Di tengah pesatnya perkembangan kecerdasan buatan (AI), lima universitas Katolik yang tergabung dalam APTIK berkolaborasi menggelar AI Bootcamp bertema “Magnifica Humanitas”, dengan menekankan pentingnya menempatkan martabat manusia sebagai pusat pengembangan dan pemanfaatan teknologi.
Penulis: Paskalia, S.I.Kom., M.Si*
Sejumlah dosen Ilmu Komunikasi dari perguruan tinggi Katolik di Indonesia berkolaborasi dalam penelitian bertema “Magnifica Humanitas” yang berlangsung pada 6–11 Oktober 2026 di Rumah Pembinaan Carolus Borromeus (RPCB) Syantikara, Yogyakarta.
Kegiatan ini melibatkan 22 mahasiswa Program Studi Ilmu Komunikasi dari lima universitas anggota Asosiasi Perguruan Tinggi Katolik (APTIK). Kelima universitas tersebut adalah Universitas Atma Jaya Yogyakarta (UAJY), Universitas Katolik Indonesia Atma Jaya, Universitas Katolik Soegijapranata, Universitas Katolik Widya Mandala Surabaya (UKWMS), dan Universitas Katolik Widya Mandira (UNWIRA).
Perkembangan Artificial Intelligence (AI) menjadi bagian dari perubahan teknologi yang tidak lagi dapat dihindari. Kehadirannya menawarkan berbagai kemudahan, mulai dari kecepatan dalam mengolah informasi hingga kemampuan menghasilkan keluaran yang semakin menyerupai karya manusia. Namun, di balik berbagai manfaat tersebut, AI juga menghadirkan tantangan yang perlu disikapi secara kritis. Di satu sisi, AI berpotensi meningkatkan kualitas hidup dan memperkuat kapasitas manusia. Di sisi lain, ketergantungan yang berlebihan terhadap teknologi ini justru dapat melemahkan kemampuan berpikir kritis, kreativitas, dan kemandirian manusia.
Tantangan tersebut semakin kompleks ketika perkembangan AI berlangsung di tengah ketidakpastian ekonomi, sosial, dan politik. Kekhawatiran bahwa AI akan menggantikan peran manusia dalam berbagai bidang kehidupan pun semakin mengemuka. Kondisi ini menegaskan pentingnya kemampuan manusia untuk beradaptasi, meningkatkan kompetensi, serta memanfaatkan AI secara etis dan bertanggung jawab tanpa mengabaikan nilai-nilai kemanusiaan.
Berangkat dari keprihatinan sekaligus refleksi kritis terhadap perkembangan AI, tim peneliti dari lima universitas anggota Asosiasi Perguruan Tinggi Katolik (APTIK) berkolaborasi menyelenggarakan pelatihan yang mencakup 14 modul pembelajaran tentang penerapan AI dalam bidang ilmu komunikasi. Tim tersebut terdiri atas Drs. Mario Antonius Birowo, M.A., Ph.D. (UAJY), Pupung Arifin, S.Sos., M.Si. (UAJY), Dr. Finsensius Yuli Purnama, S.Sos., M.Med.Kom. (UKWMS), Dr. Ir. Lukas, S.T., MAI., CISA., IPU. (UNIKA ATMA JAYA), Inosensia E. I. Ndiki Satu, S.Sos., M.I.Kom. (UNWIRA), Dr. phil. Lisa Esti Puji Hartanti, S.Sos., M.Si. (UNIKA ATMA JAYA), Elizabeth Florence Warikar, S.I.Kom., M.I.Kom. (Universitas Katolik Soegijapranata), serta Paskalia, S.I.Kom., M.Si. (UNIKA ATMA JAYA).
Melalui kolaborasi ini, penguasaan AI tidak semata-mata diarahkan pada peningkatan keterampilan teknis calon sarjana komunikasi, tetapi juga pada pembentukan cara berpikir yang kritis, reflektif, dan berlandaskan nilai-nilai kemanusiaan. Dengan demikian, teknologi diharapkan menjadi sarana untuk mengembangkan potensi manusia, bukan justru menggantikan peran dan mereduksi martabatnya.
Dalam proses penyusunan modul, terdapat satu benang merah yang menjadi perhatian bersama, yakni pentingnya menghubungkan tuntutan dunia profesional yang dinamis dengan kemampuan beradaptasi terhadap perkembangan teknologi, terutama AI. Artinya, sarjana ilmu komunikasi tidak cukup hanya memahami aspek teoretis dan konseptual, tetapi juga perlu mampu memanfaatkan teknologi AI dalam berbagai bidang pekerjaan, seperti pemasaran, public relations, dan media.
Dalam kegiatan bootcamp, para peserta juga berlatih menghasilkan sebuah prototype yang memanfaatkan AI untuk membantu menyelesaikan persoalan sosial dan komunikasi di tengah masyarakat. Melalui sesi ekskursi di kawasan Tugu, Yogyakarta, peserta melakukan wawancara dan observasi terhadap berbagai kelompok masyarakat, seperti pedagang, wisatawan, pekerja seni, dan kelompok lainnya. Berdasarkan hasil pengamatan dan analisis sosial tersebut, peserta kemudian merancang prototype yang diharapkan dapat mendorong perbaikan dan keberlanjutan dalam penyelesaian persoalan sosial.

“Hari pertama kami melihat mahasiswa masih meraba-raba, apa sih kira-kira yang akan didapat. Kemudian, dari hari-hari berikutnya, mulai kelihatan bagaimana bentuk perkembangan mahasiswa. Modul yang dibuat secara sistematis tersebut akan terasa tautan atau jalinannya yang utuh hingga acara puncaknya hari ini (Sabtu), berupa karya yang kita namakan prototipe, hingga mempraktikkan produk AI yang relevan dengan anak ilmu komunikasi. Ini menjadi seperti laboratorium di mana mahasiswa bereksperimen. Nantinya, jika mereka mempunyai waktu yang lebih panjang, mereka akan membuat sesuatu yang lebih bagus lagi,” ungkap Mario Antonius Birowo selaku Ketua Tim Penelitian.
Kegiatan AI Bootcamp & National Competition APTIK tidak hanya memperkenalkan perkembangan teknologi AI, tetapi juga mendorong peserta untuk memanfaatkannya secara kreatif, etis, dan bertanggung jawab. Salah satu pesan utama dari kegiatan ini adalah pentingnya menempatkan manusia sebagai pusat pemanfaatan AI. Manusia tidak dapat menghindari perkembangan teknologi, tetapi perlu beradaptasi dan meningkatkan kompetensi agar AI dapat dimanfaatkan secara kritis, etis, dan bertanggung jawab, dengan tetap berorientasi pada nilai-nilai kemanusiaan.
*Dosen Prodi Ilmu Komunikasi, Universitas Katolik Indonesia Atma Jaya.







