Menyibak Kepalsuan Empati di Balik Megahnya Gaya Hidup Modern

Ironisnya, pelajaran terbesar tentang kasih tanpa syarat jarang datang dari mereka yang hidupnya serba berkecukupan, melainkan dari mereka yang paling mengerti perihnya penderitaan.


Penulis: Albert Santoso

“Ia pergi kepadanya lalu membalut luka-lukanya, sesudah ia menyiraminya dengan minyak dan anggur. Kemudian ia menaikkan orang itu ke atas keledai tunggangannya sendiri lalu membawanya ke tempat penginapan dan merawatnya.” (Lukas 10:34)

Ribuan tahun lalu, Yesus menyuarakan pesan tersebut melalui perumpamaan Orang Samaria yang Baik Hati. Pesan fundamental ini rupanya terus bergema melintasi zaman, dan tanpa disadari, sering kali mewujud dalam kehidupan modern kita dengan cara yang mengejutkan.

Hal ini mengingatkan saya pada sebuah tayangan reality show berkonsep eksperimen sosial. Skonario acara itu cukup sederhana tetapi menohok. Penyelenggara menempatkan seorang pemeran yang dikondisikan sedang berada dalam kesulitan ekstrem di tempat umum, lalu mengamati siapa pejalan kaki yang sudi berhenti dan membantu. Tanpa sepengetahuan target, mereka yang bersedia menolong kelak akan diberikan imbalan uang sebagai bentuk apresiasi.

Ekspektasi awal saya mungkin sama dengan kebanyakan penonton lainnya. Saya membayangkan sosok dermawan berpenampilan mapan akan turun dari kendaraan mewahnya, tergerak oleh rasa iba, dan segera mengulurkan tangan. Nyatanya, realita di lapangan menampar ekspektasi tersebut. Banyak orang dari kalangan menengah ke atas yang berlalu-lalang justru memalingkan wajah. Sebagian hanya melempar tatapan kosong, memberikan sebaris nasihat basa-basi, atau buru-buru mengubah arah langkah untuk menghindar.

Baca Juga Artikel:  Menapaki Jalan Salib: Antara Devosi yang Menggetarkan dan Iman yang Ditantang

Kejutan terbesarnya justru datang dari kelompok yang terpinggirkan. Tangan-tangan yang bersedia merangkul sang pemeran bukanlah tangan yang dihiasi kemewahan, melainkan tangan kasar milik seorang pemulung dan penjual kue keliling. Mereka yang setiap harinya harus bertarung melawan kerasnya hidup dan kekurangan materi, justru menjadi pihak pertama yang menawarkan kelimpahan hati.

Meski adegan tersebut merupakan bagian dari skenario acara televisi, esensinya menawarkan refleksi yang sangat nyata. Keinginan untuk membantu orang lain sama sekali tidak ditentukan oleh seberapa tebal isi dompet kita, melainkan oleh seberapa dalam kemampuan kita merasakan penderitaan sesama.

Dari perumpamaan Injil dan fenomena sosial ini, kita dihadapkan pada sebuah realitas bahwa kasih tidak pernah cukup hanya diikrarkan di bibir; ia menuntut wujud nyata. Kesibukan pribadi dan rutinitas acap kali menjadi dalih yang membutakan mata kita, padahal justru di sela-sela hiruk-pikuk itulah kesempatan berbuat baik menanti untuk diambil. Kebaikan juga tidak mengenal sekat eksklusif. Siapa pun yang membutuhkan pertolongan adalah sesama kita, tanpa peduli latar belakangnya.

Pada akhirnya, kebaikan sejati tidak selalu membutuhkan aksi yang heroik atau dana yang fantastis. Sekadar menyediakan telinga untuk mendengar, meluangkan waktu sejenak, atau menunjukkan kepedulian yang tulus sering kali sudah menjadi bentuk kasih yang paling menguatkan.

Baca Juga Artikel:  Dialektika Sang Pencari: Belajar dari St. Bernardus dan Peter Abelard

Kini, pertanyaan esensialnya telah bergeser. Bukan lagi “Siapa sesamaku?”, melainkan “Sudahkah aku menjadi sesama bagi orang lain?”

Mungkin hari ini, di sudut jalan, di kantor, atau di lingkungan rumah, Tuhan menyapa kita melalui sosok yang sedang memendam luka. Jangan menunggu momentum besar untuk menjadi pahlawan. Boleh jadi, kesempatan-kesempatan kecil dan sederhana yang ada di depan mata adalah cara Tuhan mengasah empati kita untuk mempraktikkan kasih yang sesungguhnya.

Doa:

Tuhan yang penuh kasih, ajarilah aku untuk memiliki hati yang peka terhadap jiwa-jiwa di sekitarku. Jangan biarkan aku terlalu sibuk dengan kehidupanku sendiri sehingga abai terhadap mereka yang sedang merintih mencari pertolongan. Berikanlah aku keberanian untuk berhenti sejenak, peduli, dan melakukan kebaikan, sesederhana apa pun itu.

Tolong aku untuk tidak memberikan sekat pada kemanusiaan, melainkan mampu melihat setiap individu sebagai sesama yang Engkau kasihi. Biarlah melalui perkataan, tindakan, dan tarikan napas kehidupanku, kasih-Mu dapat dirasakan oleh mereka yang hancur hatinya. Amin.


Veritas Indonesia berkomitmen untuk terus menghadirkan tulisan-tulisan yang meneguhkan iman dan menyuarakan kebenaran. 

Kami mengundang Anda, para pembaca setia, untuk turut mendukung operasional pelayanan ini melalui donasi ke rekening BCA 6440054739 a.n. Lucia Margaretha Audrey Niron (Bendahara Veritas Indonesia).

Agar donasi Anda dapat kami terima dan catat dengan baik, mohon kirimkan bukti transfer kepada Editor Konten kami, Maria Frani Ayu, di nomor 081230038196. Sedikit dari Anda adalah wujud nyata kebersamaan dalam pelayanan ini.

Maria Frani Ayu Andari Dias
Maria Frani Ayu Andari Diashttps://www.veritasindonesia.id/
Editor Content di Veritas Indonesia, Penulis dan Pengajar Ilmu Keperawatan Jiwa di Institut Kesehatan Suaka Insan.

Related Articles

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

spot_img

Terbaru

Populer