Dari Maumere ke Paraguay, Sr. Maria Tantiana, SMI, menemukan bahwa misi bukan sekadar perjalanan jauh, melainkan perjalanan iman untuk belajar, beradaptasi, dan mengasihi di tengah perbedaan bahasa dan budaya.
Penulis: Suster Maria Tantiana, SMI
Tidak semua panggilan Tuhan datang ketika kita merasa siap. Ada kalanya Tuhan mengajak kita meninggalkan tempat yang akrab dan melangkah menuju jalan yang belum pernah kita bayangkan. Di sanalah iman belajar bertumbuh, keberanian perlahan-lahan terbentuk, dan hati mulai memahami bahwa misi bukan hanya tentang pergi jauh, melainkan tentang kesediaan untuk mengasihi.
Bagi saya, perjalanan misi dari Maumere, Indonesia, ke Paraguay, Amerika Selatan, merupakan pengalaman yang mengubah cara saya memandang panggilan dan kehidupan. Saya tidak pernah membayangkan akan menjalani perutusan di negeri yang begitu jauh, dengan bahasa, budaya, dan kebiasaan yang berbeda dari lingkungan tempat saya dibesarkan.
Namun, Tuhan memiliki jalan-Nya sendiri. Bersama Suster Imelda Parang dari Adonara, saya menerima kabar bahwa kami akan diutus ke Paraguay. Pada 6 Juni 2022, kami tiba di negeri ini dengan hati yang dipenuhi harapan dan doa. Kami datang untuk melayani, tetapi kami juga membawa banyak pertanyaan tentang kehidupan yang akan kami jalani.
Meninggalkan yang Akrab, Menyambut yang Baru
Sebelum berangkat, persoalan bahasa menjadi salah satu kekhawatiran terbesar saya. Bagaimana saya dapat berkomunikasi jika tidak memahami bahasa Spanyol maupun Guaraní? Bagaimana saya menyesuaikan diri dengan makanan, iklim, dan kebiasaan masyarakat yang berbeda? Apakah saya mampu menjalankan tugas perutusan dengan baik?
Pertanyaan-pertanyaan itu membuat saya merasa takut dan cemas. Saya menyadari bahwa meninggalkan tanah air bukan sekadar menempuh perjalanan melintasi samudra. Saya juga harus meninggalkan kenyamanan, menerima keterbatasan, dan belajar menjalani kehidupan yang belum sepenuhnya saya pahami.
Dalam pengalaman itu, saya mulai menyadari bahwa iman tidak berarti kita tidak pernah merasa takut. Iman membantu kita tetap melangkah meskipun belum mengetahui seluruh jalan yang terbentang di depan. Saya tidak memiliki jawaban untuk semua kekhawatiran saya, tetapi saya belajar mempercayakan perjalanan ini kepada Tuhan.
Perutusan mengajarkan saya untuk tidak menunggu sampai semuanya terasa mudah sebelum berani melangkah. Kadang-kadang, kita baru memahami makna sebuah panggilan setelah menjalaninya dengan kesetiaan, selangkah demi selangkah.
Ketika Kasih Berbicara Tanpa Banyak Kata
Setibanya di Paraguay, saya menghadapi kenyataan bahwa bahasa dapat menjadi penghalang dalam perjumpaan. Ada saat-saat ketika saya ingin mengungkapkan sesuatu, tetapi tidak menemukan kata-kata yang tepat. Saya harus lebih banyak mendengarkan, memperhatikan, dan belajar memahami orang-orang di sekitar saya.
Namun, di tengah keterbatasan itu, saya menemukan bahwa kasih memiliki bahasa yang dapat dipahami oleh setiap orang. Senyuman, sapaan sederhana, perhatian kecil, dan kesediaan membantu mampu membuka jalan bagi sebuah persahabatan. Keramahan dan kemurahan hati masyarakat Paraguay membantu saya merasa diterima dan menemukan keberanian untuk menyesuaikan diri.
Saya mulai mengenal kebiasaan setempat, termasuk tradisi minum tereré dan berdoa bersama komunitas. Hal-hal yang pada awalnya terasa asing perlahan-lahan menjadi bagian dari pengalaman hidup saya. Saya belajar menghargai budaya setempat, bukan sebagai orang yang datang membawa semua jawaban, melainkan sebagai seorang saudari yang bersedia mendengarkan dan belajar.
Pengalaman ini mengubah pemahaman saya tentang misi. Saya datang dengan keinginan untuk melayani, tetapi saya juga menerima banyak hal dari masyarakat yang saya jumpai. Mereka mengajarkan saya tentang keramahan, kesabaran, solidaritas, dan kekuatan hubungan antarmanusia.
