Pernahkah Anda merasa tak kasat mata dan diabaikan di antara orang-orang hebat, padahal sering kali pahlawan sejati justru lahir dari mereka yang tak pernah diperhitungkan?
Penulis: Albert Santoso
Di tengah bentangan samudra yang tak bertepi, sebuah kapal barang membelah ombak dengan gagah. Di sudut geladaknya, empat ekor binatang peliharaan sang nakhoda tengah terlibat dalam perdebatan sengit. Deru angin laut menjadi saksi bisu adu mulut antara seekor ayam, gajah, harimau, dan seekor tikus kecil mengenai siapa di antara mereka yang paling berjasa dalam pelayaran tersebut.
Hewan pertama yang memecah keheningan adalah sang ayam. Sambil membusungkan dada dan mengepakkan sayapnya, ia berkokok kecil. “Akulah yang paling krusial di kapal ini. Setiap pagi aku bertelur, dan telur-telurku itulah yang menjadi sarapan bergizi bagi nakhoda beserta awak kapalnya. Tanpa aku, tubuh mereka tak akan sekuat itu untuk mengendalikan kemudi!”
“Ah, omong kosong!” selak sang gajah dengan suara baritonnya yang berat, membuat geladak sedikit bergetar. “Sayalah yang paling berjasa. Dengan belalaiku dan tenaga raksasaku, nakhoda tak perlu menyewa puluhan kuli pelabuhan untuk mengangkut peti-peti barang ke palka. Kapal ini bisa penuh berkat kekuatanku.”
Harimau yang sedari tadi berbaring menjilat cakarnya, tiba-tiba bangkit. Ia menatap kedua temannya dengan kilat mata meremehkan. “Kalian memang berguna untuk urusan perut dan tenaga. Tapi, mari bicara soal nyawa. Tanpa taring dan cakar tajamku, perompak dan bajak laut sudah lama menguras habis isi kapal ini dan menebas sang nakhoda. Kehadiranku adalah jaminan keamanan mutlak!” ucapnya diakhiri dengan auman rendah yang menggetarkan nyali.
Ketiga hewan besar itu akhirnya saling terdiam, diam-diam mengakui argumen satu sama lain. Pandangan mereka kemudian beralih ke sudut buritan, menatap lekat-lekat pada seekor tikus yang sedang duduk bersembunyi di balik gulungan tali tambang.
“Lalu, bagaimana denganmu, Tikus kecil?” ejek ayam sambil mematuk geladak. “Apa porsimu di kapal sebesar ini?”
“Mungkin tugas mulianya adalah menghabiskan remah-remah sisa makanan kita agar geladak tidak kotor,” timpal harimau yang disambut tawa berderai dari gajah dan ayam.
Tikus itu menundukkan kepala dan terdiam. Mulutnya terkunci rapat. Ia sadar, selama pelayaran berminggu-minggu ini, ia memang belum melakukan hal besar apa pun yang bisa dibanggakan.
Namun, tawa ejekan itu mendadak terhenti oleh suara retakan yang mengerikan. KRAKK! Kapal mendadak oleng. Sang nakhoda dan para awak berlarian panik. Setelah diperiksa, ternyata lambung kapal bagian bawah menabrak karang tersembunyi, menciptakan lubang kebocoran. Air laut mulai menyembur masuk dengan deras. Nahasnya, letak kebocoran itu berada di celah lambung yang sangat sempit, gelap, dan dipenuhi penyangga kayu yang silang-sengkarut. Harimau tak bisa masuk, gajah terlalu raksasa, dan ayam pun tak memiliki kemampuan untuk menyelam ke area yang mulai digenangi air tersebut. Kepanikan memuncak; kapal ini terancam karam.
Melihat kebuntuan itu, si tikus kecil tak membuang waktu. Tanpa aba-aba, ia berlari gesit ke ruang penyimpanan perkakas. Dengan gigi-giginya yang kuat, ia menggigit gumpalan serat rami yang telah dilumuri getah damar—bahan khusus penambal kapal. Berbekal tubuh mungilnya, ia meliuk masuk melewati celah-celah sempit di lambung kapal yang tak bisa dijangkau siapa pun. Di tengah gelap dan dinginnya air laut yang terus menekan, tikus itu menyumbatkan serat bergetah tersebut tepat ke titik kebocoran. Dengan telaten, ia memastikan lubang itu tertutup rapat hingga air tak lagi merembes masuk.
Kondisi darurat pun berlalu. Kapal kembali stabil.
Ketika sang nakhoda menyadari bahwa lambung kapalnya berhasil diselamatkan berkat kelincahan si tikus, ia meneteskan air mata haru. Ia menghampiri sudut geladak, merengkuh tikus yang basah kuyup itu, dan meletakkannya dengan lembut di atas telapak tangannya yang kasar.
Di hadapan ayam, gajah, dan harimau yang kini tertunduk malu, sang nakhoda berkata lantang, “Lihatlah baik-baik! Inilah pahlawan sejati kita hari ini. Tanpa keberanian dan tubuh mungilnya, kekuatan dan ketajaman kalian semua tak akan ada artinya, karena kita semua sudah tenggelam ke dasar samudra.”
Pesan Moral:
Kita ada karena kita berguna. Jangan pernah merasa diri ini tak berharga, karena setiap ciptaan memiliki porsi dan perannya masing-masing dalam kehidupan.
Kesombongan adalah penutup mata yang paling rapat. Jangan pernah meremehkan sesuatu yang tampak kecil, lemah, atau tak bersuara, karena sering kali pertolongan terbesar datang dari tempat yang paling tidak terduga.








