Gempa bumi dahsyat yang mengguncang wilayah Ruteng pada Sabtu pagi, 15 Agustus 2026, tak sekadar menyisakan puing kehancuran dan duka mendalam, tetapi juga memanggil Uskup Siprianus Hormat untuk memimpin langsung aksi tanggap darurat gereja demi merajut kembali harapan umat yang terempas.
NTT-Veritas Indonesia. Bencana gempa bumi yang baru saja terjadi secara mendadak di wilayah Ruteng berdampak sangat destruktif karena meluluhlantakkan rumah warga, merusak lahan perkebunan, hingga meruntuhkan sejumlah gereja dan bangunan keuskupan. Tragedi yang datang tiba-tiba tanpa peringatan ini seketika menghancurkan jerih payah dan masa depan yang dirintis umat selama bertahun-tahun. Merespons situasi tersebut, Uskup Ruteng, Mgr. Siprianus Hormat, merilis pesan pastoral pada 16 Agustus 2026 bertajuk “Solidaritas, Tanggung Jawab, dan Pengharapan Kristiani”. Ia menyatakan kepedihannya yang luar biasa, bukan sekadar karena rusaknya fasilitas ibadah, melainkan sebagai wujud simpati personal atas penderitaan yang kini ditanggung oleh umatnya.
Alih-alih larut dalam ratapan dan ketidakberdayaan, Uskup Siprianus menegaskan pentingnya upaya kolektif untuk segera bangkit dari keterpurukan. Di tengah situasi yang terasa gelap gulita, nilai-nilai iman diyakini menjadi sandaran kekuatan utama. Merujuk pada kesaksian Rasul Paulus, pihak gereja memegang teguh keyakinan bahwa Tuhan yang menaklukkan kematian akan menuntun umat dari penderitaan menuju fajar pembaruan. Oleh sebab itu, Uskup mengajak seluruh iman dan umat agar tetap teguh merawat pengharapan yang bertumpu pada kasih setia Allah di tengah masa kelam ini.
Harapan tersebut langsung diterjemahkan secara nyata melalui serangkaian tindakan tanggap darurat yang dikoordinasikan oleh lembaga Karitas dan Pusat Pastoral (Puspas) Keuskupan Ruteng. Pihak keuskupan bergerak cepat mendirikan posko darurat, menyediakan kemah pengungsian di berbagai paroki, serta membangun tenda khusus bagi para pasien di RSUD Ruteng. Langkah penanganan ini diimbangi dengan proses pengumpulan dan verifikasi data korban yang dilakukan secara sinergis bersama lembaga pemerintah agar distribusi bantuan berlangsung cepat dan tepat sasaran.
Sebagai langkah mitigasi terhadap ancaman gempa susulan, pihak gereja juga mengeluarkan instruksi tegas agar perayaan Ekaristi pada Sabtu sore dan hari Minggu dialihkan sepenuhnya dari dalam ruang bangunan ke area terbuka yang aman. Lebih jauh lagi, Keuskupan menyadari bahwa pemulihan pascabencana membutuhkan pendekatan yang komprehensif. Para imam, biarawan, biarawati, tim pastoral, dan kaum awam dikerahkan untuk memberikan dukungan spiritual dan psikologis bagi para korban melalui pelayanan kehadiran, doa bersama, serta penyembuhan trauma. Ke depan, pihak gereja berkomitmen menjalin kolaborasi berkelanjutan bersama pemerintah dan para pemangku kepentingan untuk merencanakan program rehabilitasi pascabencana yang holistik. Seluruh ikhtiar tersebut merupakan wujud nyata menenun pengharapan dan keyakinan bahwa kasih Tuhan tidak berkesudahan bagi mereka yang teguh bertahan.








