Festival Golo Koe 2026 Hasilkan Perputaran Ekonomi Rp22,95 Miliar meski Puncak Acara Batal akibat Gempa

Festival Golo Koe 2026 di Labuan Bajo menghasilkan perputaran ekonomi Rp22,95 miliar meski puncak acara batal akibat gempa. Selain menggerakkan UMKM dan pelaku seni lokal, festival ini menghadapi tantangan pengelolaan sampah dan keberlanjutan lingkungan.


LABUAN BAJO, Veritas Indonesia – Festival Golo Koe 2026 di Labuan Bajo, Kabupaten Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur (NTT), menghasilkan perputaran ekonomi sebesar Rp22,95 miliar meski acara puncaknya dibatalkan akibat gempa bumi bermagnitudo 7,7 pada 15 Agustus lalu.

Capaian tersebut tercatat dalam laporan analisis dampak penyelenggaraan festival yang dipaparkan dalam rapat daring pada 12 Oktober 2026. Laporan itu disusun oleh Tim Strategi Event, Deputi Bidang Pengembangan Penyelenggaraan Kegiatan (Event) Kementerian Pariwisata RI, dengan menilai dampak festival dari aspek ekonomi, sosial budaya, dan lingkungan.

Menurut siaran pers Badan Pelaksana Otorita Labuan Bajo Flores (BPOLBF) tertanggal 13 Oktober 2026, festival yang masuk dalam program Karisma Event Nusantara (KEN) tersebut semula dijadwalkan berlangsung selama enam hari, 10–15 Agustus 2026. Namun, pembatalan acara puncak akibat gempa membuat rangkaian festival hanya berlangsung selama lima hari.

Mengusung kekayaan budaya, tradisi, dan religiositas masyarakat Manggarai, Festival Golo Koe menjadi salah satu ruang perjumpaan antara kehidupan budaya lokal, pariwisata, dan aktivitas ekonomi masyarakat.

45.000 Pengunjung, Perputaran Ekonomi Rp22,95 Miliar

Selama lima hari penyelenggaraan, festival ini menarik sekitar 45.000 pengunjung. Sebanyak 89 persen di antaranya merupakan warga lokal, sementara sisanya adalah wisatawan nusantara dan mancanegara.

Baca Juga Artikel:  Merajut Persaudaraan Lintas Iman, Keuskupan Labuan Bajo Salurkan Hewan Kurban ke Masjid Al Munawwarah

Laporan tersebut mencatat rata-rata lama tinggal pengunjung mencapai 5,62 hari, dengan pengeluaran rata-rata Rp342.000 per kunjungan. Aktivitas pengunjung selama festival turut menggerakkan berbagai sektor usaha, terutama yang berkaitan dengan kebutuhan wisatawan dan kegiatan penyelenggaraan acara.

Selain perputaran ekonomi nasional sebesar Rp22,95 miliar, festival ini mencatat perputaran ekonomi sebesar Rp18,01 miliar di tingkat NTT. Kontribusinya terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) nasional dilaporkan mencapai Rp11,77 miliar, sedangkan kontribusinya terhadap Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) NTT sebesar Rp9,04 miliar.

Dalam survei persepsi multipihak, pengelolaan dampak ekonomi festival memperoleh skor 4,724 dari skala 5,00, yang masuk kategori “Sangat Baik”.

Angka-angka tersebut menunjukkan bahwa dampak festival tidak hanya diukur dari jumlah pengunjung atau kemeriahan acara, tetapi juga dari aktivitas ekonomi yang tercipta selama penyelenggaraan.

Mgr. Maksimus Regus, Uskup Labuan Bajo, bersama Menteri Pariwisata RI Widiyanti Putri Wardhana dan Wakil Bupati Manggarai Barat dr. Yulianus Weng, M.Kes., dalam Festival Golo Koe di Labuan Bajo, Flores.

Seniman dan UMKM Lokal Mendapat Ruang

Dampak festival juga terlihat dalam keterlibatan masyarakat setempat. Sebanyak 375 tenaga kerja lokal terlibat secara langsung, sementara 883 pelaku seni budaya mengambil bagian dalam rangkaian kegiatan.

Di sektor usaha, sebanyak 173 tenant komersial berpartisipasi dan seluruhnya merupakan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) lokal. Keterlibatan ini membuka ruang bagi pelaku usaha dan komunitas budaya untuk memperkenalkan produk, karya, serta kekayaan budaya Manggarai kepada pengunjung.

Baca Juga Artikel:  Kado Natal Lintas Agama: Cara Mgr. Maksi Merawat Persaudaraan di Stasi Ta’al dan Siru

Pelaksana Tugas Direktur Utama BPOLBF, Andhy MT Marpaung, mengatakan analisis dampak diperlukan untuk memahami manfaat festival secara menyeluruh sekaligus mengidentifikasi aspek yang masih perlu diperbaiki.

