Sering kali kita berlomba mencari panggung untuk dihormati dan dipuja, padahal esensi kepemimpinan sejati justru lahir dari kerendahan hati untuk turun ke bawah dan melayani mereka yang tengah kesusahan.
“Barangsiapa ingin menjadi besar di antara kamu, hendaklah ia menjadi pelayanmu.” (Matius 20:26)
Penulis: Albert Santoso
Sering kali kita berlomba mencari panggung untuk dihormati dan dipuja, padahal esensi kepemimpinan sejati justru lahir dari kerendahan hati untuk turun ke bawah dan melayani mereka yang tengah kesusahan.
Mari kita berkaca pada sebuah peristiwa di suatu sekolah menengah yang tengah mengadakan pemilihan ketua OSIS. Setelah melewati seleksi ketat, tersisalah dua kandidat utama. Kandidat pertama, sebut saja A, adalah bintang di sekolahnya. Ia brilian secara akademis, pandai bergaul, dan sangat populer. Sayangnya, di balik pesonanya, A memiliki satu kelemahan fatal: ia nir-empati. Ia jarang mempedulikan sekitarnya dan kerap abai ketika teman-temannya sedang menghadapi masalah. Dukungan yang ia dapatkan murni bertumpu pada popularitas semata.
Di sisi lain, ada kandidat B. Prestasinya biasa-biasa saja dan namanya tidak terlalu gaung terdengar di lorong-lorong sekolah. Ia cenderung introver. Namun, B memiliki rekam jejak yang menyentuh hati banyak orang; ia adalah sosok pertama yang akan mengulurkan tangan ketika melihat temannya bersedih atau berada dalam kesulitan. Empatinya hidup dalam tindakan, bukan sekadar kata-kata.
Pada hari pemungutan suara, A melangkah dengan dada membusung, sangat yakin kemenangan sudah berada di genggamannya. Namun, realitas berkata lain. Begitu hasil penghitungan suara diumumkan, A terhentak. Ia kalah telak dari B, sosok yang selama ini ia anggap bukan saingan sepadan.
Didorong oleh rasa penasaran yang bercampur gengsi, A bertanya kepada beberapa temannya secara acak, menuntut alasan mengapa mereka lebih memilih B. Salah satu temannya memberikan jawaban yang menohok:
“Kamu memang teman yang menyenangkan, A. Tetapi untuk memimpin kami, kami tidak sekadar butuh orang yang pintar. Kami butuh sosok yang mau mengerti, bersedia mencarikan solusi atas kesulitan kami, dan yang terpenting, ia mau ikut turun tangan menghadapi masalah itu bersama-sama.”
Kisah sederhana ini adalah cerminan ironi dalam kehidupan keseharian kita. Berapa sering kita merasa sudah menjadi “manusia yang baik” hanya karena kita memegang jabatan mentereng, memiliki deretan prestasi, atau dikelilingi banyak relasi? Kita sibuk mengejar validasi dan pujian, namun abai melatih kepekaan nurani. Kita kerap luput melihat penderitaan orang lain, dan lupa memberikan apresiasi tulus atas pencapaian sesama.
Melalui pesannya, Yesus membalikkan konsep kesuksesan duniawi. Ia mengajarkan bahwa jika kita ingin bernilai tinggi di mata Tuhan, kita harus bersedia menurunkan ego dan ikhlas melayani sesama. Ini bukan berarti kita menolak bantuan orang lain, melainkan sebuah panggilan untuk memprioritaskan dedikasi kita sebagai perpanjangan tangan Tuhan di dunia.
Jika kita mengimani bahwa Tuhan yang kita sembah adalah Sang Maha Pengasih dan Penyayang, bukankah sudah semestinya kita, sebagai anak-anak-Nya, mewujudnyatakan kasih tersebut melalui kepedulian yang nyata?
Doa: Ya Tuhan, kami bersyukur karena memiliki Engkau, Allah yang penuh kasih dan penyayang. Ampunilah kami, ya Bapa, jika ego masih kerap merajai hati kami, membuat kami lebih suka dilayani daripada melayani. Curahkanlah Roh Kudus-Mu, agar hati kami senantiasa rindu untuk menjadi pelayan-Mu yang setia, serta menjadi saluran berkat bagi sesama. Amin.








