Di tengah pusaran disrupsi yang mengaburkan arah masa depan, sinergi antara kedalaman spiritual dan ketajaman nalar menjadi kompas esensial yang harus dikelola dengan semangat kegembiraan.
Ringkasan Sambutan Rektor Universitas Katolik Indonesia Santo Paulus Ruteng, Dr. Agustinus Manfred Habur, Lic. Theol, untuk Pengukuran Dua Guru Besar.
Ketidakpastian bukan lagi sebuah pengecualian dalam sejarah manusia modern; ia telah menjadi habitat baru. Kita hidup di zaman yang ditandai oleh perubahan cepat: disrupsi teknologi, polarisasi sosial, krisis ekologis, hingga kegamangan nilai. Namun, justru di dalam ketidakpastian itulah, dunia akademik dipanggil untuk menemukan ruang kreativitas, iman, dan penemuan makna.
Universitas Katolik Indonesia Santu Paulus Ruteng merespons tantangan ini melalui sebuah peristiwa akademik yang istimewa: pengukuhan dua guru besar baru yang mewakili dua kutub ilmu yang berbeda namun saling menggenapi. Prof. Mgr. Maksimus Regus, S.Fil., MM, PhD, seorang pakar sosiologi agama dan multikulturalisme, serta Prof. Dr. Sabina Ndiung, M.Pd, pakar pembelajaran matematika. Pertemuan keduanya di panggung akademik bukan sekadar perayaan pencapaian pribadi, melainkan penegasan tentang visi pendidikan yang hidup, reflektif, dan transformatif.
Di satu sisi, kita melihat kedalaman sosiologi agama. Prof. Maksimus Regus mengingatkan bahwa di tengah masyarakat majemuk, iman tidak boleh menjadi sumber konflik. Sebaliknya, iman harus bertransformasi menjadi energi sosial yang inklusif dan dialogis. Di sisi lain, Prof. Sabina Ndiung membuktikan bahwa kecerdasan logis melalui matematika bukan sekadar ketangkasan berhitung. Ia adalah cara berpikir jernih, sistematis, dan kritis, sebuah fondasi krusial bagi generasi masa depan dalam mengambil keputusan yang bijak di tengah kekacauan informasi.
Secara filosofis, kita menyadari bahwa iman tanpa kejernihan berpikir akan menjadi rapuh dan mudah dimanipulasi. Sebaliknya, kecerdasan logis tanpa nilai iman akan menjadi kering, mekanis, dan kehilangan arah humanisnya. Oleh karena itu, integrasi keduanya bukanlah pilihan opsional, melainkan keharusan eksistensial.
Menariknya, integrasi ini harus dibungkus dalam satu kata kunci: “menggembirakan”. Pendidikan tidak boleh menjadi beban yang menindas, melainkan pengalaman yang menghidupkan. Iman yang sejati melahirkan sukacita, dan ilmu pengetahuan yang otentik menumbuhkan kegembiraan karena mampu memahami dan berbagi. Kita membutuhkan para Guru Besar yang tidak hanya cerdas di menara gading, tetapi juga mampu menularkan kegembiraan intelektual dan spiritual kepada generasi muda.
Menjadi guru besar bukanlah titik akhir, melainkan awal dari tanggung jawab sebagai penjaga nalar publik dan penuntun arah peradaban. Di tengah dunia yang mudah terpecah oleh perbedaan, suara akademik yang jernih sangatlah dinanti untuk menjembatani tradisi dan inovasi, serta lokalitas dan globalitas.
Melalui kehadiran Prof. Maksimus dalam harmoni sosial dan Prof. Sabina dalam pendidikan matematika yang humanis, kita meletakkan harapan besar bagi pembangunan peradaban kasih. Semoga pengukuhan ini mempertegas komitmen kita untuk melayani kebenaran dan menghadirkan harapan di tengah dunia yang tidak pasti. Sebab, hanya dengan akal budi yang terang dan hati yang dewasa, karya kita dapat menjadi sungguh menggembirakan bagi sesama.
Veritas Indonesia berkomitmen untuk terus menghadirkan tulisan-tulisan yang meneguhkan iman dan menyuarakan kebenaran. Kami mengundang Anda, para pembaca setia, untuk turut mendukung operasional pelayanan ini melalui donasi ke rekening BCA 6440054739 a.n. Lucia Margaretha Audrey Niron (Bendahara Veritas Indonesia). Agar donasi Anda dapat kami terima dan catat dengan baik, mohon kirimkan bukti transfer kepada Editor Konten kami, Maria Frani Ayu, di nomor 081230038196. Sedikit dari Anda adalah wujud nyata kebersamaan dalam pelayanan ini.








