AI dan Iman: Refleksi Bersama Pater Kasmir Nema di Komunitas Pendidikan LAVD, Chile

Tulisan ini merefleksikan derasnya perkembangan AI yang membentuk hampir seluruh aspek kehidupan manusia, melalui pengalaman di komunitas pendidikan Liceo Alemán del Verbo Divino, Chile. Penulis mengajak kita melihat relasi antara teknologi, iman, dan martabat manusia.

 

Penulis: Padre Leo Jesus Leto, SVD 

Kita sedang hidup di puncak ledakan dahsyat kecerdasan artifisial (Artificial Intelligence/AI), sebuah era di mana hampir seluruh aspek kehidupan manusia—termasuk dunia pendidikan—dibentuk oleh algoritma.

Algoritma tidak hanya menentukan apa yang kita lihat, tetapi juga memengaruhi cara kita berpikir, belajar, bekerja, bahkan mengambil keputusan.

Menyadari perubahan besar ini, komunitas pendidikan Liceo Alemán del Verbo Divino di Los Ángeles (LAVD) berupaya mencari ruang reflektif-akademik untuk membedah fenomena kecerdasan artifisial tersebut.

Pada tanggal 20 dan 22–23 April 2026, tim pastoral LAVD yang dipimpin oleh Aloysius Tamonob, SVD mengundang seorang narasumber dari Roma, Kasmir Nema, SVD.  Ia adalah seorang pakar dalam bidang komunikasi sekaligus Koordinator Umum Komunikasi SVD Sejagat berpusat di Roma.

Kehadirannya bukan sekadar kunjungan biasa. Imam sekaligus jurnalis Radio Veritas Asia ini datang untuk memberikan seminar mengenai kecerdasan buatan (AI) dan iman Katolik. Seminar tersebut dibagi ke dalam tiga kelompok: orang tua, siswa, dan para guru.

Dalam konferensi hari pertama dengan kelompok orangtua, Pater Kasmir menyoroti realitas baru yang dihadapi oleh keluarga Katolik masa kini. Menurutnya, di era digital, AI telah mengubah cara anak belajar dengan memberikan kemudahan dalam mengakses informasi, memahami pelajaran, mengerjakan tugas, bahkan mendukung kreativitas.

Namun, di balik kemudahan tersebut, muncul tantangan serius, yaitu ketergantungan pelajar pada teknologi, menurunnya kemampuan berpikir kritis, serta risiko ketidakjujuran akademik. “Masalahnya bukan apakah anak menggunakan AI,” tegasnya, “tetapi bagaimana mereka menggunakannya dan menjadi pribadi seperti apa melalui teknologi itu.”

Dari perspektif Katolik, manusia memiliki martabat dan tanggung jawab moral yang tidak dapat digantikan oleh mesin. Karena itu, peran orang tua menjadi sangat penting bukan hanya untuk mengawasi, tetapi juga membimbing anak-anak agar mereka menjadi pribadi yang bertanggung jawab dalam penggunaan AI.

Pada hari kedua, dalam diskusi dengan para siswa, Pater Kasmir mengarahkan refleksi pada kehidupan sehari-hari mereka. Ia menegaskan bahwa AI kini telah menjadi bagian tak terpisahkan dari proses belajar, membantu siswa mengerjakan tugas, memberikan ide, hingga mempercepat akses informasi. Namun demikian, ia mengingatkan bahwa AI tidak memiliki kesadaran, emosi, atau moralitas. Oleh karena itu, siswa harus tetap menjadi subjek yang bertanggung jawab. “AI adalah alat, bukan pengganti manusia,” ujarnya. Jika AI digunakan tanpa kesadaran, ia justru dapat melemahkan kemampuan berpikir dan tanggung jawab pribadi kita manusia.

Pada hari ketiga konferensi dengan para guru, refleksi akademik yang dibawakan oleh jurnalis Radio Veritas Asia ini menegaskan bahwa pendidikan Katolik tidak hanya berfokus pada soal akademik atau pengetahuan, tetapi pada pembentukan karakter manusia secara utuh yang meliputi aspek intelektual, iman dan moral.

Dalam konteks ini, teknologi harus tetap menjadi sarana untuk melayani manusia, bukan sebaliknya. Karena itu, peran guru tidak dapat digantikan oleh AI. Justru di era digital ini, peran guru akan menjadi semakin krusial, yaitu menjadi pembimbing moral, pendamping dalam proses belajar, serta penjaga iman dan moral. Di sisi lain, para siswa ditantang untuk menggunakan AI secara kritis, etis, dan bertanggung jawab.

Konferensi yang dibawakan oleh Kasmir Nema meninggalkan pesan yang kuat bagi komunitas pendidikan Liceo Alemán del Verbo Divino Los Ángeles, bahwa meskipun algoritma AI semakin memengaruhi kehidupan manusia, AI tidak dapat menggantikan peran manusia. Sebaliknya, AI diciptakan oleh manusia dan harus tetap digunakan untuk melayani kepentingan manusia.

P. Kasmir Nema, SVD
P. Kasmir Nema, SVD
Pemimpin Redaksi sekaligus Direktur Media Veritas Indonesia. Jurnalis dan Koordinator Umum Media dan Komunikasi Serikat Sabda Allah (SVD) yang berbasis di Roma. Kontributor untuk Vatican News dan Radio Veritas Asia (RVA). Profil akademik: ResearchGate Profile

Related Articles

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

spot_img

Terbaru

Populer