web page hit counter
back to top
Saturday, March 7, 2026

Dialektika Sang Pencari: Belajar dari St. Bernardus dan Peter Abelard

Pernahkah Anda merasa bahwa menjadi rasional berarti harus mengorbankan keyakinan, padahal sejarah abad ke-12 mencatat sebuah kisah epik tentang bagaimana ketajaman logika dan kedalaman spiritual pada akhirnya bisa saling berpelukan?


Penulis: Amadea Svastika*

Iman dan akal seringkali dianggap bertolak belakang. Jika kita ingin beriman, maka kita harus mengenyampingkan akal. Jika kita ingin berakal, maka kita harus menegasi iman terlebih dahulu. Tetapi, bagaimana jika keduanya berjalan berdampingan? Atau, akal dapat menjadi sarana yang membawa jiwa kita kepada iman?

Pertanyaan inilah yang terlintas di benak saya ketika mempelajari perdebatan filosofis sekaligus teologis dari St. Bernardus dari Clairvaux dengan Peter Abelard yang berlangsung di abad ke-12 M. Perdebatan mereka menjadi momen legendaris dalam sejarah intelektual, sebab menunjukkan pertarungan cara berpikir yang berbeda dalam memandang Tuhan, yaitu akal budi vs pengalaman mistik.

Perdebatan mereka berlangsung selama kurang lebih 20 tahun, dimulai dari Abelard yang menulis tulisannya yang kontroversial di masa itu, Sic et Non (yang dalam bahasa Indonesia berarti “Ya dan Tidak”). Bernardus, yang saat itu menjabat sebagai salah satu penasihat Paus, menerima laporan tentang ajaran Abelard dari murid-muridnya, terutama William dari St. Thierry, seorang biarawan Cistercian yang merupakan sahabat dari Bernardus.

William dari St. Thierry menjabarkan poin-poin pemikiran Abelard kepada Bernardus, memperingatkan bahwa Abelard telah melakukan “pembembedahan misteri iman layaknya persoalan matematis”. Dengan kata lain, Abelard berusaha merasionalisasikan Tuhan dan menerapkan logika Aristotelian pada ajaran Gereja. Baginya, iman yang tidak diuji oleh akal adalah iman yang buta. Ia pun membuat ungkapan “dubitando ad inquisitionem venimus; inquirendo veritatem percipimus”, yang berarti “melalui keraguan kita sampai pada penyelidikan; melalui penyelidikan kita memahami kebenaran”.

Bernardus menentang pandangan tersebut. Menurutnya, iman adalah pemberian Tuhan yang harus diterima dengan kerendahan hati, bukan pembedahan logika. Ia menganggap adanya misteri ilahi yang tidak dapat dijelaskan dengan logika manusia. Dalam suratnya yang berjudul Tractatus de erroribus Abaelardi (Treatise on the Errors of Abelard), Bernardus menuduh Abelard “berusaha mengecilkan Tuhan ke dalam batas-batas akal budi manusia.”

Bagi Bernardus, jika segala sesuatu dapat dijelaskan melalui logika, maka iman tidak lagi memiliki daya guna, sebab segalanya menjadi jelas secara rasional. Ia percaya Tuhan ditemukan melalui kasih dan kontemplasi, bukan silogisme ketat. Bernardus mengikuti pemikiran St. Agustinus dari Hippo bahwa tanpa rahmat Tuhan, akal budi manusia hanya akan membawanya pada kesombongan (superbia).

Oleh sebab itu, Bernardus sering digambarkan sebagai sosok “anti-intelektual” karena menyerang logika Abelard. Tetapi jika ditelusuri lebih mendalam, Bernardus juga memiliki kerangka filosofis meskipun bukan berdasarkan pada dialektika atau logika, melainkan antropologi kasih dan mistisisme.

Bernardus bahkan memiliki pandangannya sendiri mengenai pengetahuan. Baginya, terdapat jenis pengetahuan yang tidak dapat dijangkau dicapai oleh rasio atau akal. Akal hanya dapat memahami “apa itu sesuatu” (objek), namun kasih dapat memahami “siapa itu” (subjek). Baginya, kasih merupakan sebuah bentuk pemahaman. Mengenal Tuhan lewat buku yang kering (seperti yang dilakukan Abelard) berbeda dengan mengenal Tuhan melalui pengalaman batin.

