web page hit counter
back to top
Thursday, February 26, 2026

Seni Menata Ulang Kehidupan: Mengapa Keterpurukan Layak Disyukuri

Terkadang, titik terendah dalam hidup bukanlah sebuah akhir dari segalanya, melainkan sebuah kanvas kosong yang diberikan semesta agar kita bisa melukis ulang takdir dengan warna yang jauh lebih bermakna.


Oleh: Albert Santoso

Hampir semua orang mengamini pepatah usang bahwa hidup ini ibarat roda yang berputar; kadang di atas, kadang pula di bawah. Saat roda itu berada di puncak, dunia seakan berada dalam genggaman. Kesuksesan membuat segala hal terasa mudah didapat, dan tiba-tiba saja, banyak orang yang bahkan tak terlalu kita kenal berusaha merapat. Namun, narasi ini bisa berbalik seratus delapan puluh derajat ketika roda itu menghantam tanah berlumpur. Saat hidup hancur dan harapan pupus, hal-hal yang dulu mudah diraih tiba-tiba menjadi kemustahilan. Orang-orang yang dulu menyebut diri mereka sebagai sahabat perlahan menjauh, seolah tak pernah mengenal kita. Di tengah rasa sepi dan ditinggalkan itu, sebuah pertanyaan besar muncul: bagaimana seharusnya kita bersikap di titik terendah ini?

Jawabannya mungkin terdengar klise dan paradoksal: bersyukurlah.

Meminta seseorang bersyukur di tengah kehancuran memang terdengar tidak masuk akal. Namun, jika ditelisik lebih dalam, masa-masa kelam ini sebenarnya membawa berkah terselubung. Pertama, kehancuran memberi kita kesempatan emas untuk menata ulang hidup dari nol. Banyak yang menganggap memulai kembali adalah proses yang melelahkan dan penuh kekecewaan. Padahal, fase ini adalah momen evaluasi terbaik. Kita dipaksa untuk mengkalibrasi ulang langkah, menelaah kesalahan masa lalu, dan memahami akar kejatuhan kita. Pelajaran berharga ini adalah fondasi krusial yang tidak akan pernah kita dapatkan jika hidup selalu berjalan mulus.

Selain itu, keterpurukan adalah filter paling jujur dalam sebuah hubungan. Saat berada di puncak kejayaan, sulit membedakan mana kawan sejati dan mana kawan yang sekadar mencari keuntungan, entah itu demi relasi bisnis atau mengharapkan bantuan finansial. Sebaliknya, saat kita jatuh dan tak lagi “menguntungkan”, mereka yang palsu akan otomatis tersingkir karena takut tersusahkan. Mereka yang memilih bertahan di sisil kitalah yang layak disebut keluarga sejati. Seperti sebuah ungkapan bijak berbunyi: “Family is not bound by blood, but love.” Di titik terendah inilah kita menemukan siapa saja malaikat penolong kita yang sesungguhnya.

Lebih jauh lagi, kegagalan justru sering kali membuka mata kita terhadap berjuta kesempatan baru yang sebelumnya luput dari pandangan. Mari kita tengok kisah Harland Sanders, sosok di balik resep legendaris Kentucky Fried Chicken (KFC). Sejak usia 13 tahun, Kolonel Sanders harus melakoni berbagai pekerjaan kasar demi bertahan hidup, mulai dari menjadi pelukis kereta kuda hingga mendirikan bisnis kapal feri yang berujung kebangkrutan. Kesuksesannya meresmikan ratusan gerai baru tercapai ketika usianya nyaris menyentuh 70 tahun. Dari Sanders kita belajar bahwa kesuksesan sejati tidak diukur dari seberapa cepat kita mengumpulkan kekayaan, melainkan seberapa gigih kita bangkit setiap kali hidup menghantam kita hingga hancur.

Pada akhirnya, hikmah terbesar dari sebuah kejatuhan adalah kesadaran spiritual. Saat segala sesuatu berjalan lancar berkat keringat sendiri, manusia cenderung terjebak dalam ego. Kita merasa hebat, tinggi hati, dan lupa bahwa ada campur tangan Sang Pencipta dalam setiap pencapaian. Namun, saat berada di ujung tanduk dan akal manusia tak lagi mampu menemukan jalan keluar, kita baru menyadari betapa rapuhnya diri kita. Di saat itulah kita berserah dan sering kali takjub melihat bagaimana Tuhan bekerja dengan seribu satu cara yang tak terduga untuk menyelamatkan kita dari keterpurukan.

Kehancuran bukanlah bab penutup dari buku kehidupan Anda; ia hanyalah satu paragraf kecil dari sebuah kisah epik perjalanan Anda. Bayangkan diri Anda layaknya sebuah anak panah. Untuk bisa melesat jauh dan menancap kuat pada target di depan, sebuah anak panah harus ditarik kuat-kuat ke belakang terlebih dahulu. Tetaplah tegak, temukan alasan untuk bersyukur, dan bersiaplah untuk melesat lebih jauh!

Maria Frani Ayu Andari Dias
Maria Frani Ayu Andari Diashttps://www.veritasindonesia.id/
Editor Content di Veritas Indonesia dan Dosen Ilmu Keperawatan Jiwa di Institut Kesehatan Suaka Insan. Sebagai profesional yang mengantongi sertifikasi Penulis Non Fiksi dari BNSP, ia juga aktif mengelola publikasi ilmiah sebagai Managing Editor untuk Jurnal Keperawatan Suaka Insan (SINTA 3) dan Jurnal Suaka Insan Mengabdi (SINTA 5).

Related Articles

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

spot_img

Terbaru

Populer