa juga menyebabkan kerusakan terhadap rumah warga dan berbagai fasilitas umum.
Data sementara mencatat 1.639 rumah mengalami kerusakan, yang terdiri dari:
- 841 rumah rusak berat
- 48 rumah rusak sedang
- 174 rumah rusak ringan
- 576 rumah telah terklasifikasi dalam pendataan
Selain rumah warga, sebanyak 167 fasilitas umum juga dilaporkan mengalami kerusakan.
Kerusakan fasilitas umum tersebut meliputi:
- 93 fasilitas pendidikan
- 36 fasilitas kesehatan
- 38 kantor pemerintahan
JPIC OFM Indonesia menegaskan bahwa data tersebut masih berkembang dan berpotensi bertambah seiring dengan proses pendataan lebih lanjut di wilayah terdampak.

JPIC OFM Indonesia Langsung Melakukan Koordinasi
Sejak gempa terjadi, JPIC OFM Indonesia melakukan koordinasi cepat dengan para saudara OFM yang berada di Flores, Provinsial OFM St. Mikhael Indonesia, serta seluruh staf JPIC.
Langkah koordinasi tersebut menjadi tahap awal untuk memetakan situasi, mengidentifikasi kebutuhan masyarakat dan menentukan bentuk bantuan yang harus segera diberikan.
Kantor JPIC OFM Indonesia di Jakarta ditetapkan sebagai pusat koordinasi respons bencana.
Respons tersebut kemudian dilanjutkan dengan mobilisasi jaringan Fransiskan. Bantuan digalang melalui berbagai paroki dan unit karya Fransiskan di berbagai wilayah, sehingga dukungan terhadap masyarakat Flores tidak hanya datang dari satu titik, tetapi melalui jaringan solidaritas Fransiskan yang lebih luas.
Emergency Response Fund Dibuka
Untuk mendukung penanganan kondisi darurat, JPIC OFM Indonesia membuka Emergency Response Fund atau dana tanggap darurat.
Pengelolaan dana dilakukan berdasarkan prinsip transparansi melalui alur:
Dana masuk → Kebutuhan → Pembelian → Distribusi → Penerima → Laporan.
Dengan mekanisme tersebut, setiap bantuan yang masuk diarahkan untuk dicatat, disesuaikan dengan kebutuhan, digunakan untuk pembelian barang atau layanan yang diperlukan, kemudian didistribusikan kepada penerima dan dilaporkan penggunaannya.

Dana yang Terkumpul Mencapai Rp372,17 Juta
Hingga 16 Agustus 2026 pukul 19.05 WIB, dana yang telah masuk dalam dukungan tanggap darurat tercatat sebesar:
Rp372.172.632
Dana tersebut menjadi bagian dari dukungan masyarakat dan jaringan solidaritas untuk membantu penanganan kebutuhan darurat korban gempa Flores.
Solidaritas juga datang dari para saudara OFM di Asia serta Minister General OFM, termasuk melalui upaya penggalangan dana di berbagai entitas Fransiskan.
Rp65 Juta Telah Disalurkan
Dari dana yang telah terkumpul, JPIC OFM Indonesia telah menyalurkan Rp65.000.000 untuk mendukung kegiatan tanggap darurat.
Dana tersebut disalurkan kepada tiga posko, dengan rincian:
| Posko | Dana Disalurkan |
|---|---|
| Aeramo | Rp25.000.000 |
| Kurubhoko | Rp25.000.000 |
| Karot | Rp15.000.000 |
| Total | Rp65.000.000 |
Penyaluran tersebut menjadi bagian dari upaya memenuhi kebutuhan mendesak masyarakat di wilayah terdampak.
Lima Posko Fransiskan Dibuka
Dalam respons kemanusiaannya, JPIC OFM Indonesia mendukung pelayanan melalui lima posko Fransiskan, yaitu:
- Posko Aeramo
- Posko Kurubhoko
- Posko Karot
- Posko Pagal
- Posko Tentang
Kelima posko tersebut menjalankan fungsi pelayanan yang disesuaikan dengan kondisi masing-masing wilayah. Secara umum, pelayanan mencakup logistik, kesehatan dan asesmen.
Khusus Posko Aeramo, pelayanan juga mencakup pengungsian dan dapur umum, selain pelayanan kesehatan, logistik dan asesmen.
Posko Menjadi Titik Pelayanan dan Asesmen
Posko-posko Fransiskan tidak hanya berfungsi sebagai tempat pembagian bantuan. Tim di lapangan juga melakukan asesmen untuk mengetahui kondisi dan kebutuhan masyarakat secara langsung.
Di Posko Aeramo, misalnya, pelayanan mencakup pengelolaan pengungsian, dapur umum, pemeriksaan kesehatan, penyaluran logistik serta asesmen masyarakat terdampak.
Pendekatan tersebut memungkinkan bantuan diberikan berdasarkan kebutuhan nyata masyarakat, sekaligus membantu menentukan prioritas pelayanan selanjutnya.