Saya semakin memahami bahwa misi bukan hanya tentang apa yang dapat kita berikan kepada orang lain. Misi juga menuntut kesediaan untuk menerima, belajar, dan membiarkan diri kita diubah melalui perjumpaan. Ketika kita menghargai bahasa, budaya, dan pengalaman hidup orang lain, kita sedang membuka ruang bagi persaudaraan yang melampaui batas bangsa dan latar belakang.
Misi Tidak Dijalani Sendirian
Dalam perjalanan ini, dukungan komunitas menjadi sumber kekuatan yang sangat berarti. Saya bersyukur atas kehadiran para Suster -Suster Maria Imakulata, para misionaris Indonesia di Paraguay, khususnya para imam Serikat Sabda Allah (SVD), para Suster Misi Abdi Roh Kudus (SSpS), para misionaris lainnya, serta keluarga awam Indonesia di Paraguay yang dikenal sebagai Indopar.

Kehadiran mereka mengingatkan saya bahwa seorang misionaris tidak pernah berjalan sendirian. Kita membutuhkan orang-orang yang bersedia mendengarkan, menguatkan, berbagi pengalaman, dan menemani kita ketika menghadapi kesulitan. Persaudaraan menjadi tempat untuk memulihkan kekuatan dan menemukan kembali sukacita dalam panggilan.
Saya juga belajar bahwa kesetiaan dalam misi tidak selalu diwujudkan melalui karya-karya besar. Misi hadir dalam hal-hal sederhana yang dilakukan setiap hari: mendengarkan seseorang yang sedang mengalami kesulitan, mengunjungi keluarga, mendampingi mereka yang membutuhkan, berdoa bersama, dan tetap hadir ketika kita tidak memiliki banyak hal untuk diberikan.
Dalam pengalaman sehari-hari itulah saya belajar menemukan kehadiran Kristus. Ia tidak hanya dijumpai dalam kapel atau perayaan Ekaristi, tetapi juga dalam kehidupan masyarakat, dalam kegembiraan dan penderitaan mereka, serta dalam perjumpaan sederhana yang mengajarkan kita untuk semakin mengasihi.
Bagi saya, menjadi misionaris bukan berarti harus selalu kuat atau mampu menyelesaikan setiap persoalan. Menjadi misionaris berarti bersedia terus belajar, mengakui keterbatasan, menerima bantuan, dan tetap setia melayani meskipun jalan yang ditempuh tidak selalu mudah.
Menemukan Tuhan di Tanah yang Jauh
Kini, ketika mengenang perjalanan sejak kedatangan saya di Paraguay pada tahun 2022, saya dapat melihat bahwa ketakutan dan kecemasan pada awalnya telah menjadi bagian dari perjalanan iman. Saya belajar bahwa Tuhan tidak selalu memanggil kita ke tempat yang sudah kita kenal. Terkadang, Ia membawa kita jauh dari lingkungan yang akrab agar kita belajar menemukan-Nya melalui pengalaman dan perjumpaan yang baru.
Perbedaan budaya yang dahulu membuat saya cemas kini menjadi kesempatan untuk bertumbuh. Saya semakin menyadari bahwa perbedaan bukanlah penghalang untuk membangun persaudaraan. Sebaliknya, perbedaan dapat memperkaya kehidupan bersama ketika kita bersedia saling mendengarkan, menghormati, dan belajar satu sama lain.
Perjalanan dari Maumere ke Paraguay bukan hanya perjalanan melintasi samudra. Ini juga merupakan perjalanan batin: dari rasa takut menuju kepercayaan, dari ketidakpastian menuju penyerahan diri, dan dari keinginan untuk memberi menuju kesediaan untuk saling menerima.
Saya tidak mengetahui seluruh jalan yang masih terbentang di depan. Namun, saya percaya bahwa selama saya bersedia membuka hati, belajar dari sesama, dan melayani dengan tulus, Tuhan akan terus membimbing langkah saya.
Saya semakin memahami bahwa misi bukan pertama-tama tentang seberapa jauh kita pergi, melainkan tentang seberapa terbuka hati kita untuk mengasihi. Ketika kita meninggalkan kenyamanan demi melayani sesama, kita tidak hanya membawa kasih Tuhan ke tempat yang baru, tetapi juga menemukan bahwa Tuhan telah lebih dahulu hadir di sana.

*Sr. Maria Tantiana asal Kecamatan Doreng, Desa Mahetana Hebar-Maumere, Flores, tinggal dan bekerja di Paraguay-Amerika Latin.







