Air Mata Langit di Selasar Waimin

Oleh: Herdiana Randut*

Tabuhan gong dan gendang bertalu-talu, memecah kesunyian di selasar desa. Seluruh warga berkumpul, membalut diri dengan pakaian hitam sebagai penanda hati yang tengah berkabung. Dari bibir perempuan-perempuan desa, mengalun kidung duka yang menyayat hati, meratapi lara yang tengah mendekap tanah kelahiran kami.

Anak-anak memikul bakul berisi sisa-sisa hasil bumi. Di barisan terdepan, kepala suku berjalan gontai namun khusyuk, membawa sesajian berupa minyak, kayu cendana, dan sejumput tanah. Wangi dupa yang menguar ke udara menyatu dengan lantunan kidung, merajut untaian doa yang tak putus-putus.

Sore itu, saat ayam jago berkokok sayup dan anjing melolong di kejauhan, aku melihat kepasrahan yang sesungguhnya. Seluruh warga luruh, merendahkan diri, dan bersujud pada tanah yang retak. Aku pun ikut bersimpuh, menyatukan kening dengan debu kemarau, memanjatkan doa paling hening untuk desaku tercinta.

Arakan-arakan itu kemudian bergerak perlahan menuju sumber mata air yang kian menyusut. Setibanya di sana, sesajian dalam bakul rotan diletakkan dengan hati-hati ke atas permukaan air. Kepala suku dan ayahku memimpin doa. Bahasa yang mereka rapalkan tak dipahami oleh warga biasa, bersahut-sahutan, syahdu bak para peratap Israel yang melantunkan kidung duka di masa lampau.

Dua jam lamanya ritual suci itu berlangsung. Dua jam yang penuh kesyahduan dan khidmat. Setelah merapal segala harap, warga kembali ke rumah masing-masing dengan membawa satu keyakinan: semoga napas desa ini lekas pulih.

“Selasar itu bukan sekadar pintu masuk desa, Nak,” ujar Ayah keesokan harinya, mengurai rentetan makna dari ritual suci yang baru saja kami jalani. “Arakan-arakan diiringi musik dan kidung agar Kakek Waimin mengetahui kedatangan kita. Bunyi-bunyian itu adalah undangan, semacam ketukan di pintu alam mereka, memberi tahu para leluhur bahwa anak cucunya datang membawa keluh kesah.”

“Mengapa sesajiannya ditujukan kepada Kakek Waimin, Yah?” tanyaku. Rasa ingin tahuku selalu meletup-letup setiap kali Ayah mulai membuka kisah.

“Sebab ia adalah leluhur, pembuka jalan di tanah ini,” jawab Ayah pelan. Matanya menerawang jauh, merangkai kata demi kata dengan hati-hati.

“Masyarakat tak tahu pasti seperti apa wujudnya, hanya kepala suku yang memiliki mata batin untuk melihatnya. Sejak ritual suci kemarin, kepala suku memberitahuku sebuah rahasia. Kakek Waimin bukanlah manusia biasa. Ia entitas yang bersemayam dan menjaga kemurnian mata air itu,” lanjut Ayah dengan suara parau.

Baca Juga Artikel:  Uskup Kupang Tahbiskan 18 Diakon SVD: "Pelayanan Bukan Kekuasaan, melainkan Belas Kasih"

“Tapi… masyarakat mengira Kakek Waimin dikuburkan di selasar desa, tempat pertama ia menginjakkan kaki,” sanggahku.

Ayah tersenyum bijak. “Benar. Dan karena kepercayaan itulah, kita wajib memulai ritual suci apa pun di selasar. Biarlah masyarakat menggenggam keyakinan itu. Yang terpenting bukanlah membongkar siapa Kakek Waimin sebenarnya, melainkan menjaga agar warga tidak mencemari selasar dan sumber air kita. Kita menghormati alam melalui penghormatan kita pada leluhur.”