Kebutuhan Mendesak di Lapangan
Berdasarkan pemetaan kebutuhan, terdapat sejumlah kebutuhan mendesak yang harus segera dipenuhi untuk mendukung masyarakat terdampak.
Kebutuhan tersebut meliputi:
- Makanan dan bahan pokok
- Air bersih dan air minum
- Obat-obatan dan perlengkapan medis
- Tenda, terpal dan tempat pengungsian
- Selimut dan pakaian
- Popok bayi dan lansia
- Perlengkapan sanitasi
- Lampu, senter dan genset
- Asesmen serta evakuasi korban luka
Kebutuhan tersebut menjadi penting mengingat ribuan warga harus mengungsi sementara banyak rumah mengalami kerusakan dan sejumlah fasilitas publik tidak dapat berfungsi secara optimal.
Delapan Prioritas Respons JPIC OFM Indonesia
Selain kebutuhan barang dan pelayanan dasar, JPIC OFM Indonesia menetapkan sejumlah prioritas dalam respons kemanusiaannya.
Ada delapan prioritas utama, yaitu:
1. Air dan Makanan
Memastikan masyarakat terdampak memperoleh kebutuhan paling dasar berupa air bersih, air minum dan makanan.
2. Pengungsian
Mendukung tersedianya tempat pengungsian yang aman dan layak bagi warga yang kehilangan atau tidak dapat menempati rumahnya.
3. Kesehatan
Memberikan dukungan terhadap pelayanan kesehatan, obat-obatan, perlengkapan medis serta penanganan korban luka.
4. Perlengkapan Keluarga
Membantu memenuhi kebutuhan keluarga terdampak, termasuk perlengkapan dasar untuk kehidupan sehari-hari.
5. Penerangan
Menyediakan kebutuhan penerangan seperti lampu, senter dan genset, terutama bagi masyarakat yang terdampak gangguan fasilitas.
6. Akses ke Komunitas Terisolasi
Memastikan bantuan dapat menjangkau masyarakat yang berada di wilayah sulit dijangkau atau terisolasi akibat dampak bencana.
7. Dukungan Psikososial dan Rohani
Memberikan pendampingan psikososial dan dukungan rohani bagi masyarakat yang mengalami trauma, kehilangan anggota keluarga maupun kehilangan tempat tinggal.
8. Perlindungan Anak dan Kelompok Rentan
Memberikan perhatian khusus kepada anak-anak serta kelompok masyarakat yang berada dalam kondisi rentan selama masa tanggap darurat.