Menariknya, perdebatan antara Bernardus vs Abelard yang berlangsung panas selama puluhan tahun ini tidak berakhir dengan kebencian, melainkan rekonsiliasi. Setelah karyanya ditolak oleh Paus, Abelard yang sudah tua dan sakit-sakitan memutuskan untuk berjalan kaki ke Roma demi membela dirinya di hadapan Paus. Di tengah perjalanan, ia berhenti untuk beristirahat di Biara Cluny yang dipimpin oleh Peter the Venerable, sosok yang kemudian mengatur pertemuan antara Abelard dan Bernardus. Detail percakapan mereka tidak dijelaskan secara rinci, namun sejarah mencatat bahwa Abelard dan Bernardus akhirnya berdamai. Abelard setuju untuk memperbaiki beberapa pernyataannya agar tidak menyinggung iman dan Bernardus mencabut permusuhannya.

Di zaman Skolastisisme, metode Abelard menjadi fondasi atas penggunaan logika dalam berteologi. Tokoh seperti St. Thomas Aquinas nantinya akan menyempurnakan pendekatan ini, bahkan mendamaikan problem iman dan akal secara lebih mendalam. Sejarah tidak memilih salah satu, tetapi justru mengambil keduanya. Abelard memberikan metode analisa kritis, sedangkan Bernardus memberikan tradisi spiritualitas yang mendalam.

Perdebatan antara iman dan akal mungkin juga kita rasakan dalam pergumulan batin kita. Saya pribadi pernah mengalami apa yang digagaskan Abelard, yakni berusaha membuktikan bahwa Tuhan memang masuk akal. Dulu, saya pun sering mempelajari Tuhan dalam buku-buku teks filsafat dan teologi. Tetapi yang saya dapatkan bukanlah Tuhan secara pribadi, melainkan konsep mengenai Tuhan. Saya pun mengakui bahwa saya pun jatuh ke dalam kesombongan. Akal budi saya memang puas, tetapi tidak untuk jiwa dan hati saya. Setelah saya mengalami apa yang disampaikan St. Bernardus, akhirnya saya tidak haus lagi dan belajar untuk menjadi rendah hati.

Kembali ke pertanyaan di awal tulisan ini: mungkinkah iman dan akal berjalan berdampingan? Sejarah rekonsiliasi antara St. Bernardus dan Peter Abelard telah memberikan jawabannya. Jika sang dialektikus dan sang mistikus dapat saling berpelukan di penghujung hidup mereka, maka demikian pula akal dan hati kita. Dalam peziarahan di dunia ini, kita membutuhkan logika Abelard untuk memahami dunia secara objektif sekaligus membutuhkan kedalaman kasih Bernardus agar pengetahuan tersebut tidak menjadi kering dan menjebak kita ke dalam kesombongan. Artinya, kita membutuhkan peran keduanya tanpa terpisah.

Saya menutup tulisan ini dengan mengutip St. Yohanes Paulus II dalam ensiklik Fides et Ratio: “iman dan akal layaknya dua sayap yang dengannya jiwa manusia terangkat menuju permenungan akan kebenaran”. Jika iman dan akal adalah dua sayap jiwa, apakah kita telah mengepakkan keduanya dengan seimbang?

*Sarjana filsafat dari Universitas Indonesia, umat Keuskupan Agung Jakarta, penulis buku “Meragu Untuk Beriman: Refleksi Filsafat Ketuhanan Agustinus”.


Veritas Indonesia berkomitmen untuk terus menghadirkan tulisan-tulisan yang meneguhkan iman dan menyuarakan kebenaran. Kami mengundang Anda, para pembaca setia, untuk turut mendukung operasional pelayanan ini melalui donasi ke rekening BCA 6440054739 a.n. Lucia Margaretha Audrey Niron (Bendahara Veritas Indonesia). Agar donasi Anda dapat kami terima dan catat dengan baik, mohon kirimkan bukti transfer kepada Editor Konten kami, Maria Frani Ayu, di nomor 081230038196. Sedikit dari Anda adalah wujud nyata kebersamaan dalam pelayanan ini.

Maria Frani Ayu Andari Dias
Maria Frani Ayu Andari Diashttps://www.veritasindonesia.id/
Editor Content di Veritas Indonesia dan Dosen Ilmu Keperawatan Jiwa di Institut Kesehatan Suaka Insan. Sebagai profesional yang mengantongi sertifikasi Penulis Non Fiksi dari BNSP, ia juga aktif mengelola publikasi ilmiah sebagai Managing Editor untuk Jurnal Keperawatan Suaka Insan (SINTA 3) dan Jurnal Suaka Insan Mengabdi (SINTA 5).

Related Articles

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

spot_img

Terbaru

Populer