Pernahkah Anda merasa begitu gentar menghadapi riuh dan tegangnya tantangan hidup, hingga lupa bahwa ada Sang Bapa yang selalu menanti serta menjaga Anda di ujung jalan?
Oleh: Albert Santoso
Ia berkata kepada mereka: “Karena kamu kurang percaya. Sebab Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya sekiranya kamu mempunyai iman sebesar biji sesawi saja kamu dapat berkata kepada gunung ini: Pindah dari tempat ini ke sana, -maka gunung ini akan pindah, dan takkan ada yang mustahil bagimu.” (Matius 17:20)
Malam itu, arena sirkus dipenuhi riuh rendah suara penonton yang memekakkan telinga. Ketegangan memuncak saat seorang bocah laki-laki yang baru berusia enam tahun bersiap menyeberangi seutas tali di ketinggian dua setengah meter. Bukan sekadar berjalan, ia meniti tali tipis itu menggunakan sepeda beroda satu, hanya berbekal sebatang tongkat panjang sebagai penyeimbang.
Di bawah panggung, reaksi penonton terbelah. Banyak yang berteriak histeris, menutup mata karena ngeri membayangkan anak itu tergelincir dan terhempas. Namun, tak sedikit pula yang bersorak memberikan semangat agar ia tiba di seberang dengan selamat.
Anehnya, segala kepanikan dan riuh sorak itu seolah tak terdengar oleh sang anak. Wajahnya tetap tenang. Matanya fokus ke depan. Dengan ritme yang pasti, ia mengayuh pedal perlahan hingga akhirnya berhasil menyentuh ujung tali tanpa cela sedikit pun. Kelegaan seketika pecah. Tepuk tangan bergemuruh menyambut keberanian dan kepiawaiannya.
Takjub dengan aksi tersebut, sang pembawa acara segera memanggil anak itu kembali ke tengah panggung.
“Halo, Jagoan!” sapa sang pembawa acara takjub. “Usiamu baru enam tahun, tapi atraksimu sungguh luar biasa. Waktu berada di atas sana tadi, apakah kamu merasa takut atau grogi?”
“Tidak,” jawab anak itu tenang.
Pembawa acara itu mengerutkan dahi, penasaran. “Riuh sekali di bawah tadi. Bagaimana mungkin kamu sama sekali tidak takut?”
Bocah itu tersenyum tipis, lalu menunjuk ke sudut tribun di ujung tali yang baru saja ia seberangi. “Karena saya tahu, Ayah saya sedang berdiri menunggu saya di ujung sana.”
Sering kali, kehidupan yang kita jalani tak ubahnya seperti berjalan di atas tali sirkus yang tipis dan menakutkan. Ada banyak tekanan, kekhawatiran, dan “suara-suara penonton” di sekeliling kita yang meneriakkan ketakutan atau memprediksi kegagalan kita. Hal-hal inilah yang sering kali membuat kita kehilangan keberanian untuk melangkah dan melakukan perkara-perkara besar yang Tuhan kehendaki.
Namun, dari kesederhanaan seorang anak kecil, kita belajar tentang hakikat iman yang sejati. Ketenangan sejati tidak datang dari ketiadaan bahaya, melainkan dari pengetahuan tentang siapa yang menanti kita di ujung jalan. Sama seperti ayah dari anak tersebut, Tuhan tidak pernah mengalihkan pandangan-Nya dari kita sedetik pun. Ia terus mengawasi, menjaga, dan ketika kita goyah, tangan-Nya selalu siap menopang agar kita tidak sampai jatuh tergeletak (Mazmur 37:24).
Tuhan memahami kerapuhan kita, itulah sebabnya Ia tidak menuntut kita untuk memiliki iman yang sekokoh gunung. Ia hanya meminta iman sebesar biji sesawi—iman yang kecil, namun sepenuhnya berfokus dan tertuju pada Sang Bapa.
Di tengah dunia yang penuh hiruk-pikuk ini, tetaplah mengayuh langkahmu. Kesetiaan pada perkara-perkara kecil dan keyakinan akan penyertaan Tuhan sudah lebih dari cukup untuk membuat hidup kita dipakai dengan luar biasa. Tidak peduli seberapa kecil imanmu saat ini, selama matamu tertuju pada Bapa yang menunggumu di ujung sana, takkan ada yang mustahil bagimu. Amin.
Veritas Indonesia berkomitmen untuk terus menghadirkan tulisan-tulisan yang meneguhkan iman dan menyuarakan kebenaran. Kami mengundang Anda, para pembaca setia, untuk turut mendukung operasional pelayanan ini melalui donasi ke rekening BCA 6440054739 a.n. Lucia Margaretha Audrey Niron (Bendahara Veritas Indonesia). Agar donasi Anda dapat kami terima dan catat dengan baik, mohon kirimkan bukti transfer kepada Editor Konten kami, Maria Frani Ayu, di nomor 081230038196. Sedikit dari Anda adalah wujud nyata kebersamaan dalam pelayanan ini.