Menurut cerita Ayah, Kakek Waimin dahulu mewujud sebagai manusia, membangun selasar dan sebuah gubuk bambu tak jauh dari mata air. Ia sering duduk bercengkerama dengan para peladang dari daerah lain. Kebaikan dan kearifannya membuat banyak orang akhirnya menetap, hingga terbentuklah desa Waimin ini. Sejak saat itu, selasar desa menjadi pusat segala musyawarah dan detak jantung kehidupan kami.

Kekeringan ini telah berlangsung terlalu lama. Seminggu yang lalu, Ayah terpaksa menginap di ladang sebidangnya. Ia menjaga benih padi yang baru ditanam, khawatir lahannya ditumbuhi ilalang atau dijarah belalang. Lebih dari itu, Ayah harus menjaga sisa lumbung padi kami. Musim lapar telah tiba. Di setiap sudut desa, terdengar rintihan warga yang mulai kehabisan beras.

Hari ini, Ayah memutuskan untuk tetap di rumah. Seperti biasa, ia duduk di teras ditemani secangkir kopi hitam dan kepulan asap rokok. Sesekali ia menengok ayam-ayam di kandang belakang. Meski Ibu yang lebih telaten merawat ternak, Ayah selalu menyempatkan diri memeriksa keadaan rumah.

Ayahku adalah seorang guru desa. Ia berkeliling dari kampung ke kampung, mengajarkan tatanan budaya, budi pekerti, dan harmoni sosial. Kebijaksanaannya membuat ia sangat disegani.

“Dahulu,” Ayah sering bercerita, “Waimin adalah desa yang gemah ripah loh jinawi. Panen tak pernah ingkar janji, air mengalir deras sepanjang tahun, dan warganya hidup rukun tanpa pertikaian. Namun, alam bisa lelah jika kita lengah.”

Dua tahun terakhir, langit seolah menutup pintunya. Hujan hanya turun sekadar membasahi debu, tak cukup untuk menghidupkan benih padi, jagung, dan kacang-kacangan. Mata air, satu-satunya sandaran hidup kami, kian mengering. Lumbung-lumbung kosong. Tangis anak cucu yang lapar menyayat hati setiap orang tua. Kami telah melakukan segala cara, hingga akhirnya berserah pada cara-cara langit.

Baca Juga Artikel:  Melepas Roda Bantu: Percaya pada Tangan Tak Terlihat yang Menjaga Kita

“Mungkin… kita harus melaksanakan ritual itu lagi,” kata kepala suku, memecah keheningan dalam pertemuan aparatur desa siang itu. Wajahnya gurat oleh kelelahan dan putus asa.

“Apa yang kau cemaskan, Sahabatku?” tanya Ayah pada kepala suku, sore hari seusai pertemuan.

Kepala suku membuang napas berat. “Sebulan sudah sejak ritual pertama kita lakukan. Tidak ada tanda-tanda awan kelabu. Mata air tetap menyusut. Warga menanti dengan tatapan kosong. Aku khawatir, Penguasa Langit sedang murka dan enggan menjawab doa kita.”

“Penguasa Langit tidak pernah tuli, Ia hanya sedang menguji seberapa panjang napas kesabaran kita,” balas Ayah tenang. “Aku sepakat denganmu. Kita lakukan ritual suci itu untuk kedua kalinya. Jika langit masih diam, kita lakukan untuk yang ketiga kalinya. Tak ada kata menyerah dalam doa.”

Ayah selalu memancarkan optimisme yang menular. Baginya, ritual di selasar bukan sekadar meminta, tapi bentuk penyucian diri warga desa.

“Leluhur kita dekat dengan Penguasa Langit. Mereka mendengar ratap tangis anak cucunya,” ujar Ayah seraya menepuk bahu kepala suku. “Buang cemasmu. Biarlah semesta menjadi saksi sujud kita, dan biarkan leluhur merajut doa itu hingga sampai ke singgasana Penguasa Langit. Kabar baik itu akan datang.”

