Hadir, Namun Tak Melebur

Di tengah arus dunia yang sering kali menyeret kita pada keseragaman tanpa makna, keberanian untuk menjadi “berbeda” adalah satu-satunya cara agar kita tidak tenggelam.


Penulis: Albert Santoso

“Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaharuan budimu, sehingga kamu dapat membedakan manakah kehendak Allah: apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna.” (Roma 12:2)

Pernahkah kita sejenak mengamati seorang penyelam profesional yang tengah menjalankan tugas di kedalaman samudra? Ia bergerak di antara terumbu karang, mengobservasi biota laut yang eksotis, dan bertahan di bawah tekanan air yang masif dalam durasi yang cukup lama. Ketahanannya bukan sekadar keberuntungan, melainkan hasil dari perlengkapan yang presisi dan pelatihan yang disiplin.

Namun, ada satu hukum alam yang tidak bisa dilawan oleh teknologi selam tercanggih sekalipun: sang penyelam tetaplah mahluk daratan. Sehebat apa pun ia berenang, ia harus tetap terhubung dengan tangki oksigennya atau sesekali muncul ke permukaan. Tanpa pasokan udara segar dari “dunia atas”, laut yang indah itu perlahan akan menjadi tempat yang menenggelamkan dan mematikan baginya.

Demikian pulalah hakikat kita sebagai pengikut Kristus di tengah riuh rendahnya zaman ini. Kita sering kali diingatkan melalui pesan-pesan teologis, sebagaimana penegasan Yesus di hadapan Pilatus, bahwa meskipun kita berpijak di bumi, asal-usul dan jati diri kita bukanlah dari dunia ini (Yohanes 8:23, 17:16). Kita adalah manusia baru yang telah diangkat menjadi anak-anak Allah.

Konsekuensi dari identitas ini adalah sebuah panggilan untuk menjadi “berbeda”. Menjadi berbeda bukan berarti eksklusif atau menjauhkan diri dari realitas sosial, melainkan seperti penyelam tadi: berada di dalam air, namun tidak membiarkan air mengisi paru-parunya. Kita membutuhkan bimbingan dan “oksigen spiritual” dari Tuhan agar budi pekerti kita senantiasa diperbaharui. Tanpa koneksi yang intim dengan Sang Pencipta, kita rentan tergerus oleh arus dunia yang sering kali menawarkan nilai-nilai yang berseberangan dengan kehendak-Nya.

Menjadi berbeda adalah sebuah strategi bertahan hidup sekaligus misi. Hanya dengan menjaga koneksi dengan “atas”, kita tidak akan tenggelam oleh tekanan di “bawah”. Dengan demikian, kehadiran kita di dunia bukan lagi sekadar untuk bertahan, melainkan untuk memberi warna, menjadi garam yang mengawetkan kebaikan, dan terang yang menyingkapkan kegelapan.

Refleksi Doa:

Ya Tuhan, kami bersyukur atas anugerah-Mu yang telah mengangkat kami menjadi anak-anak-Mu melalui pengorbanan Putra-Mu yang tunggal. Di tengah derasnya arus dunia ini, mampukanlah kami untuk tetap sadar akan jati diri kami yang sesungguhnya. Bimbinglah setiap langkah kami agar kami tidak sekadar menjadi serupa dengan dunia, melainkan menjadi pribadi yang terus diperbaharui, sehingga hidup kami benar-benar menjadi garam dan terang yang memuliakan nama-Mu. Amin.


Veritas Indonesia berkomitmen untuk terus menghadirkan tulisan-tulisan yang meneguhkan iman dan menyuarakan kebenaran. Kami mengundang Anda, para pembaca setia, untuk turut mendukung operasional pelayanan ini melalui donasi ke rekening BCA 6440054739 a.n. Lucia Margaretha Audrey Niron (Bendahara Veritas Indonesia). Agar donasi Anda dapat kami terima dan catat dengan baik, mohon kirimkan bukti transfer kepada Editor Konten kami, Maria Frani Ayu, di nomor 081230038196. Sedikit dari Anda adalah wujud nyata kebersamaan dalam pelayanan ini.

Maria Frani Ayu Andari Dias
Maria Frani Ayu Andari Diashttps://www.veritasindonesia.id/
Editor Content di Veritas Indonesia dan Dosen Ilmu Keperawatan Jiwa di Institut Kesehatan Suaka Insan. Sebagai profesional yang mengantongi sertifikasi Penulis Non Fiksi dari BNSP, ia juga aktif mengelola publikasi ilmiah pada beberapa jurnal ilmiah dengan latar belakang keilmuan keperawatan.

Related Articles

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

spot_img

Terbaru

Populer