Hadir dengan Lima Tahapan Pelayanan
Respons JPIC OFM Indonesia dirangkum dalam lima bentuk kehadiran, yakni:
Datang – Mendengar – Mendampingi – Melayani – Memulihkan.
Datang berarti hadir bersama para korban dan masyarakat yang terdampak.
Mendengar berarti mendengarkan pengalaman, keluhan dan kebutuhan mereka.
Mendampingi berarti menemani para korban dalam proses pemulihan dan tidak meninggalkan mereka setelah bantuan awal diberikan.
Melayani berarti memberikan bantuan secara sederhana, tepat sasaran dan transparan.
Sementara memulihkan berarti membantu masyarakat membangun kembali kehidupan mereka agar menjadi lebih tangguh dan aman.
Solidaritas Fransiskan untuk Flores
Gerakan kemanusiaan JPIC OFM Indonesia tidak hanya dimaknai sebagai kegiatan distribusi bantuan, tetapi juga sebagai perwujudan nilai-nilai Fransiskan.
Solidaritas tersebut memiliki empat semangat utama, yakni:
- Membela martabat manusia
- Merawat kehidupan
- Membangun persaudaraan
- Menjaga keutuhan ciptaan
Semangat tersebut dirangkum dalam pesan:
“Bukan sekadar membangun kembali, tetapi membangun kembali dengan lebih aman.”
Pesan ini menegaskan bahwa proses pemulihan pascabencana tidak semata-mata mengembalikan kondisi seperti sebelum bencana, tetapi juga menjadi kesempatan untuk membangun kehidupan dan lingkungan yang lebih aman, tangguh dan berkelanjutan.
Solidaritas Tidak Berhenti pada Bantuan Darurat
Respons terhadap gempa Flores diarahkan untuk berlangsung secara bertahap. Tahap awal difokuskan pada penyelamatan, pemenuhan kebutuhan dasar, pelayanan kesehatan, pengungsian dan asesmen.
Selanjutnya, dukungan diharapkan dapat berkembang menuju proses pemulihan kehidupan masyarakat yang terdampak.
Dengan jumlah korban jiwa yang mencapai 51 orang, 182 orang terluka, sekitar 5.000 warga mengungsi, 1.639 rumah rusak serta 167 fasilitas umum terdampak, kebutuhan kemanusiaan di Flores masih sangat besar. Data tersebut juga masih bersifat sementara dan berpotensi berubah seiring proses pendataan di lapangan.
Karena itu, JPIC OFM Indonesia mengajak jaringan Fransiskan, masyarakat, lembaga dan berbagai pihak untuk terus membangun solidaritas bagi Flores.
Dukungan tidak hanya dibutuhkan dalam bentuk dana, tetapi juga melalui doa, tenaga, logistik, pelayanan kesehatan, pendampingan psikososial, dukungan rohani serta berbagai bentuk bantuan lain yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat.

Penutup
Gempa bumi yang mengguncang Flores pada 15 Agustus 2026 telah meninggalkan dampak serius bagi masyarakat di sejumlah wilayah NTT. Namun, di tengah situasi tersebut, berbagai elemen Fransiskan bergerak untuk hadir bersama para korban.
Melalui koordinasi cepat, pembukaan Emergency Response Fund, mobilisasi jaringan Fransiskan, pengoperasian lima posko, penyaluran bantuan serta pendampingan masyarakat, JPIC OFM Indonesia berupaya memastikan bahwa masyarakat Flores tidak menghadapi bencana ini seorang diri.
Semangat pelayanan tersebut dirangkum dalam lima kata: Datang, Mendengar, Mendampingi, Melayani dan Memulihkan.
Bagi JPIC OFM Indonesia, solidaritas terhadap Flores bukan sekadar memberikan bantuan untuk melewati masa darurat. Solidaritas berarti hadir bersama masyarakat, mendengarkan kebutuhan mereka, menjaga martabat manusia, merawat kehidupan dan bersama-sama membangun kembali kehidupan yang lebih aman dan tangguh.
“Bukan sekadar membangun kembali, tetapi membangun kembali dengan lebih aman.”
Kontak Respons Kemanusiaan
Untuk koordinasi dan informasi terkait respons kemanusiaan JPIC OFM Indonesia, e-flyer mencantumkan:
P. Alsis Goa OFM — 081110150381
P. Wahyu, OFM — 082124895620
Sumber Data dalam Laporan Cepat
Data situasi bencana dalam e-flyer mencantumkan sumber:
BMKG, BNPB, Pusdalops BPBD Provinsi NTT, Posko Penanggulangan Bencana Kabupaten Nagekeo, dan JPIC OFM Indonesia.






