Bencana sering kali menjadi cermin paling jujur yang mengikis seluruh ilusi kendali manusia, menyisakan pertanyaan mendasar: saat semua pegangan runtuh, apa yang membuat kita tetap bertahan?
Penulis: Albert Santoso
“Bukankah burung pipit dijual lima ekor dua duit? Sungguhpun demikian tidak seekor pun dari padanya yang dilupakan Allah, bahkan rambut kepalamu pun terhitung semuanya. Karena itu jangan takut, karena kamu lebih berharga dari pada banyak burung pipit.” (Luk 12:6-7)
Bencana sering kali datang tanpa mengetuk pintu, menguji batas kepasrahan manusia tepat di saat kita merasa paling aman. Bagi saya dan keluarga, ujian itu datang dalam wujud banjir besar yang melanda Jakarta dan sekitarnya pada awal tahun 2020.
Malam itu, 31 Desember 2019, gemuruh tawa dan sukacita perayaan pergantian tahun masih menyisakan kehangatan di dalam rumah. Hujan memang turun dengan lebat, namun kami tidak pernah menduga bahwa air akan naik begitu cepat. Sekitar pukul tiga pagi, kehangatan itu seketika sirna berganti kepanikan. Hanya dalam sekejap mata, air dingin berwarna cokelat keruh telah merayap masuk, menggenangi lantai setinggi mata kaki. Tanpa sempat berpikir panjang, kami segera menyelamatkan barang-barang seadanya dan mengungsi ke rumah tetangga yang letaknya lebih tinggi.
Dua hari berikutnya adalah ujian kesabaran. Hujan tak kunjung reda sepenuhnya, meninggalkan rumah kami terendam air setinggi lutut orang dewasa. Ketika genangan air akhirnya surut, apa yang tersisa di dalam rumah hanyalah puing-puing kepedihan. Papa melangkah masuk ke dalam rumah yang kini sunyi dan lembap. Pintu-pintu kayu melengkung rusak, lemari-lemari hancur karena air, dan sistem pelantang suara (sound system) kesayangan Papa tergeletak berserakan di atas lantai yang berlumpur. Rumah kami tampak luluh lantak, menyisakan kesedihan mendalam bagi kami yang melihatnya.
Melihat kondisi rumah yang hancur di tengah himpitan ekonomi keluarga yang sedang sulit tentu membuat kami terpukul. Saat itu, keuangan kami sangat terbatas, bahkan hanya cukup untuk menyambung hidup dari hari ke hari. Di tengah keputusasaan dan kebingungan yang menyesakkan dada, kami menyadari bahwa satu-satunya pegangan yang tersisa adalah doa. Kami bersujud, meluruhkan ego, dan memohon kekuatan serta pertolongan-Nya untuk melewati badai ini.
Tuhan bekerja dengan cara-cara yang tak terduga, sering kali melalui tangan-tangan yang berada jauh dari jangkauan kita. Beberapa hari kemudian, seorang kerabat dari pihak Mama yang bermukim di luar negeri menghubungi kami untuk menanyakan kabar pascabanjir. Saya menceritakan kondisi kami apa adanya, mengirimkan beberapa foto ruang tengah yang porak-poranda sebagai potret nyata pergumulan kami saat itu.
Tak disangka, keterbukaan kami mengetuk pintu kasih persaudaraan. Kerabat kami tersebut menggalang dana di antara keluarga besar di luar negeri untuk membantu meringankan beban kami. Ketika bantuan dana itu tiba dan saya memeriksa nominalnya, air mata kami tumpah. Jumlah bantuan tersebut tidak hanya cukup untuk memperbaiki kerusakan rumah dan mengganti perabotan yang hancur, tetapi juga melimpah hingga mampu mencukupi kebutuhan pangan kami selama beberapa bulan ke depan.
Pengalaman ini menjadi tamparan sekaligus pengingat yang manis bagi iman kami. Kerap kali kita merasa kecil, rapuh, dan tidak berdaya seperti lima ekor burung pipit yang dihargai murah. Namun, di mata Sang Pencipta, keberadaan kita jauh lebih berharga dari segalanya. Dia tidak pernah menutup mata terhadap air mata ciptaan-Nya.
Sebab, sebesar apa pun badai dan banjir kehidupan yang menerjang, kita memiliki Tuhan yang jauh lebih besar dari semua persoalan tersebut. Di tengah dunia yang sering kali menawarkan kekecewaan karena keterbatasan manusianya, Tuhan hadir dengan seribu satu cara yang tak terselami untuk memulihkan keadaan kita. Kita hanya perlu terus melangkah, bersandar, dan percaya bahwa pemeliharaan-Nya selalu sempurna pada waktu-Nya. Amin.
Doa:
Ya Tuhan kami mengucap syukur untuk segala pemelliharaanMu di dalam hidup kami. Tak sedikitpun dari kami yang luput dari pemeliharaanMu. Ampuni kami ya Tuhan jika kami masih mengandalkan kekuatan kami sendiri dan melupakanMu dalam menjalani kehidupan kami. Ajarilah kami untuk selalu mengandalkanMu dan berharap kepadaMu atas segala permasalahan yang kami hadapi di dalam hidup kami sehingga kami dapat merasakan damai sejahtera yang datangnya hanya dari padaMu saja ya Tuhan. Amin.
Veritas Indonesia berkomitmen untuk terus menghadirkan tulisan-tulisan yang meneguhkan iman dan menyuarakan kebenaran. Kami mengundang Anda, para pembaca setia, untuk turut mendukung operasional pelayanan ini melalui donasi ke rekening BCA 6440054739 a.n. Lucia Margaretha Audrey Niron (Bendahara Veritas Indonesia). Agar donasi Anda dapat kami terima dan catat dengan baik, mohon kirimkan bukti transfer kepada Editor Konten kami, Maria Frani Ayu, di nomor 081230038196. Sedikit dari Anda adalah wujud nyata kebersamaan dalam pelayanan ini.








