web page hit counter
back to top
Saturday, February 28, 2026

Seni Mengalir: Merangkul Ketidakpastian Tanpa Kehilangan Jati Diri

Di tengah dunia yang serba tak pasti dan penuh tekanan, mungkinkah rahasia terbesar untuk bertahan justru terletak pada kemampuan kita untuk menjadi seluwes dan setenang air?


Oleh: Albert Santoso

Air kerap kali dipandang sebelah mata hanya karena wujud fisiknya yang tak solid dan senantiasa berubah. Sebagai elemen esensial, ia sering diremehkan karena terlihat lemah tanpa bentuk yang pasti. Padahal, di balik kelembutannya tersebut, tersimpan kekuatan mahadahsyat yang tak kasatmata; kekuatan yang mampu menghidupi, memelihara, sekaligus menyucikan segala yang disentuhnya.

Dalam mengarungi kehidupan, manusia memang dituntut untuk memiliki arah, tujuan, dan perencanaan yang matang agar eksistensinya bermakna. Rencana-rencana inilah yang menjadi kompas pendorong kemajuan. Namun, realitas tak selalu berjalan selaras dengan ekspektasi. Pertanyaannya: ketika rencana melenceng jauh dari rute yang telah kita tetapkan, langkah apa yang seharusnya kita ambil?

Di sinilah relevansi kearifan lokal berbunyi, “Di mana bumi dipijak, di situ langit dijunjung,” menemukan tempatnya. Ketika dihadapkan pada situasi di luar kendali, adaptasi adalah kunci utama untuk bertahan. Layaknya air yang selalu menyesuaikan diri dengan wadahnya, kita diajak untuk mengamati dan mempelajari medan yang baru, lalu merumuskan langkah taktis selanjutnya. Ini adalah seni mengikuti arus kehidupan dengan kesadaran penuh.

Meski demikian, mengikuti arus bukanlah padanan dari sikap pasrah atau apatis. Arus zaman membawa berbagai rupa, baik maupun buruk. Oleh karena itu, kita senantiasa membutuhkan filter prinsip untuk memilahnya. Jadilah seperti air yang jernih; luwes beradaptasi dengan tuntutan dan perubahan zaman, namun tetap kukuh menjaga kemurnian diri sehingga mampu menjernihkan “kekeruhan” di lingkungan sekitar.

Lebih jauh, filosofi air juga mengajarkan kecerdasan dalam membaca situasi serta kegigihan yang pantang menyerah. Perhatikan bagaimana air merespons dinding yang merintanginya. Ia tak lantas berhenti dan mati, melainkan mencari celah sekecil apa pun untuk merembes dan kembali menemukan jalannya. Ilustrasi ini adalah manifestasi dari resiliensi tingkat tinggi yang sepatutnya kita miliki saat menghadapi benturan tantangan.

Pada akhirnya, hidup layaknya air jernih yang mengalir adalah sebuah pilihan sikap. Lembut namun penuh tenaga, fleksibel namun teguh pada hakikat, dan senantiasa membawa manfaat ke mana pun ia bermuara, melintasi berbagai batasan zaman.

Maria Frani Ayu Andari Dias
Maria Frani Ayu Andari Diashttps://www.veritasindonesia.id/
Editor Content di Veritas Indonesia dan Dosen Ilmu Keperawatan Jiwa di Institut Kesehatan Suaka Insan. Sebagai profesional yang mengantongi sertifikasi Penulis Non Fiksi dari BNSP, ia juga aktif mengelola publikasi ilmiah sebagai Managing Editor untuk Jurnal Keperawatan Suaka Insan (SINTA 3) dan Jurnal Suaka Insan Mengabdi (SINTA 5).

Related Articles

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

spot_img

Terbaru

Populer