Prapaskah: Tentang Tidak Lari dari Kegagalan dan Keberanian untuk Tetap Tinggal

Di balik riuhnya perayaan kesuksesan yang diagungkan dunia, Prapaskah hadir sebagai pengingat sunyi bahwa kegagalan bukanlah jurang kehancuran, melainkan ruang paling jujur untuk bertemu dengan diri sendiri dan Ilahi.


Oleh: Maria Gracea

Kita semua pernah gagal. Namun, pertanyaannya: apakah kita memiliki nyali untuk bertahan di tengah puing-puingnya?

Daftar kegagalan itu panjang dan melelahkan. Ada yang terhenti di tahap akhir wawancara kerja, ada yang harus mengubur mimpi masuk universitas idaman meski persiapan sudah matang, atau mereka yang harus merelakan beasiswa yang telah diperjuangkan bertahun-tahun. Ada pula kegagalan yang lebih privat: rencana hidup yang disusun dengan hati namun berantakan, atau hubungan yang dikira akan abadi, ternyata menemui titik henti.

Ironisnya, kita sering memiliki standar ganda dalam memandang kegagalan. Saat orang lain jatuh, dengan mudah kita berucap, “Mungkin belum rezeki,” atau “Masih banyak yang lebih parah.” Namun, saat kegagalan itu mengetuk pintu kita sendiri, rasanya dunia berhenti berputar. Kita mulai menghakimi diri dengan pertanyaan beracun: “Apa aku memang tidak cukup baik?” atau “Kenapa harus aku?” Perlahan, kita mulai mundur,bukan hanya dari mimpi, tapi dari keberanian untuk berharap.

Di sinilah kisah Petrus menjadi cermin yang tajam. Di sudut gelap dekat api unggun kecil, Petrus berdiri dengan kecemasan yang mencekik. Ia adalah pria yang sebelumnya dengan penuh percaya diri berkata, “Aku tidak akan meninggalkan Engkau.” Namun, di bawah tekanan dan ancaman, integritasnya runtuh. Ia menyangkal sahabat terbaiknya bukan hanya sekali, melainkan tiga kali. Petrus gagal total. Ia gagal sebagai murid, sebagai sahabat, dan sebagai orang kepercayaan.

Tetapi, sejarah tidak berhenti pada kokok ayam jantan.

Pasca-kebangkitan, kita melihat Petrus yang berbeda. Ia berdiri di depan orang banyak dengan suara tegas, bukan lagi Petrus yang bersembunyi di balik bayang-bayang ketakutan. Ia bangkit dari kegagalannya bukan karena ia orang suci yang tanpa cela, melainkan karena ia manusia yang berani menatap kegagalannya dan memilih untuk kembali.

Kegagalan kita jarang terjadi karena malas. Sering kali, kita gagal karena lelah, takut, atau sekadar karena kita manusia yang memiliki keterbatasan. Masa Prapaskah mengajak kita untuk jujur pada kerapuhan ini. Ini adalah masa untuk mengakui bahwa kita sedang berjuang dengan kegagalan yang mungkin belum selesai.

Poin krusialnya bukan lagi bertanya “Kenapa aku gagal?”, melainkan “Apakah aku akan tetap tinggal?”

Tetap tinggal dalam proses. Tetap tinggal dalam iman. Tetap tinggal bahkan ketika segalanya terasa runtuh. Salib, yang secara visual tampak seperti simbol kegagalan total dan akhir yang tragis, nyatanya adalah awal dari kebangkitan yang paling agung.

Maka, mungkin Prapaskah tahun ini bukan tentang bagaimana kita menghindari kegagalan atau menutupinya dengan pencapaian semu. Ini tentang keberanian untuk berdiri lagi, setapak demi setapak, dengan iman yang mungkin hanya sebesar biji sesawi, namun nyata. Sebab, di titik paling gagal dalam hidupmu, Tuhan sering kali justru sedang merajut sesuatu yang baru.


Veritas Indonesia berkomitmen untuk terus menghadirkan tulisan-tulisan yang meneguhkan iman dan menyuarakan kebenaran. Kami mengundang Anda, para pembaca setia, untuk turut mendukung operasional pelayanan ini melalui donasi ke rekening BCA 6440054739 a.n. Lucia Margaretha Audrey Niron (Bendahara Veritas Indonesia). Agar donasi Anda dapat kami terima dan catat dengan baik, mohon kirimkan bukti transfer kepada Editor Konten kami, Maria Frani Ayu, di nomor 081230038196. Sedikit dari Anda adalah wujud nyata kebersamaan dalam pelayanan ini.

Maria Frani Ayu Andari Dias
Maria Frani Ayu Andari Diashttps://www.veritasindonesia.id/
Editor Content di Veritas Indonesia dan Dosen Ilmu Keperawatan Jiwa di Institut Kesehatan Suaka Insan. Sebagai profesional yang mengantongi sertifikasi Penulis Non Fiksi dari BNSP, ia juga aktif mengelola publikasi ilmiah pada beberapa jurnal ilmiah dengan latar belakang keilmuan keperawatan.

Related Articles

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

spot_img

Terbaru

Populer