Di tengah dunia yang terus menuntut kita untuk berlari lebih cepat dan meraih lebih banyak, terkadang pencapaian terbesar justru hadir saat kita berani berhenti sejenak untuk merangkul kenyataan.
Penulis: Albert Santoso*
Sebagai manusia, adalah sebuah kewajaran jika kita senantiasa berlomba untuk mencapai kualitas hidup yang lebih baik. Kita rela mengorbankan waktu dan tenaga demi meraih definisi kesuksesan yang kita idamkan. Namun, realitas tidak selalu berjalan beriringan dengan ekspektasi. Sering kali, kerja keras yang kita curahkan seolah tidak membuahkan hasil. Rangkaian kegagalan tersebut tentu saja memicu rasa sedih, kecewa, hingga putus asa. Ketika fase ini tiba, ada baiknya kita menekan rem sejenak, memperlambat laju rutinitas, dan mengamati kembali hal-hal berharga yang mungkin terlewatkan.
Berdamai dengan kehidupan bukanlah sebuah bentuk kekalahan. Ketika semesta seolah tidak lagi berpihak dan segala daya upaya terasa sia-sia, mungkin itulah saat yang tepat bagi kita untuk belajar menerima keadaan. Ini adalah momen untuk melihat situasi yang sedang dialami dari sudut pandang yang sepenuhnya berbeda.
Secara praktis, terdapat lima langkah yang dapat kita terapkan agar mampu berdamai dengan kehidupan:
Pertama, belajarlah untuk merasa cukup. Kebutuhan manusia memang jauh lebih kompleks dibandingkan makhluk hidup lainnya. Selain sandang, pangan, dan papan, manusia senantiasa mencari validasi, perhatian, serta penghargaan. Hal inilah yang kerap membuat rasa puas sulit tercapai. Cobalah memisahkan dengan tegas antara kebutuhan esensial dan sekadar keinginan. Mulailah mengapresiasi hal-hal sederhana yang telah kita miliki saat ini tidak harus kemewahan, melainkan hal sekecil sarapan pagi yang hangat, sahabat yang setia menemani, atau nikmat kesehatan. Ketika batas antara butuh dan ingin sudah disadari, niscaya kita tidak akan terus-menerus merasa kekurangan.
Kedua, tumbuhkan rasa syukur atas anugerah kehidupan. Kehidupan yang kita jalani saat ini, dengan segala suka dan dukanya, adalah sebuah keistimewaan. Di dalam kehidupan ini, kita dibekali kehendak bebas untuk merespons setiap peristiwa. Sikap yang kita pilih akan menentukan kualitas hari-hari kita. Sebagai contoh sederhana, ketika bangun pagi dan mendapati cuaca mendung bersiap hujan. Jika kita meresponsnya dengan keluhan, besar kemungkinan sisa hari tersebut akan dipenuhi aura negatif dan emosi yang tidak stabil. Sebaliknya, jika kita menyikapinya secara positif, suasana hati akan terjaga dengan baik dan berdampak pada tindakan-tindakan produktif selanjutnya.
Ketiga, berhenti menghukum diri atas masa lalu. Sepanjang perjalanan usia, tentu banyak hal yang telah kita lakukan, baik maupun buruk. Sering kali kita baru menyadari keliru setelah melihat dampak dari perbuatan tersebut. Jika Anda menyadari adanya kesalahan di masa lalu, wajar untuk merasa menyesal, tetapi jangan biarkan diri Anda berlarut-larut tenggelam di dalamnya. Jadikan setiap kegagalan dan kesalahan sebagai guru kehidupan yang berharga untuk merancang masa depan yang lebih bijaksana.
Keempat, kaji ulang makna dan tujuan hidup. Ketika segala sesuatu terasa begitu sulit diraih entah karena keterbatasan kondisi internal maupun desakan faktor eksternal bisa jadi itu adalah sinyal bagi kita untuk melakukan refleksi. Tanyakan kembali pada diri sendiri: Apakah tujuan hidup ini hanya semata-mata untuk memuaskan ambisi pribadi? Ataukah ada makna yang lebih besar, seperti menjalankan peran baik yang telah digariskan oleh Sang Pencipta dalam kehidupan kita?
Kelima, pererat relasi spiritual dengan Tuhan. Terlepas dari apa pun keyakinan kita, kualitas relasi spiritual sering kali berbanding lurus dengan ketenangan batin. Ketika fondasi spiritual kita kuat, rasa khawatir dan kekecewaan tidak akan mudah menumbangkan kita. Kita menjadi lebih ikhlas menyadari bahwa ada hal-hal di luar kendali manusia yang memang harus terjadi, baik itu rezeki, musibah, penyakit, maupun kematian. Sebaliknya, ketika relasi spiritual menjauh, kita cenderung memaksakan kekuatan sendiri dan berusaha keras “mengakali” takdir. Dari sinilah lahir penolakan-penolakan batin yang membuat kita gagal berdamai dengan kenyataan.
Sobat Veritas, berjuang demi kualitas hidup yang lebih baik adalah sebuah keharusan. Namun, mengenali kapan harus memperlambat langkah untuk mensyukuri apa yang sudah digenggam adalah sebuah kebijaksanaan. Hal ini sangat esensial tidak hanya untuk menjaga kesehatan mental kita, tetapi juga untuk merawat kedamaian sejati di dalam diri.
* Penyandang Difabel Tuna Daksa.






