Tulisan berikut adalah sebuah refleksi karya P. Felix Baghi, SVD, Dosen Filsafat di IFTK Ledalero, tentang makna spiritual di balik Taman Bintang Samudra (TBS) di Pulau Bangka. Refleksi ini mengundang pembaca untuk merenungkan perjalanan iman yang tersimpan dalam setiap ruang ziarah — sebuah perspektif personal yang melengkapi pemberitaan faktual tentang TBS.
Oleh P. Felix Baghi, SVD*
Lahir dari Sebuah Kerinduan
Setiap karya besar selalu lahir dari sebuah kerinduan yang mendalam. Demikian pula Taman Bintang Samudra (TBS) di Pulau Bangka. Tempat ini berawal dari kerinduan sepasang keluarga Katolik, Bapak Eddijanto Harlijanto dan Ibu Hiliana Harlijanto, untuk menghadirkan sebuah ruang hening yang memungkinkan manusia berjumpa kembali dengan dirinya sendiri, dengan sesama, dengan alam semesta, dan pada akhirnya dengan Sang Pencipta.
Dalam percakapan spiritual bersama almarhum Bapak Uskup Mgr. Hilarius Moa Nurak, SVD, muncul usulan agar taman ini diberi nama Taman Stella Maris — Bintang Laut — sebuah gelar kuno bagi Bunda Maria dalam tradisi Gereja Katolik. Gelar tersebut melambangkan Maria sebagai bintang penuntun bagi para peziarah yang mengarungi samudra kehidupan menuju pelabuhan keselamatan.
Namun, seiring berkembangnya visi taman ini sebagai ruang kontemplasi yang terbuka bagi semua orang tanpa memandang agama, suku, maupun latar belakang budaya, nama tersebut kemudian berkembang menjadi Taman Bintang Samudra (TBS). Nama ini mengandung makna yang lebih universal: manusia adalah peziarah di tengah samudra kehidupan, dan setiap orang membutuhkan bintang yang menuntunnya menuju makna, kebenaran, dan kedamaian.
Lanskap Spiritual, Bukan Sekadar Destinasi
TBS bukan sekadar destinasi wisata. Ia adalah sebuah lanskap spiritual — sebuah ruang tempat keindahan alam, seni, iman, dan refleksi eksistensial bertemu dalam harmoni. Di sini, samudra tidak hanya dipandang sebagai bentangan air, melainkan sebagai metafora ketakterhinggaan; sementara bintang-bintang menjadi simbol harapan yang tetap bersinar di tengah kegelapan dan ketidakpastian hidup.
Kini, Taman Bintang Samudra telah diresmikan oleh Bapak Uskup Pangkalpinang dan terus bertumbuh sebagai sebuah ekosistem ziarah rohani yang mencakup berbagai titik refleksi, antara lain:
- Drop Off Lobby
- Bangunan Penerima
- Kafe
- Benah Batin — titik awal Via Dolorosa karya seniman Sunaryo
- Via Dolorosa Kecil
- Via Dolorosa Besar
- Promenade
- Pelataran Bunda Maria
- Patung Bunda Maria
- Pietà
- Plaza
- Rumah Retret
- Kapel Santo Fransiskus Asisi
- Area Parkir
Setiap Ruang, Sebuah Simbol
Setiap titik di atas dirancang bukan sekadar sebagai bangunan fisik, melainkan sebagai simbol perjalanan batin manusia. Via Dolorosa mengingatkan bahwa penderitaan dapat menjadi jalan transformasi.
Pietà menghadirkan misteri kasih yang tetap bertahan di tengah duka. Kapel Santo Fransiskus Asisi menggemakan spiritualitas persaudaraan kosmis antara manusia, alam, dan Tuhan. Sementara itu, Benah Batin mengajak setiap peziarah untuk memasuki perjalanan terdalam: perjalanan pulang menuju diri yang autentik.
Semangat Pelayanan di Balik Pembangunan
Tentu, karya sebesar ini masih membutuhkan proses panjang. Berbagai fasilitas dan infrastruktur terus dibenahi — sebuah pekerjaan yang memerlukan dedikasi, tenaga, pikiran, dan dukungan yang tidak sedikit.
Namun semangat yang menggerakkan TBS bukan pertama-tama semangat pembangunan fisik, melainkan semangat pelayanan. Sebab yang sedang dibangun sesungguhnya bukan hanya taman, melainkan ruang perjumpaan; bukan hanya destinasi, melainkan pengalaman; bukan hanya bangunan, melainkan harapan.
Di balik seluruh proses ini berdiri ketekunan dan kemurahan hati keluarga Bapak Eddijanto dan Ibu Hiliana, yang terus membangun jejaring persahabatan dan kolaborasi dengan banyak pihak.
Kerinduan mereka sederhana namun mendalam: menghadirkan sebuah tempat di mana setiap orang dapat berhenti sejenak dari hiruk-pikuk kehidupan, mendengarkan suara hati nurani, menemukan kembali arah peziarahannya, dan menyadari bahwa hidup bukan sekadar perjalanan menuju tujuan tertentu, melainkan sebuah ziarah menuju kepenuhan makna.
Undangan bagi Semua
Pada akhirnya, Taman Bintang Samudra adalah undangan terbuka bagi siapa saja. Sebab setiap manusia adalah peziarah, setiap kehidupan adalah perjalanan, dan setiap perjalanan membutuhkan cahaya yang menuntun.
Di antara langit dan samudra, di antara keheningan dan doa, TBS hadir sebagai ruang untuk menemukan kembali cahaya itu.
*Dosen Filsafat IFTK Ledalero
Veritas Indonesia berkomitmen untuk terus menghadirkan tulisan-tulisan yang meneguhkan iman dan menyuarakan kebenaran. Kami mengundang Anda, para pembaca setia, untuk turut mendukung operasional pelayanan ini melalui donasi ke rekening BCA 6440054739 a.n. Lucia Margaretha Audrey Niron (Bendahara Veritas Indonesia). Agar donasi Anda dapat kami terima dan catat dengan baik, mohon kirimkan bukti transfer kepada Editor Konten kami, Maria Frani Ayu, di nomor 081230038196. Sedikit dari Anda adalah wujud nyata kebersamaan dalam pelayanan ini.