Malam itu, tepat pukul tujuh, ritual suci kedua digelar. Aku teringat bisikan Ayah sebelum berangkat, “Malam ini, semesta bersama kita.”

Gong dan gendang kembali bertalu, memecah kelamnya malam. Kidung duka dilantunkan, kali ini dengan nada yang lebih parau dan menyayat. Di selasar desa, tubuh-tubuh ringkih bersujud di atas tanah yang kering kerontang. Isak tangis pecah di mana-mana. Warga saling berpegangan tangan, menengadah ke langit yang tak berbintang. Air mata ketulusan, kepasrahan, dan rasa lapar bercampur menjadi satu, mengalir deras malam itu. Aku pun tak kuasa menahan haru, larut dalam rintihan doa umat manusia yang merasa begitu kecil di hadapan alam.

Baca Juga Artikel:  Menjemput Kekudusan di Usia Senja: Antara Doa, Kebun, dan Kelestarian Bumi

Ayah dan kepala suku kembali melantunkan doa-doa purba. Sesajian diletakkan di atas sisa-sisa air. Asap dupa membubung tinggi, seolah membawa pesan-pesan kami menembus pekatnya malam, mengetuk pintu langit.

Dua jam berlalu. Warga kembali ke rumah masing-masing dalam keheningan yang pasrah, kembali menatap tungku yang dingin dan anak-anak yang tertidur menahan lapar.

Hingga pada pukul tiga dini hari, keajaiban itu datang.

Ayah terbangun oleh suara gemuruh guntur yang membelah langit, disusul hembusan angin kencang yang menggoyangkan pepohonan. Saat ia bergegas membuka pintu depan, rintik air menyentuh wajahnya. Perlahan, rintik itu berubah menjadi derai yang lebat. Hujan turun dengan derasnya, seolah langit tumpah untuk mencuci segala dahaga bumi Waimin.

Ayah tersenyum lebar. Matanya berkaca-kaca. Ia segera menutup pintu dan membangunkan aku serta Ibu.

“Penguasa Langit mendengar kita, Nak! Air mata kita terjawab sudah di selasar desa,” ucap Ayah dengan suara bergetar karena bahagia. “Esok hari, kita harus kembali mengumpulkan warga di selasar. Kita akan ubah kidung duka lara menjadi kidung puji-pujian dan rasa syukur yang menggema ke seluruh penjuru langit!”

Malam itu, di bawah irama hujan yang deras menghantam genting, kami memanjatkan syukur tak terhingga. Alam akhirnya kembali memeluk desa kami.

*Herdiana Randut, kelahiran Januari 1994. Menyukai puisi dan cerpen. Beberapa puisi dan cerpen pernah dimuat dalam buku Antologi cerpen Rembulan (2024) dan Antologi puisi Trauma (2024). Anggota komunitas sastra Saung Karsa, komunitas Puandemik Indonesia dan Woke Asia Feminist, Founder Puan Floresta Bicara, penulis buku “Menangkap Cahaya Dalam Kegelapan Zaman”.


Veritas Indonesia berkomitmen untuk terus menghadirkan tulisan-tulisan yang meneguhkan iman dan menyuarakan kebenaran. Kami mengundang Anda, para pembaca setia, untuk turut mendukung operasional pelayanan ini melalui donasi ke rekening BCA 6440054739 a.n. Lucia Margaretha Audrey Niron (Bendahara Veritas Indonesia). Agar donasi Anda dapat kami terima dan catat dengan baik, mohon kirimkan bukti transfer kepada Editor Konten kami, Maria Frani Ayu, di nomor 081230038196. Sedikit dari Anda adalah wujud nyata kebersamaan dalam pelayanan ini.

Maria Frani Ayu Andari Dias
Maria Frani Ayu Andari Diashttps://www.veritasindonesia.id/
Editor Content di Veritas Indonesia, Penulis dan Pengajar Ilmu Keperawatan Jiwa di Institut Kesehatan Suaka Insan.

Related Articles

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

spot_img

Terbaru

Populer