“Festival berbasis budaya seperti Festival Golo Koe memiliki potensi besar untuk memberikan manfaat bagi daerah, tidak hanya melalui aktivitas ekonomi dan kunjungan wisatawan, tetapi juga melalui pelestarian budaya serta keterlibatan masyarakat lokal,” ujar Andhy, sebagaimana dikutip dari siaran pers BPOLBF.

Menurutnya, evaluasi berbasis data dapat menjadi landasan untuk meningkatkan kualitas penyelenggaraan festival pada masa mendatang.

Emisi Karbon dan Upaya Pemulihan Lingkungan

Di balik dampak ekonomi dan sosial budaya, penyelenggaraan festival juga meninggalkan jejak lingkungan yang perlu diperhatikan.

Bekerja sama dengan Jejakin, perusahaan teknologi iklim yang menyediakan layanan pengukuran emisi dan pemantauan aksi lingkungan, penyelenggara mencatat total emisi festival sebesar 26.536,70 kilogram setara karbon dioksida (kgCO₂e).

Sebagai bagian dari upaya mengurangi dampak lingkungan, sebanyak 603 pohon dan mangrove ditanam selama rangkaian festival. Penanaman tersebut diperkirakan menghasilkan stok karbon sebesar 58.926,65 kgCO₂e selama periode perhitungan yang dilaporkan, yakni masa hidup pohon selama delapan tahun.

Berdasarkan estimasi tersebut, stok karbon yang diproyeksikan lebih besar daripada emisi festival, dengan selisih 32.389,95 kgCO₂e.

Meski demikian, penanaman pohon tidak serta-merta menghapus seluruh dampak lingkungan dari kegiatan festival. Upaya keberlanjutan tetap memerlukan pengelolaan sampah yang baik, pengurangan penggunaan bahan sekali pakai, serta keterlibatan aktif penyelenggara, pelaku usaha, dan pengunjung.

Baca Juga Artikel:  Gereja Katolik Hadirkan Layanan Terpadu Bantu Ratusan Ribu Korban Gempa Flores

Pengelolaan Sampah Jadi Pekerjaan Rumah

Ketua Panitia Festival Golo Koe, Romo Ivan Selman, mengatakan hasil analisis tersebut akan menjadi bahan evaluasi untuk penyelenggaraan festival pada tahun-tahun berikutnya. Salah satu aspek yang mendapat perhatian khusus adalah pengelolaan sampah.

“Selain mempertahankan hal-hal yang sudah berjalan baik, kami juga perlu memperbaiki sejumlah aspek, terutama pengelolaan sampah,” kata Romo Ivan.

Ia berharap pengelolaan sampah dapat direncanakan secara lebih baik dengan melibatkan seluruh pihak, mulai dari panitia dan tenant hingga peserta serta pengunjung.

BPOLBF menilai kolaborasi antara pemerintah, penyelenggara, komunitas budaya, pelaku usaha, dan masyarakat menjadi kunci untuk meningkatkan kualitas Festival Golo Koe secara berkelanjutan.

Dengan evaluasi yang bertumpu pada data, festival ini diharapkan tidak hanya menjadi penggerak ekonomi dan daya tarik pariwisata Labuan Bajo, tetapi juga menjadi ruang pelestarian budaya serta penguatan identitas masyarakat Manggarai dan Flores.

Sumber: Siaran Pers Badan Pelaksana Otorita Labuan Bajo Flores (BPOLBF), 13 Oktober 2026, disampaikan oleh Sisilia Lenita Jemana, Kepala Divisi Komunikasi Publik BPOLBF.


Veritas Indonesia berkomitmen untuk terus menghadirkan tulisan-tulisan yang meneguhkan iman dan menyuarakan kebenaran. 

Kami mengundang Anda, para pembaca setia, untuk turut mendukung operasional pelayanan ini melalui donasi ke rekening BCA 6440054739 a.n. Lucia Margaretha Audrey Niron (Bendahara Veritas Indonesia).

Agar donasi Anda dapat kami terima dan catat dengan baik, mohon kirimkan bukti transfer kepada Editor Konten kami, Maria Frani Ayu, di nomor 081230038196. Sedikit dari Anda adalah wujud nyata kebersamaan dalam pelayanan ini.

P. Kasmir Nema, SVD
P. Kasmir Nema, SVD
Pemimpin Redaksi sekaligus Direktur Media Veritas Indonesia. Jurnalis dan Koordinator Umum Media dan Komunikasi Serikat Sabda Allah (SVD) yang berbasis di Roma. Kontributor untuk Vatican News dan Radio Veritas Asia (RVA). Profil akademik: ResearchGate Profile

Related Articles

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

spot_img

Terbaru

Populer