Ketika lindu meremukkan sendi-sendi bumi dan melumat hunian yang ditegakkan berpuluh tahun, pertanyaan paling purba manusia kerap menyeruak liar: bukan tentang mengapa tanah bergoyang, melainkan ke mana perginya Tuhan saat ratap kehilangan membubung ke angkasa.
Oleh. Felix Baghi, SVD, Dosen filsafat IFTK Ledalero
Gempa mengguncang tanah dan meruntuhkan rumah-rumah yang dibangun dengan jerih payah. Ia juga mengguncang hati manusia: mendatangkan ketakutan, kehilangan, kebingungan, dan pertanyaan tentang kehadiran Tuhan. Dalam situasi demikian, umat beriman bertanya: apakah Tuhan masih memandang kami, ataukah DIA telah memalingkan wajah-Nya?
Surat Gembala Uskup Agung Ende mengajak kita memandang salib. Di sana, Allah tidak hadir sebagai Dia yang berjarak dari penderitaan, melainkan sebagai Allah yang merendahkan diri, masuk ke dalam luka manusia, dan memikul salib bersama umat-Nya. Salib bukan tanda kutukan, melainkan tanda kasih yang tinggal bersama mereka yang terluka.
“Wajah-Mu kucari, ya Tuhan.” Doa pemazmur itu kini bergaung dalam wajah para korban: pada anak-anak yang ketakutan, pada orang tua dan orang sakit yang cemas, pada keluarga yang kehilangan orang-orang terkasih, serta pada mereka yang duduk dalam tenda-tenda pengungsian. Wajah Tuhan yang dicari ternyata hadir dalam wajah mereka yang menderita.
Namun, wajah Tuhan juga tampak dalam tangan-tangan yang terulur: dalam relawan yang datang, dalam keluarga yang berbagi, dalam Gereja yang hadir, dalam pemerintah dan berbagai pihak yang menolong. Kasih tidak lagi hanya menjadi kata; ia menjelma menjadi roti, tempat berteduh, kunjungan, pendampingan, dan keberanian untuk memulai kembali.
Dalam terang filsafat wajah Emmanuel Levinas, wajah sesama adalah panggilan. Ia memanggil kita keluar dari kenyamanan diri dan menuntut tanggung jawab. Kita tidak dapat berdiri sebagai penonton di hadapan penderitaan orang lain. Wajah korban berkata kepada kita: jangan tinggalkan aku. Dari sana lahir solidaritas, bukan sebagai rasa iba sesaat, melainkan sebagai kesediaan untuk hadir, berbagi, dan berjalan bersama.
Karena itu, Gereja dipanggil menghidupi kenosis: mengosongkan diri dari kepentingan dan kemewahan agar tersedia bagi mereka yang miskin dan terluka. Kesederhanaan dalam perayaan bukan kehilangan sukacita, melainkan ungkapan bela rasa. Bantuan harus diberikan secara adil, terutama kepada mereka yang paling membutuhkan. Kejujuran dan transparansi menjadi bentuk penghormatan terhadap martabat para korban.
Bangkit dari bencana bukan hanya membangun kembali rumah dan gereja. Yang perlu dipulihkan adalah kehidupan, relasi persaudaraan, penghidupan keluarga, kesehatan batin, dan keberanian menatap masa depan. Kita membangun kembali dengan belajar dari gempa: lebih aman, lebih sederhana, lebih manusiawi, dan lebih selaras dengan keutuhan alam ciptaan.
Di tengah reruntuhan, kita menemukan bahwa Tuhan tidak pergi. Ia hadir dalam air mata korban, dalam tangan para penolong, dalam doa yang tak putus, dan dalam keberanian untuk saling menopang. Mencari wajah Tuhan berarti berani memandang wajah sesama. Menampakkan wajah Tuhan berarti menjadi belas kasih bagi mereka yang terluka.
Dan mungkin, dari sanalah harapan perlahan tumbuh: bukan karena semua luka telah hilang, melainkan karena tidak seorang pun harus menanggungnya sendirian.






