Di balik rimbunnya perbukitan Maumere, ribuan lilin kecil dinyalakan sebagai simbol kemenangan hidup atas maut, membawa pesan pengharapan yang melintasi batas dogma menuju realitas kemanusiaan yang lebih dalam.
Oleh: Fr. Valdo.
MAUMERE-Veritas Indonesia. Dalam keheningan senja yang khidmat, Seminari Tinggi St. Petrus Ritapiret kembali menjadi saksi bisu perayaan iman yang agung. Pada Sabtu (4/4) pukul 18.15 WITA, ribuan umat berbaur dengan para frater dan formator dalam Misa Vigili Paskah. Mengusung tema “Yesus Kristus Pokok Pengharapan Telah Bangkit dengan Jaya”, perayaan ini bukan sekadar rutinitas liturgis, melainkan sebuah pernyataan iman bahwa kegelapan sepekat apa pun akan selalu kalah oleh fajar pengharapan.
Perayaan yang dihadiri oleh komunitas besar Seminari Ritapiret ini memancarkan aura kebersamaan yang kuat. Di sini, Paskah tidak dirayakan sebagai peristiwa individual, melainkan sebagai momentum kolektif umat Allah yang disatukan dalam kegembiraan atas kemenangan kehidupan.
Upacara Cahaya: Menghalau Kegelapan Zaman
Ritual dimulai dalam kegelapan total. Suasana hening mencekam seketika pecah saat api Paskah dinyalakan. Lilin Paskah, yang menyimbolkan Kristus sebagai Terang Dunia, perlahan membelah kegelapan. Dari satu nyala api tunggal, cahaya itu menjalar, berpindah dari tangan ke tangan, hingga seluruh ruangan gereja bermandikan cahaya lilin yang hangat.
Secara teologis, ritus ini adalah pengingat visual yang kuat. Jika kegelapan melambangkan penderitaan, dosa, dan rasa putus asa yang kerap mengepung dunia modern, maka cahaya lilin adalah representasi kehadiran Tuhan yang memulihkan. Namun, lebih dari sekadar simbol, cahaya yang dibagikan ini membawa pesan sosial: bahwa kebahagiaan dan keselamatan bukanlah milik pribadi, melainkan anugerah yang harus disebarluaskan kepada sesama melalui tindakan kasih yang konkret.

Menapaki Jejak Sejarah Keselamatan
Memasuki Liturgi Sabda, umat diajak menelusuri kembali rekam jejak kasih Allah dalam sejarah manusia. Melalui rangkaian bacaan yang panjang dan reflektif, mulai dari kisah penciptaan hingga pembebasan bangsa Israel, umat diingatkan bahwa Allah adalah sosok yang setia menemani proses jatuh bangunnya kemanusiaan.
Dalam homilinya, RD. Cesar Reda menekankan bahwa kebangkitan Kristus adalah fondasi utama bagi siapa pun yang hampir kehilangan harapan. “Kebangkitan Kristus memberi arti baru dalam hidup kita. Dari kehidupan yang diliputi kegelapan, kita dipanggil untuk masuk dalam terang yang penuh harapan,” tegasnya. Beliau mengajak umat agar menjadikan sabda Tuhan bukan sekadar teks yang didengar, melainkan kompas dalam mengambil keputusan dan bersikap solider terhadap ketidakadilan di dunia nyata.
Pembaruan Janji: Lahir Kembali sebagai ‘Anak Terang’
Momen emosional terasa saat Liturgi Baptis dimulai. Di sini, umat diajak untuk memperbarui janji baptis mereka. Percikan air suci yang mengenai dahi umat menjadi simbol penyucian sekaligus “kelahiran kembali”.
Pembaruan ini menjadi sangat relevan di tengah dunia yang sering kali menawarkan keputusasaan. Janji ini adalah komitmen untuk meninggalkan cara hidup lama dan beralih pada jalan kebenaran. Pesan yang ingin disampaikan jelas: tidak ada kegagalan atau dosa yang terlalu besar untuk diperbaiki, karena kasih selalu menyediakan ruang bagi pertobatan dan pembaruan hidup.
Ekaristi: Puncak Sukacita yang Mengutus
Puncak dari segala rangkaian ini adalah Liturgi Ekaristi. Setelah masa Prapaskah yang penuh laku tobat, nyanyian Alleluia kembali berkumandang dengan megah, menandai kemenangan mutlak atas maut. Ekaristi menjadi titik temu nyata antara manusia dengan Sang Bangkit dalam rupa roti dan anggur.
Bagi para frater di Seminari Tinggi St. Petrus Ritapiret, perayaan ini merupakan bagian penting dari pembinaan iman. Mereka diingatkan bahwa menjadi calon pelayan Gereja tidak cukup hanya cakap secara intelektual, tetapi harus memiliki kedalaman spiritual untuk menjadi saksi hidup di tengah masyarakat.
Misa Vigili Paskah di Ritapiret tahun ini ditutup dengan perutusan. Umat pulang tidak hanya membawa lilin yang telah padam, tetapi membawa nyala api di dalam hati, sebuah janji untuk menjadi pembawa damai dan penyalur harapan di mana pun mereka berada. Sebab, dari bukit Ritapiret, pesan itu bergema kuat: Terang Kristus tidak akan pernah padam.
Veritas Indonesia berkomitmen untuk terus menghadirkan tulisan-tulisan yang meneguhkan iman dan menyuarakan kebenaran. Kami mengundang Anda, para pembaca setia, untuk turut mendukung operasional pelayanan ini melalui donasi ke rekening BCA 6440054739 a.n. Lucia Margaretha Audrey Niron (Bendahara Veritas Indonesia). Agar donasi Anda dapat kami terima dan catat dengan baik, mohon kirimkan bukti transfer kepada Editor Konten kami, Maria Frani Ayu, di nomor 081230038196. Sedikit dari Anda adalah wujud nyata kebersamaan dalam pelayanan ini.








